
"Itu karena kamu bicara sembarangan Mas! Pergi dari sini sebelum aku melakukan hal yang lebih dari ini!" ancamku.
Mas Hilman menatapku, dia menggelengkan kepalanya.
Beberapa orang yang lain datang mendekat ke arah kami, ada ibu juga diantara mereka.
"Pergi Hilman! Jangan kamu ganggu Ayu lagi!" teriak Ibu dengan emosi. Para ibu-ibu tetangga sekitar juga kini mulai memenuhi tempat ini. Menyuarakan yang sama seperti Ibu, menginginkan Mas Hilman untuk pergi dari sini. Baru sadar jika kejadian barusan membuat heboh warga sekitar.
"Pergi Mas Hilman, sebelum warga melakukan tindakan yang tidak saya inginkan!" usir Pak RT. Mas Hilman melirik ke beberapa orang yang ada di sekitaran sana masih dengan wajah terlihat penuh kesakitan.
"Iya! Pergi kamu dari sini Hilman!" teriak seseibu yang kini memegang sapu di tangannya.
"Pergi kamu, Mas. Aku sudah jelas tidak mau lagi dengan kamu. Jangan paksa aku untuk pulang, atau kamu bisa berakhir mengenaskan lebih dari itu," ucapku dengan dingin.
Mas Hilman terpaksa pulang meski tidak rela. Dia berjalan ke arah mobilnya dengan tertatih masih sambil memegangi miliknya. Semoga saja setelah ini tidak akan ada masalah padanya dimasa depan.
Beberapa orang mendekat dan menanyakan keadaanku.
Kami telah masuk ke dalam rumah. Pak Rt dan yang lainnya telah pulang ke tempat masing-masing. Kini aku sedang mengobati wajah Dokter Wira yang lebam dengan menggunakan kapas dan alkohol. Canggung sebenarnya karena kami duduk dengan jarak yang dekat. Bukan apa-apa, ini karena teringat pembicaraan dengan Ibu beberapa hari yang lalu mengenai Dokter Wira.
"Aww, sakit!" keluhnya saat aku menekan luka di wajahnya sedikit keras. Tatapan mata yang sedari tadi tidak berkedip itu membuat aku merasa risih dia lihat terus menerus.
"Eh, maaf. Saya gak sengaja," ucapku. Dia tersenyum hingga terlihat lesung pipinya di bagian kanan. Wajah yang tanpa kaca mata ini lumayan juga jika di lihat.
"Tidak apa-apa. Ini juga tidak terlalu sakit," ucapnya.
"Oh, sudah?" tanyaku. Dia menganggukkan kepalanya. Aku menggeserkan tubuh ini untuk agak menjauh darinya.
"Dokter Wira kenapa ada di sekitar sini?" tanyaku. Aku sedikit heran dengan adanya dia yang menolongku.
"Oh iya. Saya kebetulan ada yang mau disampaikan kepada Ibu," ujarnya sambil mengeluarkan berkas yang ku ingat tadi berceceran saat Dokter Wira dan Mas Hilman berkelahi di luar.
"Apa ada hal yang penting sampai Dokter kemari?" Aku tiba-tiba khawatir dengan ucapannya tadi, sengaja datang untuk menyampaikan sesuatu? Apakah ada hal yang gawat dengan Ibu?
"Saya kebetulan sedang cuti hari ini dan Dokter Hendra menyuruh saya menyampaikan hasil pemeriksaan Ibu Diah. Saya pikir lebih baik untuk mengantarkannya secara langsung pada Mbak Ayu atau Bu Diah. Ini." Dokter Wira menyerahkan map berwarna hijau itu kepadaku.
Aku membukanya, tapi masih belum mengerti dengan apa yang ada di dalam sana.
__ADS_1
"Mbak Ayu. Maaf. Bisakah lukanya saya bersihkan juga?" tanya Dokter Wira mengalihkan tatapanku dari map ini ke arahnya.
Dia menunjuk dagunya lalu menunjuk wajahku. Aku sampai lupa kalau tadi terkena siku Mas Hilman.
"Eh, tidak apa-apa. Ini nanti saja saya obati sendiri." Aku tidak mau dokter ini melakukan hal yang sama terhadapku. Jarak dekat dengan lelaki akan membuat rasa di dalam dada menjadi tidak karuan meski tidak menyukai dia, tapi tentu saja, itu tidak akan aman. Takut aku menjadi baper!
"Oh." Dokter Wira mengangguk pasrah.
Aku melirik ke arah dapur, tadi Ibu bilang mau membuatkan minuman untuk Dokter Wira tapi entah kenapa tidak muncul dar sana, Sinta juga sama, tidak datang untuk mengantarkan minuman seperti biasanya jika ada tamu. Haduuuh, jangan-jangan mereka berkompromi, lagi!
"Em ... Dokter, sebentar ya. Saya cari Ibu dulu di belakang." pamitku padanya.
"Eh, iya. Silahkan," ujarnya dengan canggung.
Aku pergi ke arah dapur dan meninggalkan Dokter Wira dengan kertas-kertas laporan itu.
Ibu terlihat sedang duduk berdua dengan Sinta di meja makan. Mereka mengobrol entah apa. Astaghfirullah, aku menunggu minuman untuk Dokter Wira kenapa keduanya malah santai disini?
"Ibu, Sinta, kok malah duduk disini? Gak jadi bikin minum untuk Dokter Wira?" tanyaku mengganggu pembicaraan mereka. Terdengar nama Dokter Wira tadi terselip saat Ibu berbicara, saat keduanya tidak sadar dengan kedatanganku. Kini mereka terlihat salah tingkah.
"Eh, iya ini Mbak. Aduh, Sinta sampai lupa, hehe." Sinta tertawa malu, tapi tidak seperti itu yang aku lihat. Mereka jelas sedang sengaja tidak keluar dari sini membuat aku berduaan dengan Dokter Wira di depan sana.
"Aduh kamu ini. Itu kasihan loh Dokter Wira mungkin kehausan! Bagaimana sih? Ibu juga, Dokter Wira datang kesini untuk memberi tahu laporan soal Ibu dari Dokter Hendra. Kok, malah ngobrol disini, sih?" cercaku pada keduanya.
Ibu tersenyum sama kikuknya.
"Eh, Ibu kira Dokter Wira sengaja datang kesini karena ada urusan sama kamu," ujar Ibu. Aku memutar bola mata malas. Tuh kan? Udah ketahuan deh!
Aku dan Ibu keluar dan kembali menemui Dokter Wira. Kami duduk bersama. Dengan telaten Dokter Wira menjelaskan apa yang ada di sana mengenai tanggal operasi Ibu yang sepakat para dokter majukan lebih awal.
Alhamdulillah.
Lewat dari tengah hari Dokter Wira bergegas pamit setelah selesai menjelaskan apa-apa saja yang tertera di dalam map tadi. Dia menolak untuk makan siang bersama dengan alasan ada hal lain yang harus dia kerjakan setelah ini. Ibu sedikit kecewa, tapi segera maklum karena pria ini adalah orang yang sibuk.
"Terima kasih karena Dokter Wira sudah membantu saya tadi. Saya gak tau kalau gak ada Dokter Wira bagaimana tadi dengan mas Hilman," ucapku padanya saat mengantarkan dia keluar dari rumah menuju mobilnya yang terparkir di luar.
"Saya senang karena ternyata kehadiran saya tepat waktu. Mbak Ayu, apa Hilman tidak melakukan kekerasan lain terhadap Mbak Ayu? Misal Mbak ada yang sakit? Saya akan antarkan ke rumah sakit" Nada suaranya terdengar khawatir.
__ADS_1
"Tidak ada Dokter, saya baik-baik saja. Justru Doker yang harusnya memeriksakan diri ke dokter lain untuk memeriksa keadaan Dokter. Saya khawatir Dokter Wira ada sesuatu yang lain yang sakit. Maaf." Aku membalikkan ucapannya. Dia terlihat tersipu.
"Apa Mbak Ayu sudah menghubungi pengacara yang saya ajukan tempo hari?" tanya Dokter Wira. Aku menggelengkan kepala.
"Belum ada panggilan dari pengadilan agama. Nanti jika sudah ada, saya akan hubungi beliau," ucapku. Dokter Wira menganggukkan kepalanya.
"Lebih baik drai sekarang Mbak Ayu hubungi beliau. Karena takutnya beliau sibuk dengan yang lain."
"Iya."
Kami telah sampai di kendaraan milik Dokter Wira.
"Em, Mbak Ayu. Kalau Mbak Ayu ada masalah lagi sama Mas Hilman, Mbak Ayu boleh minta tolong sama saya." Kata-kata itu mengingatkan ku pada obrolan kami sewaktu di rumah sakit tempo hari.
"Ah, saya malu kalau harus merepotkan Dokter. Dokter sudah banyak direpotkan dengan sakit Ibu saya," ucapku dengan tak enak hati.
"Tidak apa-apa. Saya senang dengan Mbak Ayu merepotkan saya, karena saya suka dengan Mbak Ayu. Eh ...!"
Aku menoleh ke arah Dokter Wira yang kini menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Kenapa?" tanyaku padanya.
"Maksud saya, saya kan ... dokter, tentunya saya ... tidak apa-apa direpotkan oleh pasien saya. Iya. Tidak apa-apa direpotkan oleh pasien dan keluarganya. Itu ...." Dokter Wira berkata dengan canggung dan salah tingkah. Wajahnya seperti tomat, sudah merah juga dengan matanya yang menolak untuk menatapku secara langsung.
"Oh, iya. Kalau begitu saya akan senang hati merepotkan Dokter sampai Ibu saya sembuh. Mohon bantuannya, Dokter." Aku menunduk sedikit dalam untuk meminta bantuannya lagi. Dokter Wira terlihat sedikit mengubah raut wajahnya. terlihat agak kecewa mungkin.
"Iya, tentu saja. Kalau begitu, saya permisi," ucapnya berpamitan.
Sekali lagi aku mengangguk dan membiarkan dia masuk ke dalam mobilnya. Dari dalam sana Dokter Wira melambaikan tangannya padaku. Aku balas lambaian tangan itu. Mobil berwana silver itu kemudian pergi menjauh.
Ternyata benar apa kata Ibu, Dokter Wira suka dengan aku. Bukan tadi aku tidak mendengar dengan jelas, tapi apakah aku pantas?
***
hai-hai. mampirin sini yuk, sambil nunggu Ayu update selanjutnya
__ADS_1