Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
259. Pertemuan Arga dan Hilman


__ADS_3

Hilman


Aku baru saja sampai di parkiran mall saat seseorang mendekat dan bicara bahwa ada laki-laki yang menungguku. Sedikit takut jika laki-laki itu adalah dua orang suruhan rentenir yang kemarin menagih aku disini dan membuat wajahku babak belur sehingga mendapatkan beberapa jahitan di kening.


Aku terdiam aku di dekat motorku belum juga berjalan dan menemui laki-laki itu. Bagaimana jika Arga berbohong dan tidak membayarkan uang tersebut? Apakah aku harus kabur dari sini? Aku takut jika nyawaku tidak tertolong siapa yang akan menjaga Vita dan Ibu di rumah? Mereka tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa diandalkan.


"Itu loh Mas, tadi dia pakai mobil saya lihat," ucapnya lagi memberi informasi walaupun dia tidak jelas karena mobil banyak di luaran sana. Siapa dia?


"Kira-kira orangnya sangar nggak?"


"Nggak sangar kok. Malah seperti artis Cina, matanya sipit," ucapnya lagi sedikit menerangkan. Aku mencoba untuk berpikir dan juga mengingat. Mungkin bukan rentenir karena mereka berbadan tinggi dan tegap.


"Coba deh Mas Hilman ketemu dulu sama dia, siapa tahu memang ada urusan yang penting."


"Iya deh nanti saya ke sana. Di mana dia menunggu?"


"Di sana tuh dekat parkiran. Sudah ada satu jam dia nungguin."


Satu jam sudah cukup lama untuk dia menunggu di tempat ini. Sebenarnya dia itu siapa? Yang mempunyai urusan dengan aku hanya rentenir saja.


Meskipun aku tidak yakin dengan siapa aku akan bertemu, tapi kaki ini aku langkahkan ke sana juga. Aku mendapati seseorang yang aku kenal. Ternyata itu adalah suami Ayu.


"Selamat sore, Mas Arga." Aku menyapa dia. Dia yang sedang memainkan hp-nya kini berhenti dan menoleh ke arahku.


"Eh, kamu sudah datang," ucapnya dengan sedikit riang. Berbeda dengan dua hari yang lalu saat kami bertemu, dia terlihat sangat dingin sekali.

__ADS_1


"Ada apa kamu mencari saya?" tanya ku bingung, jangan-jangan sekarang dia mau menagih ku karena uang yang dia bayarkan kepada rentenir itu. Aku menjadi merasa bersalah, mungkinkah dia terkena masalah karena ku?


"Bisa kita bicara tidak di sini?" tanya Arga. Aku mengedarkan pandangan ke tempat lain tempat di mana selama ini aku mendapatkan uang. Seorang laki-laki yang ada di parkiran kulihat ada di sana.


"Okelah, tapi aku harus ketemu yang lain dulu untuk menitipkan parkiran," pintaku kepadanya. Dia mengangguk dan aku menemui teman seperjuanganku. Tidak lama aku kembali ke tempat Arga.


"Sudah makan siang belum? Aku belum makan siang nih, sekalian kita bicara di sana ya?" tanya dia sambil menuju ke sebuah rumah makan sederhana di seberang jalan.


"Iya boleh saja sih, kebetulan juga aku belum makan," jawabku. Memang aku belum makan siang, perut ini baru terisi makanan saat sarapan tadi.


Arga mengajakku makan di sebuah warung sederhana di depan mall. Sebenarnya aku sedikit minder berjalan berdampingin dengannya. Terlihat sekali perbedaan antara aku dan dia. Dia dengan jas mahalnya sedangkan aku dengan seragam pekerjaanku. Aku buka saja rompi orange seragam kerja ku, takut juga jika dia malu karena berjalan berdampingan dengan tukang parkir.


Sampai di rumah makan yang kami tuju dia membebaskan aku memilih makanan yang aku mau. Meskipun ditawari tapi aku juga tidak begitu saja menjadikan itu aji mumpung, aku masih punya malu untuk menerima tawaran dia.


"Pekerjaan apa?"


"Di pabrik, jadi pengawas gudang. Orang yang kemarin bertanggung jawab resign dari pekerjaan, untuk sementara bagian itu masih kosong dan aku sangat butuh orang untuk bisa menjadi pengawas," ucapnya membuat aku menatap padanya tidak percaya.


"Maaf, mungkin bukan posisi seperti yang kau miliki sebelum ini, tapi aku hanya menawarkan saja sebelum nanti aku mencari orang lain," ucapnya lagi.


Aku terdiam sejenak memikirkan bagaimana baiknya. Jika bekerja di pabrik aku tidak bisa bebas untuk pulang pergi ke rumah, Vita masih butuh waktuku jika seandainya dia harus pergi ke rumah sakit secara dadakan.


"Boleh aku tahu berapa yang aku dapatkan setiap bulan? Maaf kalau mungkin aku menanyakan hal yang seperti ini. Aku perlu memikirkan semuanya." Mungkin aku adalah orang yang berani bertanya sebelum memulai kegiatanku, tapi aku juga harus berpikir dan menimbang-nimbang sebelum mengambil keputusan untuk menerima ataupun tidak.


Arga mengeluarkan kertas yang ada di saku bajunya juga sebuah pulpen. Dia menuliskan sesuatu di sana kemudian menyodorkannya kepadaku.

__ADS_1


"Itu adalah gaji pengawas gudang di pabrikku. Uang lemburan tidak termasuk di dalam sana. Bonus intensif kehadiran juga berlaku," ucapnya. Aku menatap deretan angka-angka yang ada di sana, terhitung lumayan jika memang benar ada bonus lembur dan juga intensif kehadiran. Jika ditotalkan aku masih bisa menyisihkan untuk berobat Vita ke dokter.


"Aku mau." Dengan cepat aku menjawab, uang sebanyak itu kapan lagi aku bisa mendapatkannya? Dari hasil di pasar dan juga memarkirkan motor-motor di sini jika dikumpulkan dalam satu bulan masih jauh di bawah itu.


Arga tersenyum bertepatan dengan itu pelayan rumah makan ini datang dan mengantarkan makanan kami.


"Silakan dimakan," ucapnya lalu tanpa menunggu ke dia mulai menikmati makanannya.


"Aku menunggu kedatangan kamu sampai lusa," ucapnya.


Dia pergi setelah menghabiskan makanannya. Aku kembali ke tempat parkir dan melihat mobilnya kini meninggalkan area mall. Di tanganku sudah ada kartu nama dengan nama dia peserta nama pabrik yang tertera. Aku baru tahu jika pabrik itu ternyata miliknya. Ayu sangat beruntung menikah dengan dia. Sudah bisa dipastikan jika dia sangat bahagia sekarang. Laki-laki itu bisa menjamin kehidupan Ayu, tidak seperti ku sekarang ini.


"Yang tadi siapa, Mas?" tanya yang lain kepadaku.


"Itu teman lama, nawarin pekerjaan." aku menunjukkan kartu nama yang tadi Arga berikan.


"Alhamdulillah, kamu beruntung sekali Mas. Gajinya gede nggak?" tanya dia ingin tahu.


"Lumayan."


"Jadi mau diambil?" tanyanya lagi.


"Kayaknya sih bakalan aku ambil, lumayan untuk biaya berobat Vita," ucapku lagi.


"Iyalah Mas, jangan ditolak kalau ada rezeki. Pekerjaan apapun asalkan halal lakukan saja, apalagi kalau ditawari dengan gaji yang gede. Itu rezeki kamu karena mengurus anak kecil yang diabaikan ayah dan ibunya. Allah perlahan akan mengangkat derajat kamu, Mas," ucapnya lagi seraya tersenyum senang. Aku mengganggukkan kepala dan menyimpan kartu nama tersebut di dalam saku bajuku. Dia memberikan kesempatan lusa, jika sampai waktu itu aku tidak datang maka pekerjaan ini akan diberikan kepada orang lain. Tentu saja aku tidak akan membiarkan kesempatan ini terlewat begitu saja. Ini sangat langka dan bisa sekali membantu keuanganku.

__ADS_1


__ADS_2