
Flashback dikit oke?😉
"Ada apa sama ibu sampai Mas Dirga telepon aku disuruh pulang sekarang juga?" tanyaku kepada Ibu yang kini duduk terbaring di depanku.
Aku terpaksa izin dari kantor karena mendapat telepon dari Mas Dirga. Ibu sakit, menangis terus sedari pagi. Ibu bilang ingin bertemu denganku.
Wajah Ibu sembab dengan hidung yang terlihat merah. Beberapa tisu bekas bertebaran di lantai.
"Ibu itu sakit, Man. Ibu kepikiran sama kamu," ucap ibu.
"Ibu sakit apa sih? Ayo kita ke dokter dan periksa," ajakku kepada Ibu seraya meraih tangannya.
Ibu menggelengkan kepalanya dan menepis tanganku dengan kasar.
"Ibu nggak mau ke dokter! Ibu mau kamu punya anak!" seru Ibu dengan sedikit membentak.
Aku menatap ibu dengan bingung. Persoalan anak lagi. Hal ini yang selalu membuat aku dan Ayu terkadang malas untuk pulang ke sini. Anak dan anak yang Ibu mau. Bukannya aku juga tidak mau mempunyai anak, tapi apalah daya jika Sang Maha Kuasa belum memberikan karunia itu kepada kami.
Aku dan Ayu, istriku, sudah berumah tangga selama 7 tahun, tapi belum pernah aku mendapati tanda-tanda jika ayu mengandung putraku. Bukan berarti kami tidak berusaha selama ini. Kami pernah datang ke dokter kandungan saat usia pernikahan kami memasuki usia kedua untuk memeriksakan keadaan kami. Dokter bilang keadaan kami normal, tapi entah kenapa Ayu tidak juga kunjung hamil. Sampai-sampai aku bosan untuk pergi ke dokter. Kecewa yang ada karena selalu saja tidak tepat dengan apa yang aku harapkan.
Dokter bilang jika bisa Ayu harus banyak beristirahat, mengkonsumsi makanan sehat, dan juga berolahraga dengan teratur. Melakukan gaya hidup sehat juga bisa menunjang agar kami segera mempunyai momongan. Maka dari itu, aku meminta Ayu untuk resign dari kantor nya. Ayu sempat protes dengan permintaanku itu. Dia bilang pasti akan sangat bosan di rumah jika tidak bekerja. Akan tetapi, akhirnya dia menurut juga.
__ADS_1
Ayu selalu saja mendesak untuk mencari dokter lain, tapi pekerjaanku semakin banyak setelah aku direkomendasikan untuk naik pangkat. Setelah kenaikan pangkat, aku semakin sibuk bekerja tidak bisa meninggalkan kantor begitu saja. Aku meminta pengertian kepada Ayu untuk hal itu, dan dia bisa terima alasanku.
Waktu itu kami masih mengontrak rumah. Pelan-pelan dan sedikit demi sedikit aku mengumpulkan uang agar kami bisa tinggal di rumah sendiri. Tabungan masih belum banyak, aku memutuskan untuk meminjam dana ke kantor untuk membeli rumah yang kami tempati sekarang. Setiap bulan aku menerima gaji setelah dipotong pinjaman.
"Bu, aku juga ingin punya anak, tapi kalau memang Gusti belum memberikan kami anak mau bagaimana?" tanyaku memberi pengertian kepada Ibu.
"Ibu tidak mau tahu! ibu malu sama para tetangga dan juga keluraga yang lain. Kadang Ibu dengar kalau mereka membicarakan kamu. Apa lagi itu tuh, si Yu Rohayah. dia suka sekali membicarakan tentang keadaan kamu. Kamu belum punya anak sampai sekarang!" seru ibu dengan kesal.
"Ya biarkan saja lah Bu, mereka mau bicara apa. Toh apa yang mereka bicarakan juga benar. Hilman memang belum punya anak," jawabku yang membuat Ibu melotot kepadaku.
"Kamu bisa bicara seperti itu karena kamu tidak mendengarnya, tapi Ibu ... Ini telinga Ibu ...." Ibu menunjuk telinganya dengan perasaan geram
"Telinga ibu yang denger setiap hari Hilman!" serunya lagi.
"Ibu enggak mau tahu ya Man. Kamu harus cepat punya anak. Ibu juga ingin mengurus cucu, anak dari kamu!" serunya lagi.
"Bu, tolonglah. Jangan menekan Hilman seperti itu. Masalah rezeki, jodoh dan mati itu adalah urusan Allah. Hilman nggak tahu kapan Hilman akan memberikan itu kepada ibu. Lagi pula kan ada Yudi anaknya Mas Dirga. Apalagi dia juga kan sama-sama tinggal di sini. Ibu bisa kan mengasuh dia?" tanyaku.
"Yudi itu tidak mau sama ibu. Ibunya selalu mempengaruhi Yudi supaya dia nggak mau dekat sama ibu. Kalau dia sedang main sama Ibu, istrinya si Dirga tuh selalu saja manggil-manggil Yudi untuk segera masuk ke dalam kamar. Ibu mau anak dari kamu Hilman! Kamu gak akan larang Ibu kan main dengan anak kamu nanti?" tanya Ibu dengan penuh harap.
"Ibu ini sudah tua. Ibu juga mau ada yang menemani masa tua ibu."
__ADS_1
"Bu kami juga sedang berusaha ...."
"Lalu kapan?" tanya ibu memotong ucapanku. "Kapan kalian bisa memberikan Ibu cucu? Atau jangan-jangan Ayu yang tidak bisa memberikannya?" Lagi-lagi itu yang dibicarakan.
"Bu jangan berpikiran buruk seperti itu. Dokter bilang kami berdua ini sehat, tidak mungkin dokter itu salah bukan? Ini hanyalah soal rezeki dan waktu. Kalau memang gusti sudah memberikan pasti kami juga akan punya anak."
"Pokoknya Ibu nggak mau tahu, Ibu ingin cepat punya cucu dari kamu! Kalau Ayu tidak bisa memberikan kamu anak, lebih baik kamu menikah lagi dengan anak temen Ibu!" Ucapan ibu membuat aku menatapnya tajam.
"Ibu jangan ngaco deh. Mana mungkin aku menikah lagi dengan orang lain. Aku gak bisa, Bu. Aku nggak mau," ucapku marah kepada Ibu. Tidak menyangka jika Ibu punya pemikiran seperti ini.
"Hilman, apa kamu gak sayang sama Ibu? Selama ini Ibu selalu berusaha untuk memberikan kasih sayang Ibu sama kamu, Ibu hanya ingin punya cucu dari kamu, Hilman. Apa kamu tidak bisa memberikannya untuk Ibu?" Mata Ibu berkaca-kaca saat melihatku.
Aku mengusap wajahku dengan kasar.
"Bu, Hilman sangat sayang sama Ibu, tapi masih ada cara lain. Enggak perlu aku harus menikah sama orang lain. Aku tidak mau berpoligami," ucapku kepada Ibu. "Kami bisa adopsi anak. Ambil anak dari panti asuhan, atau salah satu saudara kan bisa, tanpa aku harus menikah dengan yang lain?" tanyaku kepada Ibu, memohon lebih tepatnya.
"Tolong Ibu sabar lah Bu. Kami juga sedang berusaha ini."
"Sampai kapan Ibu harus sabar? Ini sudah tujuh tahun kamu dan Ayu berumah tangga. Sudah terlalu lama Hilman! Ibu sudah cukup bersabar dengan kamu, setiap kali kamu bicara membela dia dan tidak mau berpisah dengan dia. sekarang Ibu minta sama kamu, kamu tidak perlu cerai dengan Ayu tapi kamu mau menikah lagi, ya?" pinta Ibu lagi.
"Bu. Hilman gak bisa. Hilman gak mau, dan lagipula Ayu juga belum tentu mau di poligami. Sudah lah Bu. Ibu jangan punya pemikiran seperti itu lagi. Pokoknya Hilman gak akan menikah lagi dengan wanita lain."
__ADS_1
Aku bangkit dan berjalan meninggalkan ibu. Masih tidak mengerti dengan apa yang Ibu katakan. Padahal ibu juga sama-sama wanita.
Aku pikir selama ini Ibu tidak membahasnya karena itu sudah menerima Ayu apa adanya. Ternyata aku salah. Jika dulu Ibu meminta aku untuk bercerai lalu menikah dengan wanita lain, tapi kini sekarang Ibu meminta aku untuk mempunyai istri yang lain.