Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
192. Hukuman atau Panggil Sayang?


__ADS_3

Gara mengerjapkan matanya, memiringkan kepalanya, seperti berpikir, tapi satu detik kemudian dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Um ... Semoga, di dalam sini akan ada dedek bayi," ucap anak itu mendekat lalu mengelus perutku dengan lembut. Rasanya bahagia sekali mendengar doanya seperti itu, tapi sekaligus juga sedih, entah apakah akan terijabah atau tidak, tapi aku hanya bisa meng-aamiini doa anak itu.


Aku tersenyum, mendekat dan melabuhkan kecupan lembut di keningnya.


"Aamiin. Semoga, ya," ucapku. Entah kenapa, rasanya di hati ini penuh harap juga. Ya, aku tidak boleh menyerah, bukankah memang ini belum jelas adanya? Selama ini Mas Hil ... ehm, mantan suamiku tidak pernah ikut andil dalam usahaku. Bolehkah jika aku menganggap bahwa diri ini sehat?


Aku tersadar ketika Gara mengajukan satu buku cerita yang lain padaku. "Baca satu lagi, please," ucap anak itu dengan senyum meringis di bibirnya.


Aku melirik jam yang ada di dinding kamar itu. Angkanya sudah mendekati sembilan malam.


"No! Ini sudah malam. Waktunya anak jagoan tidur," ucapku seraya menggerakkan jari telunjuk di depan wajahnya. Gara memanyunkan bibirnya. Terlihat sekali dia ingin protes, tapi tidak juga membuka mulutnya untuk bicara.


"Besok Gara sekolah, kan? Sekarang tidur cepat, biar besok gak kesiangan," ucapku padanya.


Selimut aku tarik hingga menutupi hingga ke dadanya. Terlihat sekali dengan wajah terpaksa dia mengikuti ucapanku.


"Anak pintar," ucapku padanya. Sekali lagi mencium keningnya dengan lembut. Gara tidur miring menghadap ke arahku. Dia memelukku dengan erat, seakan takut jika aku meninggalkan dia lagi seperti tadi siang.


"Doa dulu sebelum tidur," titahku.


Gara menyatukan tangannya, menadahkan tangan, doa hendak tidur dia lantunkan dengan sangat lancar sekali.


"Pintar, anak Mama yang soleh!" Tak henti aku mengagumi anak ini, selain tampan, Gara juga sangat pintar sekali.


"Makasih, Mama sudah mau jadi Mama Garrlla," ucap anak itu. Jujur saja aku terharu mendengarnya. Meski Gara tidak terlahir dari rahimku, bukankah ini juga suatu anugerah bisa dianggap ibu oleh seorang anak?


Gara telah memejamkan matanya. Napasnya terdengar sangat halus sekali, berhembus dengan sangat teratur. Ku kecup pipinya beberapa kali, selain gemas juga ini suatu penghargaan karena dia telah tulus menganggapku sebagai ibunya.


Tanpa terasa, buliran air mata jatuh di pipiku. Begitu bahagianya aku hari ini. Terima kasih, sudah anggap aku ibumu," ucapku di dalam hati.


Pintu kamar Gara terbuka, Arga masuk ke dalam kamar dan berjalan dengan langkah yang sangat pelan sekali.


Aku menaikkan selimut Gara hingga ke lehernya.


"Eh, aku kira kamu juga ikutan tidur," ucapnya.


"Kenapa? Ada apa?" tanyaku setengah berbisik.


Arga terlihat salah tingkah, tersenyum dengan sambil menggaruk belakang telinganya.


"Ya ... em ... gak apa-apa sih, aku cuma mau nyusulin kamu aja," ucapnya dengan cengengesan.


"Nyusulin ada apa? Kamu lapar?" tanyaku seraya bangkit dengan perlahan. Arga menggelengkan kepalanya.


"Mau aku buatkan kopi?" tanyaku bingung. Mungkin saja Gara akan bekerja, karena besok katanya dia akan pergi ke kantor sebelum kami pergi ke dokter.


"Bukan. Aku mau nyusulin kamu. Aku udah ngantuk," ucapnya lagi. Dia tertawa dengan malu.


Ya ampun, mau tidur saja harus menyusulku ke sini.


"Yuk tidur," ucapku. Ku berikan tanganku padanya untuk dia gandeng. Arga tersenyum dengan senang, dia menyambut tanganku dan menggandengku berjalan berdua keluar dari kamar ini.


"Eh, sebentar!" serunya menghentikan langkah, aku pun sampai terhenti karenanya.


"Ada yang lupa," ucapnya, dia melepaskan tanganku dan pergi ke dekat Gara, mencium kening anak itu dengan senyum bahagia.


Arga kembali lagi ke dekatku.

__ADS_1


"Hampir saja lupa, hehe. Sekarang ada kamu jadi yang aku ingat itu kamu," ucapnya malu. Persis seperti anak ABG yang baru saja jatuh cinta.


Aku menggelengkan kepala. "Anak sendiri di lupakan. Ckckck."


Arga tertawa malu. "Wajar lah, kan aku ini adalah pria kesepian yang sekarang punya istri, jadi ya wajar kalau sekarang yang aku ingat itu kamu sayang," ucapnya sambil menjawil daguku.


Ah, dia ini. Gombalnya keterlaluan!


Arga menutup pintu kamar Gara dengan sangat pelan sekali, takut jika anak itu terbangun.


"Sekarang ... let's go kita yang istirahat!" serunya, tidak aku sangka jika dia akan menunduk dan menggendongku ala bridal. Aku sampai terkejut dan sedikit berteriak karena ulahnya, segera menutup mulutku dengan satu tangan. Sadar jika berteriak bisa jadi aklan membangunkan banyak orang.


"Hei turunkan aku. Aku berat," pintaku, sedikit malu sebenarnya dengan dia meski di dalam hati ini rasanya sangat bahagia sekali di perlakukan seperti ini olehnya.


"Sudah lah, diam. Kita kan pengantin baru, jadi harus romantis, dong." Alisnya dia gerakkan naik dan turun dengan senyum nakal di wajahnya.


Aku mengalungkan kedua tanganku. Dengan sangat hati-hati, Arga menuruni anak tangga satu persatu.


"Jadi, kalau kita sudah bukan pengantin baru kamu gak akan romantis?" tanyaku. Iseng aku tanya seperti itu.


"Ya enggak lah. Mau baru, atau lama, aku akan selalu romantis sama kamu. Bilang sama aku, kamu mau aku sediakan apa? Bunga setiap pagi? Coklat? Atau apa?" tanyanya.


"Kamu mau bikin aku gendut?" Aku cemberut. Bukan itu yang aku mau.


"Aku gak mau bunga, aku gak mau coklat, aku gak mau apapun. Aku mau suamiku mengucapkan kata cinta setiap pagi, setiap siang, sore, dan malam," bisikku di dekat telinganya. Arga menatapku, terdiam, lalu dia tersenyum dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia.


"Yakin hanya itu?" tanya Arga. Aku mengangguk. "Tidak mau berlian? Deposito?" tanyanya lagi.


"Aku wanita, realistis, tapi lebih dari itu, aku ingin kamu terima aku apa adanya," jawabku. Arga tersenyum dengan lebar, dia mendekatkan wajahnya dan mencium ujung hidungku dengan cepat.


"Kamu memang beda. Dan aku sangat senang sekali," ucapnya. Aku juga senang, sehingga menyandarkan kepalaku pada bahunya.


"Oh, ya. Besok aku akan ke kantor dulu pagi sebelum kita ke rumah sakit."


"Ya, kamu sudah bilang tadi."


"Iya, sekalian memeriksakan kepala kamu, kan?" tanyanya.


"Iya, Sayang. Dokter bilang besok mau dilihat lagi, setidaknya lihat apakah ini sudah membaik atau belum."


Arga naik ke atas kasur, menyelimuti tubuh kami berdua.


"Coba ulangi tadi apa?"


"Dokter bilang besok suruh periksa, lihat lukanya seperti apa."


"Bukan yang itu. Coba ulangi yang tadi kamu bilang!"


Eh?


"Apa? Yang mana?" tanyaku bingung.


"Kamu bilang tadi apa?" tanya Arga sekali lagi, dia menopang kepalanya dengan telapak tangan sehingga aku sedikit mendongak melihatnya.


"Yang tadi."


"Apa sih?" Aku masih bingung, bertanya, tapi dia tidak menjawab, hanya mesam mesem tidak jelas.


"Kamu panggil aku sayang. Dan aku sangat senang sekali," ucapnya.

__ADS_1


Eh? Iya kah.


Apa aku tadi memanggilnya sayang? Kok aku lupa.


Arga tertawa kecil, membuat aku menolehkan kepala kepadanya.


"Kamu lupa, hem?" tawanya masih terdengar renyah.


"Bagus, mulai sekarang jangan hanya panggil aku nama. Panggil aku Papa di depan Gara dan panggil aku 'sayang' jika kita berdua," ucapnya.


"Aku memang melakukan itu kan tadi di depan Gara?" tanyaku, seingatku aku selalu memanggilnya 'papa' di depan anak itu.


"Yup! Tapi saat bersama denganku, kamu masih panggil aku nama. Gak romantis sekali, sih!" sungutnya.


Kali ini aku yang tersenyum. "Hehe, sudah kebiasaan."


Arga mencubit hidungku dengan lembut. "Jangan dibiasakan. Kalau kamu sampai lupa dan panggil aku nama, aku akan hukum kamu sampai kamu jera," ucapnya.


"Ih, hukum apa? Kenapa galak sekali sampai kena hukum?" tanyaku dengan sebal.


"Satu kali aku dengar kamu panggil aku nama, aku akan cium kamu saat itu juga," ucapnya. "Meski di depan umum. Aku tidak peduli dengan hal itu," bisiknya di akhir kalimat. Aku menelan salivaku dengan susah payah.


Kejam. Dasar! Bukankah itu modus?


"Apa kamu mau? Aku gak peduli meski ada Ibu, ada Papa, ada Mama, atau Gara sekali pun. Aku akan tegas sama kamu," ucapnya.


Aku sedikit menjauh dari dia. Takut dengan senyumanya yang mengerikan seperti itu.


"Jangan keterlaluan! Awas saja kalau kamu sampai berbuat nekat seperti itu!" tunjukku di depan hidungnya. Arga menahan jari telunjukku dan mencium ujungnya.


"Gak keterlaluan. Itu cuma supaya kamu ingat dan selalu hati-hati dan tidak melakukan kesalahan," ucapnya.


Terbayang olehku, aku yang sudah terbiasa memanggil namanya kali ini harus berhati-hati. Eh, tapi apakah dia akan berani melakukan itu di depan orang lain?


"Sudah tidur. Jangan melamun. Ini sudah malam," ucapnya menarikku ke dalam dunia nyata kembali.


Arga menepuk lengannya. Aku tahu apa artinya itu, dia ingin aku tidur di atas lengannya.


Aku mendekat dan memeluknya, kami sudah tidak canggung lagi dengan kedekatan ini. Hanya saja ya untuk melakukan hal itu ... rasanya masih agak malu juga. Hehe.


"Sayang," panggilnya saat aku baru saja memejamkan mata.


"Hem, apa?" tanyaku.


"Aku ada satu rencana. Kamu kira-kira mau apa tidak?" tanyanya.


Aku menatap wajahnya, dia tidak melihat ke arahku, tapi melihat ke arah lain.


"Rencana apa? Kenapa kamu harus tanya pendapatku?" tanyaku bingung.


Arga tersenyum, kali ini dia tersenyum.


"Honeymoon kita. Kamu mau pergi kemana?"


Eh, aku kira dia mau tanya apa.


"Terserah kamu saja, tapi aku gak mau terlalu jauh ya. Kasihan Gara kalau melakukan perjalanan jauh."


Arga mengerutkan keningnya. Bibirnya dia manyunkan sedikit. "Justru itu yang mau aku minta persetujuan kamu."

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala. "Aku gak setuju. Meski kita sedang honeymoon, tapi meninggalkan Gara di rumah, aku pasti kepikiran juga."


__ADS_2