
"Alhamdulillah. Al-alhamdulillah, Yu," ucap Arga dengan nada suara yang bergetar. Aku mengalihkan tatapanku dari tespek yang ada di tangan, melihat Arga yang kini sudah basah matanya. Dia tidak henti menatap ke arah tespek dan mengambilnya dengan perlahan. Tangannya pun sama bergetar, tanpa merasa jijik dengan benda yang sedang dia pegang.
"Kita ... kita akan punya bayi?" tanya dia kepadaku. Aku masih terdiam tidak percaya, tidak menjawab pertanyaannya. selama tujuh tahun kabar seperti inilah yang aku tunggu, tapi kenapa selama ini aku tidak mendapatkannya dengan Mas Hilman? Aku tidak mandul! Benar yang aku pikirkan aku adalah wanita yang normal. Tapi kenapa ... apa berarti ....
"Mama, Papa. Ada apa?" Suara Gara terdengar membuat aku keluar dari pemikiranku. Aku melihat padanya, wajahnya menatap kami bergantian dengan bingung.
Aku berjongkok di depan Gara, memeluknya dengan sangat senang. Akhirnya dia bisa menjadi kakak. Sesuatu yang seringkali dia tanyakan kepada kami dan juga dia selipkan doa di setiap harinya.
Tidak kuat aku menahan tangisku sehingga membarasah di seragam sekolahnya.
"Mama kenapa?" tanya Gara sambil membalas pelukanku.
"Papa, Mama kenapa?" Kali ini dia bertanya kepada Arga. Tidak aku dengar suara ayahnya itu menjawab, tapi dari sudut mata aku melihat harga yang kini bersimpuh dengan lututnya di lantai. Dia memeluk kami berdua.
"Gara akan punya adik," ucapnya dengan suara di sela tangisannya.
"Punya adik? Beneran?" tanya Gara dengan berseru.
"Iya, benar."
__ADS_1
Arga melepaskan pelukannya, begitu juga denganku. Kami menatap Gara yang kini berwajah sangat bahagia. Dia tersenyum senang dan kemudian melompat dengan riangnya.
"Yeaaa! Gara akan punya adik! Mbak Sus, Gara akan punya adik!" seru anak itu berteriak kepada asisten kami. Mbak Sus mengganggukkan kepalanya seraya tersenyum senang. Dia mengusap pipinya yang basah.
"Alhamdulillah Mas Gara akan menjadi kakak. Selamat ya." ucapnya kepada putraku.
"Selamat ya, Bu, Pak. Selamat akan mendapatkan momongan," ucap wanita itu lagi dengan rasa haru di wajahnya.
"Ayo kita ke rumah sakit! Kita harus kabarkan ini sama dokter," ucap Arga.
"Eh, berkas. Siapkan catatan ke dokter. Sebentar."
"Mbak Sus, tolong antarkan Ayu ke mobil, saya ambil berkas dulu," ucap Arga lalu berlari meninggalkan kami di ambang pintu. Dia berlari ke arah kamar, tak lama kemudian dia.kembali lagi dengan napas yang tersengal.
"Ada di lemari bagian bawah, aku simpan di bawah tumpukan pakaian," ucapku sambil melangkah. Akan tetapi, Arga menghentikan langkah kakiku dengan cepat.
"Kamu ke mobil saja. Jangan capek-capek. Mbak Sus, tolong antarkan istri saya dengan baik dan hati-hati ke dalam mobil," Pinta Arga lagi pada Mbak Sus.
"Baik, Pak!" Kepala Mbak Sus mengangguk, dia menggerakkan tangannya menyuruhku untuk ke mobil, sementara Arga kulihat dia kembali berlari ke dalam kamar.
__ADS_1
"Mari, Mbak. Hati-hati," ucap Mbak Sus sambil mempersilahkan aku menuju mobil. Wajahnya terlihat sangat khawatir terhadap ku.
"Eh, Mbak Sus ini kenapa?" tanyaku sambil melangkah dengan diikuti oleh Mbak Sus dari samping. Aku merasa seperti seorang nenek tua yang sedang di perhatikan langkah kakinya oleh pengasuhnya.
"Saya hanya menjalankan perintah. Menjaga Mbak Ayu supaya tidak terjadi apa-apa," ucap Mbak Sus dengan tidak mengalihkan tatapannya dari langkah kakiku.
"Sudah, Mbak. Jangan gitu ah, saya geli lihatnya!" ucapku. Sikap Mbak Sus sangat siap siaga, kedua tangannya seperti akan menangkap anak bayi yang baru belajar berjalan.
"Hati-hati saja, Bu. Ini saya lakukan supaya tidak terjadi apa-apa sama Bu Ayu," ucap wanita itu lagi. Aku menggelengkan kepala dengan tak habis pikir. Sepertinya ini sangat berlebihan, menggiringku sehingga sampai di mobil.
Arga sudah kembali dari dalam rumah dan membawa berkas kesehatan milik kami berdua. Dokter bilang selalu kabari atau datang langsung ke rumah sakit jika ada suatu hal terjadi kepada kamu.
Dia berlari dan menuju kursi pengendara. Berkas yang sudah dia ambil dia simpan di kursi belakangnya yang kosong
"Kita akan ke mana, Ma?" tanya Gara.
"Ke rumah sakit," jawab Arga.
"Rumah sakit? Memang siapa yang sakit?"
__ADS_1
"Mama kan sedang mengandung, jadi untuk pastikan dedek bayinya sehat, kita ke dokter ya," ucap Arga pada Gara.
"Ooh," ucaonya dengan nada yang panjang.