Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
298. Penakluk Tak Pernah Puas


__ADS_3

Peluh membasah di tubuh kami, sakit pinggang, juga perih di area bawah. Arga bermain dengan sangat bersemangat, mungkin karena semenjak datang ke sini kami baru melakukannya dua kali ini dengan barusan.


"Aku mau ke kamar mandi, awas!" usirku padanya yang masih saja ada di atasku, tidak ada niatan sama sekali untuk bangun dan mencabut miliknya.


"Sekali lagi?" pintanya. Aku mendelik tajam padanya, meski memang menyenangkan bermain dan berpeluh bersama, tapi aku tidak bisa meninggalkan Azka lebih lama, biasanya dia akan bangun pada tengah malam dan mencari sumber nutrisi dariku.


"Gak sekali lagi gitu? Ini masih bisa on lagi, loh," ucapnya dengan senyuman yang tak malu lagi pada bibirnya.


"Enggak, nanti Azka bentar lagi bangun," ucapku. Arga mengerucutkan bibirnya, dia mendekat ke arahku dan mengecup bibirku dengan lembut.


"Terima kasih karena telah menjadi tempat menampung benih dan hasr*tku," ucapnya dengan senyuman kecil.


"Sama-sama. Sekarang awas, ini becek. Kayaknya kena sofa, deh."


Arga kemudian berdiri dengan perlahan, benar saja saat aku bangun rasanya ada sesuatu yang basah dan lengket di bawah sana. Entah apakah daya tampungku kecil atau benihnya yang terlampau banyak, selalu saja meluber hingga keluar lagi.


"Bocor ya? Biar aku yang bersihkan, kamu ke kamar mandi saja," perintahnya. Aku menganggukkan kepalaku dan pergi dari sana. Tak nyaman rasanya karena belakang pahaku basah.


Di dalam kamar mandi aku membasuh diriku, tidak mandi, karena ini hampir tengah malam, hanya membersihkan area bawah dengan sabun sehingga mendapatkan kembali kenyamananku, kemudian mengambil wudhu sebagaimana di sebutkan dalam sebuah hadist jika Rasulullah tidak melakukan mandi, maka akan berwudhu untuk mendapatkan kesuciannya pada saat tidur.


Arga masih membersihkan sofa saat aku keluar dari kamar mandi, dia mengambil tisu basah yang ada di atas meja dan kembali mengelap sofa di seluruh permukaannya.


"Bajunya basah gak? Sudah aku siapkan di sana," tunjuknya ke arah kasur di mana ada baju tidur bahan satin di sana. Segera aku memakai baju tidur itu, tanpa memakai dalaman atas, selalu merasa sesak jika benda itu masih terpakai. Apalagi saat Azka meminta ASI, sulit jika masih ada benda dengan dua mangkok tersebut.


Arga kini selesai dengan pekerjaannya, dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Sedikit agak lama saat menunggu dia, entah sedang apa di dalam sana, tidak terdengar suara air sama sekali.


Aku menyibukkan diriku, rasa kantuk belum juga datang, padahal siang tadi aku tidak tidur sama sekali. Ku lirik jam yang ada di hp, sudah sepuluh menit Arga ada di dalam sana. Apakah dia sakit perut?


Baru saja aku menurunkan kaki ke lantai, pintu kamar mandi terbuka. Terlihat dia kini lebih segar daripada sebelumnya.


"Kamu mandi?" tanyaku.


"Enggak. Kenapa?" tanya dia balik.

__ADS_1


"Gak mandi kok lama amat, sakit perut?"


"Enggak juga." Dia tersenyum aneh. Segera pikiranku yang selalu kotor jika di dekatnya malah semakin kotor kini.


"Main solo?" tanyaku seraya menyeringai. Dia tidak menjawab, menyimpan handuk kecil yang tadi dipakai untuk mengelap wajahnya pada kaki ranjang.


"Kepo!" ucapnya dan berlalu membuka pintu kamar.


Aku ingin tertawa, apakah suami orang lain sama juga? Sedikit bertanya-tanya dengan kebiasaan laki-laki satu ini jika tidak mendapatkan kembali apa yang mereka inginkan.


Arga kembali dengan membawa gelas besar berisikan air, memberikannya kepadaku.


"Terima kasih," ucapku menerima air hangat yang dia berikan, aku meminumnya sedikit. Arga memang sosok perhatian yang selalu tahu apa yang aku butuhkan, kadang dia berinisiatif melakukan tanpa aku suruh. Dia kemudian duduk di sampingku, hendak mengambil laptopnya, tapi kemudian terhenti saat aku berdehem dan berkata untuk menyuruhnya tidur.


"Aku mau ngecek dulu, kayaknya tadi belum aku matikan deh laptopnya," ucapnya. Aku tidak menoleh lagi ke arahnya, lebih kepada memperhatikan Azka yang masih tertidur dengan sangat lelap.


"Sudah belum, tidur yuk. Jangan kerja terus, besok lagi kerjanya. Ini sudah malam," ucapku meminta.


"Yang, sekali lagi?" tanya Arga sambil mulai kembali tangan itu mengg*rayang di dadaku.


"Ih, kamu ini. Kan udah dua kali barusan emang tuh tiang listrik masih kuat tegangannya?" tanyaku kesal. Laki-laki ini seakan tidak punya rasa lelah sama sekali jika sudah berurusan dengan olah raga malam naik turun gunung dan memasuki lembah berbukit.


"Kalau dipancing ya tentu masih ada tegangannya lah. Malah makin lama makin asyik," ucap laki-laki itu ambigu.


"Enggak. Udah, aku capek!" ucapku menyingkirkan tangan itu dari dadaku. "Besok lagi lah, ini aja masih linu yang barusan."


"Ya, sudah. Aku mau tidur saja kalau gitu," ucapnya pasrah. Tak lama terdengar suara dengkuran halus yang terdengar dari belakangku.


Tak lama setelah Arga tertidur, Azka kini sedikit merengek dan mulai menggerakkan tangannya mencari dadaku. Segera aku memberikan minuman yang tidak perlu lagi aku hangatkan untuknya, tidak pernah basi dan juga tidak khawatir dengan stok yang ada. Praktis di mana pun dan kapanpun saat Azka mau.


*


Pagi menjelang siang aku menemui ibu, memberi tahu jika semalam aku sudah bicara dengan Arga dan dia setuju untuk mengadakan acara selamatan. Entah apakah temannya yang dulu sudah pernah melakukannya atau tidak, yang pasti kami akan melakukannya lagi.

__ADS_1


"Ha? Banyak amat sepuluh juta!" seru ibu saat menerima segepok uang yang aku berikan kepadanya. Tadi pagi aku meminta izin pada Arga untuk pergi ke ATM terdekat, tidak jadi mengambil lewat bank karena terlihat di sana sangat antri sekali.


"Iya, Bu. Segitu cukup, gak? Kalau kurang nanti Ayu ngambil lagi?" tanyaku pada ibu.


"Wah ini mah lebih dari cukup, masih sisa banyak kayaknya, kecuali kalau mau undang orang sekampung," ungkap ibu.


"Oh, kalau mau undang sekampung ya ibu atur saja lah, nanti kalau kurang ibu bilang saja sama Ayu, di tambahin," ucapku padanya. Ibu mengangguk sambil menatap uang itu dengan senyum dan mata berbinar. Wajar saja seperti itu karena ibu tidak pernah memegang uang yang banyak, paling banyak aku beri sebulan tiga juta untuk biaya makan. Itu pun ibu bilang masih sisa karena ibu hanya makan berdua dengan gadis yang ada di rumah.


"Kira-kira mau bikin masakan atau mentahan?" tanyaku.


"Nanti lah, ibu tanyakan sama Bi Sari. Dia yang tahu harus bagaimana, kalau lebih afdhol sih ya masak. Tapi zaman sekarang mentahan juga bisa," ujar ibu lagi.


"Ya, atur saja lah. Ayu gak bisa bantu, repot sama Azka, Bu," ucapku menyesal.


"Iya, gak apa-apa, kamu urus Azka saja. Jangan hiraukan soal ini. Biar ini ibu sama Bi Sari saja yang kerjakan, Sama Mbaknya Gara juga," ucap ibu lagi menyebut Mbak Sari sebagai Mbaknya Gara.


"Ya sudah kalau begitu, ibu mau telepon Bi Sari dulu, tanya kali aja bisa bantu kita sekarang." Ibu pergi dengan langkah yang cepat ke arah kamar dan tak lama kembali padaku yang duduk bersama dengan Azka.


"Nanti siang ke pasar, pak sopir Ibu pinjam ya buat antar ke pasar," pinta ibu.


"Iya, minta anter aja, gak apa-apa, kok. Semenjak di sini juga pak sopir jarang keluar, palingan cuma ke pasar doang sama mancing tuh sama orang kampung sini," ucapku.


"Sip!" bu mengangkat satu jempolnya.


Memang selama di sini kami jarang keluar, hanya ke pasar atau minimarket untuk membeli pampers Azka atau jika Gara ingin beli sesuatu di minimarket bersama dengan Widi, selebihnya pak sopir menghilang dan kembali dengan membawa ikan hasil pancingannya.


Ibu pergi dengan kedua orang bernama Sari, juga pak sopir yang akan membantu ibu untuk belanja kebutuhan untuk besok malam. Bibi bilang di sini jika selamatan masih memakai nasi berkat. Memasak nasi dan lauk pauknya. Bibi juga akan mencarikan beberapa orang untuk membantu kami memasak besok pagi. Aku serahkan saja semua hal itu kepada bibi dan juga ibu. Jelas tidak bisa membantu banyak karena aku akan repot mengurus Azka dan juga Gara.


Siang setelah ibu pulang dari pasar, Mbak dan Bi Sari segera mengupas kentang dan wortel untuk besok sedangkan kentang akan digoreng sehingga besok tinggal memberinya bumbu saja. Bawang merah dan bawang putih juga tidak luput dari pekerjaan mereka supaya besok bisa diselesaikan dengan cepat. Bibi juga telah memesan berbagai kue untuk tambahan di atas berkat.


Di halaman belakang, Arga dan pak sopir tengah mengurus tungku pembakaran untuk memasak nasi. Kami tidak punya alat masak untuk ini semua, bibi akan membawanya nanti sore setelah mengupas kentang selesai.


Sebenarnya jasa katering juga ada di kampung sini, tapi menurut bibi akan lebih baik jika melibatkan tetangga supaya kami saling mengenal satu sama lain, meski kami hanya tinggal sementara di sini. Kami tidak keberatan, justru hal itu sangat baik, bukan?

__ADS_1


__ADS_2