
Perlahan aku bangkit, dengan sangat hati-hati sekali. Tidak ingin sampai Gara tersadar kalau aku pergi dan terbangun. Selimut tebal aku pasangkan di tubuhnya yang sudah terlelap. Kening dan lehernya juga tidak luput dari sentuhanku. Sudah lumayan turun suhu badannya yang tadi panas saat aku pertama datang.
Di luar, Arga duduk sambil memainkan hpnya. Dia berdiri saat melihat aku yang mendekat ke arahnya.
"Gara sudah tidur, aku pulang, ya." Pamitku padanya.
"Emh, lebih baik. Kamu makan malam dulu disini. Aku sudah pesankan makanan untuk kamu, dan baru saja datang," ucap Arga.
"Eh, itu ... tidak usah repot, Ga. Ini juga sudah malam, lebih baik aku pulang saja." Tolakku.
"Oh, kalau begitu, aku akan suruh sopir untuk antarkan kamu pulang."
"Aku bawa motor sendiri, Ga. Mau diantar gimana?" tanyaku padanya.
Arga menatapku sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Maksudku ... Aku akan suruh sopir dan Pak satpam untuk antar kamu, biar motor Pak Satpam yang bawakan, kamu naik mobil dengan sopir," ralatnya.
"Tidak perlu, Ga.. Itu merepotkan yang lain. Aku gak apa-apa pulang sendirian. Lagipula ini juga belum terlalu malam," ucapku.
"Jangan, aku mohon. Kamu sudah aku repotkan. Aku akan merasa bersalah sekali kalau kamu pulang sendirian," ucap Arga dengan wajah memohon. Aku jadi bingung.
"Ga, aku sudah pernah jalan malam sendirian pakai motor, sudah tidak apa-apa ...."
"Aku mohon, Yu!" Potongnya cepat. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
"Baiklah, terserah kamu saja." ucapku pasrah.
Arga tersenyum senang.
"Aku akan ambil tas dan jaket di kamar Gara." Aku kembali ke dalam kamar Gara untuk mengambil jaket, tas dan juga hpku.
Gara sedikit bergumam dalam tidurnya, entah apa yang dia ucapkan, tidak terlalu jelas aku dengarkan.
"Mama," ucapnya dalam gumaman tersebut. Rasanya hangat sekali mendengar dia mengucap Mama, tapi juga sedih, anak sekecil Gara tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
__ADS_1
Aku mendekat pada Gara dan mencium keningnya yang berkeringat. Ini pengalaman pertamaku mengurus anak kecil yang sakit. Kehadiran Gara membuat hidupku sedikit mempunyai warna lain di dalam hidup ini, tidak hanya monoton berwarna hitam dan abu-abu.
Rasanya sedikit berat juga meninggalkan dia, tapi sekarang Gara juga sudah tidur dengan nyenyak, panasnya pun sudah turun, tidak perlu ada yang harus di khawatirkan lagi.
"Terima kasih, ya. Kamu sudah bantu aku menenangkan Gara sampai dia tidur," ucap Arga sekali lagi.
"Sama-sama. Aku senang bisa bantu kamu," jawabku.
"Aku antar ke luar."
Kami beriringan berjalan ke luar dari rumah. Arga mengambil jarak dua langkah di sampingku. Dia berjalan dengan langkah tegak, dengan kedua tangan dia masukkan ke dalam saku celana trainingnya.
"Kamu pasti sedang sibuk ya tadi waktu aku telepon?" tanya Arga.
"Tidak, aku baru selesai mandi tadi. Tidak repot," jawabku.
"Aku minta maaf sekali lagi karena bikin kamu susah payah datang kemari," ucapnya lagi mengulang.
"Sudah lah, Ga. Aku tidak apa-apa. Aku senang Gara tadi mau makan dan makan obat. Kamu harus jaga dia malam ini."
Kami sudah sampai di garasi terbuka tempat aku menyimpan motor. Arga memanggil sopirnya dan satpam yang ada di pos, kedua orang itu berlari kecil menghadap Arga.
"Antarkan Mbak Ayu sampai rumahnya. Pak Seno, tolong Bapak bawakan motor Mbak Ayu," ujar Arga pada keduanya yang dijawab dengan anggukkan kepala.
Arga membukakan pintu mobil untukku, sedangkan yang tadi disebut Pak Seno mengambil alih motorku.
"Terima kasih, Ga."
"Kamu hati-hati pulangnya, ya."
Aku mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. Arga menatapku dari tempatnya berdiri, sementara Pak Sopir menyalakan mesin mobil.
"Tante Ayu!!" Teriakan suara anak kecil dengan tangisnya, terdengar di telinga. Gara dalam dekapan pengasuhnya memberontak meminta turun. Pengasuh itu terlihat kewalahan dan menurunkan Gara dari gendongannya. Dengan cepat anak kecil yang tadi aku tidurkan berlari dan menggedor pintu mobil.
"Jangan pulang!" teriaknya lagi, isak tangis semakin keras terdengar.
__ADS_1
"Jangan pulang! Garrlla mau sama Tante Ayu!"
Arga mendekat dan menggendong Gara, tapi anak kecil yang menangis itu terus meronta memanggil namaku dalam tangisnya.
Wajahnya terlihat sedih sekali. tangannya terulur, seakan tidak terima aku yang akan pergi.
Rasa aneh itu kembali menerpa hati ini, sakit sekali melihat Gara yang menangis dengan hebat, sama seperti tadi. Bujukan ayahnya tidak bisa menghentikan tangis anak itu.
Aku membuka pintu mobil, menyerbu ke arah dimana Gara berada, dengan cepat tubuh yang lemah itu kembali berpindah ke dalam gendonganku.
"Jangan perrllgiii, huuu ...." Tangisnya. Gara memeluk erat leherku.
"Iya, Tante gak pergi, Jangan nangis, ya," bujukku padanya. Punggung kecil itu ku elus pelan, pipinya yang basah juga ku cium beberapa kali. Tubuh Gara kembali panas, mungkin karena tangis barusan.
Aku tidak jadi pulang, kini kembali berada di kamar Gara, menidurkan dia di kasurnya. Entah kenapa melihat Gara yang menangis membuat aku tidak tega meninggalkan dia. Terpaksa jam pulang aku undur. Semoga saja, Gara cepat tertidur.
Gara merengek, dia ingin tidur denganku, tapi juga ingin tidur dengan ayahnya. Aku terkesiap mendengar hal itu, tapi Gara tidak mau mengerti meski sudah dijelaskan olehku atau Arga. Anak kecil ini ingin tidur di antara kami berdua.
Arga tidur miring di belakang Gara, tangannya yang besar menepuk pantat anak itu dengan pelan, sedangkan Gara berhadapan denganku, memeluk leherku dengan erat.
Aku malu dengan keadaan ini, meskipun hanya menuruti keinginan Gara, tapi tidur satu kasur dengan seorang pria, apalagi Arga, membuat aku sedikit sesak. Rasanya tak nyaman sekali, meski Arga kini menutup kedua matanya. Dadaku berdebar tidak karuan. Setelah Gara terlelap, aku harus segera pergi dari sini!
Sesekali aku tidak tahan untuk menatap Arga yang tengah tertidur. Wajah tampan itu terlhat tenang sekali.
Hais! Apa yang aku lakukan? Jangan sampai aku terlena dengannya lagi!
Sudah satu jam berlalu, tapi Gara tidak tidur juga. Aku mulai bingung. Dia hanya menatapku dengan memeluk leherku erat. Tatapan matanya tidak beralih sama sekali dariku.
"Gara. Tidur, Nak. Ini sudah malam," ucapku padanya. Kepalanya menggeleng dengan cepat.
"Gak mau! Nanti kalau Garrlla tidurrll, Tante Ayu perrllgi lagi!" ucap anak itu dengan takut. Dia melesakkan kepalanya di leherku dan semakin erat memelukku. Hawa panas kembali menerpa tubuh ini.
"Enggak, Tante gak akan pergi. Gara tidur ya, ini sudah malam loh. Biar besok cepet sembuh!" Kepala anak itu menggeleng dengan cepat.
"Gak mau!"
__ADS_1
"Gara, benar kata tante Ayu. Gara harus cepat tidur supaya bisa cepat sembuh, Nak." Arga angkat bicara. Aku kira tadi pria ini tertidur, karena matanya sedari tadi terpejam.