Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
213. Serasa Permen Yupi


__ADS_3

"Apa yang sedang kamu pikirin?" tanya Arga saat melihat aku terdiam saja.


Aku menggelengkan kepala memilih untuk memutar tubuhku ke arah lain memunggunginya. Arga memelukku dari belakang. Dia mencium tengkuk leherku dengan lembut.


"Kapan ya aku bisa hamil punya anak?" tanyaku kepadanya.


"Kenapa kamu masih memikirkan itu? Aku saja sudah lupa dan tidak mengharapkannya."


Aku melepaskan pelukan tangan Arga dari perutku. Kemudian memutar tubuhku hingga kembali menghadap ke arahnya.


"Jadi, kamu tidak mengharapkan anak lagi?" Aku bertanya kepadanya.

__ADS_1


"Bukan. Bukan maksudku seperti itu! Aku juga ingin bukankah kita sedang berusaha keras?" Dia menatap kedalaman mataku. Satu tangan yang mengelus pipiku dengan lembut.


"Siapa yang tidak inginkan anak? Kalau bisa aku juga ingin satu lagi, dua, tiga, sebanyak apapun boleh. Tapi aku juga tidak mau memaksakan diri kamu untuk bisa seperti apa yang aku mau. Untuk apa jika aku bahagia tapi kamu menderita?" tanya laki-laki itu lagi sambil menatapku, tangannya tidak berhenti mengelus pipiku. Dia tersenyum dan mendekatkan dirinya mencium keningku dengan lembut.


"Sudah mulai sekarang jangan pikirkan itu lagi. Kita harus pasrah kepada takdir, jika memang ini yang terbaik kenapa tidak? Anak memang titipan, tapi jika Tuhan masih belum berpendapat untuk percaya dengan kita. kita mau bagaimana?" tanyanya lagi dengan tersenyum.


Aku semakin tidak bisa menahan diriku. Memeluknya dengan erat dan menempelkan kepalaku di dadanya. Aku terisak dengan kuat, tidak ingin melepaskan pelukan ini. Hangat dan nyaman.


Arga mengelus rambutku, dia tidak memintaku untuk berhenti menangis. Dia juga tidak berbicara apa-apa, hanya tepukan kecil pada bundaku yang membuat aku merasa nyaman dengannya.


Aku hanya seorang wanita yang tidak sempurna, tidak tahu kapan aku akan bisa memberikan kebahagiaan untuk keluarga ini. Rasa-rasanya jika di luaran sana aku bertemu dengan orang lain yang sedang membawa putra atau putrinya yang masih bayi, aku juga ingin memilikinya. Jujur saja aku iri, aku juga ingin seperti mereka.

__ADS_1


Aku masih menangis dengan memeluknya erat. Tidak peduli dengan pakaian dia yang basah karena ulahku. Usapan demi usapan lembut masih terasa pada rambut hingga akhirnya aku menjadi mengantuk dan tidak sadar lagi akan diri ini yang sudah lelah.


Sampai menjelang siang aku baru terbangun. Aku tidak sadar jika tadi menangis sampai tertidur diperlukan Arga. Suamiku ini masih setia dengan posisinya yang seperti tadi, tidak bergerak sama sekali.


Dia juga sama tertidur dan kini belum terbangun. Aku mengusap wajahnya yang tampan, kulitnya lebih bening daripada aku, bulu matanya juga lebih panjang sampai-sampai aku selalu tergoda untuk ingin menyentuhnya. Seperti saat ini dia mengerjapkan kelopak matanya saat aku menyentuh bulu matanya yang lentik.


Aku merasa senang melakukan hal itu. Begitu juga dengan memainkan ujung hidungnya, menusuk-nusuknya dengan ujung jari telunjukku. Semua yang ada di sana sangat aku suka, bahkan bibirnya yang merah pun, yang tanpa terkena nikotin selalu membuatku ingin menciumnya lagi dan lagi.


Aku beranjak lebih dekat kepada wajahnya, menopang kepalaku di atas satu tangan, Menatapnya dengan tanpa berkedip. Rasanya ingin sekali mendekat dan mencium bibir yang merah itu. Kenapa rasanya sangat menggoda sekali? Ingin mencium dan menggigitnya keras-keras. Sehingga tanpa sadar aku telah melakukan hal itu, membuat dia terkejut dan menjerit karena rasa sakit yang aku perbuat barusan.


"Ayu apa yang kamu lakukan?" Dia bertanya sambil memegangi bibirnya yang sakit. Aku hanya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Tidak tahu kok rasanya lihat bibir kamu itu kayak permen yupi rasa strawberry ya," ucapku dengan rasa tanpa bersalah.


__ADS_2