Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
70. Hilman Yang Kalap


__ADS_3

Kembali pada Ayu.


"Akh!!" Aku terkejut dan berteriak saat merasakan seseorang menarik tanganku.


"Ayu!" Suara besar itu sangat aku kenal, hingga aku refleks menolehkan kepala kepadanya.


"Ada apa kamu kesini, Mas?!" tanyaku seraya berusaha melepaskan tanganku darinya. Dia terlihat sangat marah menatapku. Tangan besar itu tidak mau melepaskan aku begitu saja.


"Kamu sudah dapat buku nikah itu?" tanya dia padaku. Aku mengerti apa yang dia maksud, buku nikah.


"Iya, aku sudah dapat. Kenapa?" tanyaku dengan nada tegas.


"Tapi percuma, Mas kalau kamu mau minta buku nikah itu balik. Buku itu gak akan pernah bisa kamu dapatkan lagi!" seruku dengan kesal.


"Lepas! Sakit!" Aku berontak, tapi dia tidak melonggarkan pegangannya sama sekali.


"Kamu kemanakan buku itu? Aku minta kamu balikin buku itu sekarang juga. Aku mohon, Ayu. Aku gak mau pisah sama kamu," ujar Mas Hilman kini dengan nada yang memelas di akhir kalimatnya.


Aku tertawa mendengar penuturannya barusan. Tidak mau pisah?


Mas Hilman menatapku dengan terlihat bingung.


"Ayu aku mohon. Jangan tinggalkan aku. Aku gak mau kamu minta cerai dari aku," lirihnya. Wajahnya kini terlihat sedih dan ketakutan.


Dengan tangan yang lain aku melepas paksa tangan besar itu.


"Aku gak minta cerai dari kamu, tapi aku akan urus perceraianku sendiri! Percuma aku minta cerai juga dari kamu, Mas. Kamu tetap gak mau lepaskan aku. Kamu gak sadar kalau selama ini kamu gk pernah sungguh-sungguh sama aku? Ucapan kamu itu bohong! Ucapan kamu itu hanya untuk menyenangkan aku saja!" seruku lagi.

__ADS_1


Mas Hilman tetap tidak mau melepaskan tangannya dariku.


"Enggak, aku sudah bilang kan sama kamu kalau aku akan ceraikan Hana setelah anak itu lahir, tapi kamu gak mau. Kurang apa aku sama kamu, Yu? Aku beneran bicara seperti itu. Aku ingin tinggal dengan kamu lagi, Yu!"


"Mas, sadar! Kamu masih mau dengan aku, tapi aku yang sudah gak mau sama kamu. Jangan rendahkan diri kamu sendiri dengan memohon seperti ini! Kamu itu laki-laki! kamu itu harus bertanggung jawab dengan istri dan anak kamu!" teriakku dengan keras.


"Kamu istriku, Yu!"


"Sebentar lagi bukan, Mas!"


"Ayu ...."


"Toloong!! Sintaa!!" teriakku pada Sinta, atau siapapun yang mendengar. Sial sekali tidak ada satupun yang lewat disini. Jalanan panas membuat orang-orang malas untuk keluar dari rumah.


"Ayu, jangan teriak!"


"Ayu. Kamu gak perlu berteriak, kita harus bicarakan ini baik-baik, Yu! Aku cuma ing ... Awww!" Dia berteriak kesakitan saat dengan sekuat tenaga aku menjejakkan kaki ini pada kakinya. Refleks Mas Hilman melepaskan tanganku dan memegangi kakinya yang sakit.


"Ayu!" Dia berteriak saat aku masuk ke dalam pagar.


"Astaghfirullahaladzim, Mbak Ayu!" teriak Sinta yang baru keluar dari dalam rumah. Sinta berlari dengan panik mendekat ke arahku setelah mengambil sapu lidi yang biasa ada di samping rumah.


Baru saja aku masuk ke dalam pagar, tangan ini tertarik kembali hingga aku hampir terjatuh. Plastik belanjaan yang aku pegang sampai terlempar ke tanah. Mas Hilman menarikku kembali ke luar dari pagar.


"Kamu sudah bawa buku itu ke pengadilan agama? Kalau begitu ayo kita pergi kesana untuk membatalkan perceraian kita!" ucap Mas Hilman seraya menarikku terus menuju mobilnya. Tenagaku tidak sebanding dengan tenaganya. Tubuh ini terus dia tarik tanpa ampun.


"Mas lepaskan aku! Mas Hilman, aku gak mau! Tolong, Sinta!" Aku berteriak kembali meminta dilepaskan, tapi pria ini tidak mendengarkan.

__ADS_1


Sinta dengan cepat berlari dan memukul bagian belakang Mas Hilman dengan menggunakan sapu lidi. Mas Hilman tersentak dengan perlakuan yang baru saja dia dapatkan. Dia dengan cepat berbalik sambil memegangi kepalanya yang sakit dengan menggunakan sebelah tangan yang lainnya. Sedangkan, aku tidak ia lepaskan sama sekali.


"Lepasin Mbak Ayu, Mas Hilman! Jangan kasar terhadap perempuan! Kalau Mas Hilman gak mau lepasin Mbak Ayu aku akan pukul Mas Hilman lagi!" Sinta berteriak mencoba untuk mengancam pria ini sapu lidi dia angkat tinggi-tinggi. Akan tetapi, Mas Hilman tidak menggubrisnya sama sekali.


Sapu itu Sinta layangkan dengan kuat, tapi Mas Hilman bisa menepisnya dengan satu tangan. Dengan gerakan cepat Mas Hilman mendorong Sinta hingga gadis itu terjengkang dengan kedua siku menopangnya beradu dengan lantai trotoar.


"Sinta! Mas! Apa yang kamu lakukan!" teriakku lagi terhadap pria ini. Aku melayangkan beberapa pukulanku pada dadanya, tapi dia menahan tangan ini. Kedua tanganku kini berada di dalam genggamannya.


"Aku hanya ingin milikku kembali!" Dia lagi-lagi menarikku ke arah mobilnya berada, berjalan dengan cepat meninggalkan Sinta yang kini kesakitan.


"Mas, jangan gila kamu! Aku mau pulang! Lepaskan aku!" teriakku lagi. Tanganku sudah sakit memukuli punggungnya, tapi pria itu seakan tidak peduli dengan apa yang aku lakukan, masih saja menarikku ke arah mobilnya.


"Toloong!" teriakku. Sinta bangkit dengan susah payah dan mengejar kami.


Aku takut. Apa yang akan Mas Hilman lakukan?


Mas Hilman terus saja berjalan dengan langkah yang lebar membuat aku berjalan dengan terseok-seok. Tiba-tiba sebuah tangan yang besar terlihat menarik bahu Mas Hilman dan kemudian ....


"Akh!!!"


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2