
"Ada paket, Bu. Dari penerbit ...." ucap wanita itu padaku sambil membacakan dan menyebutkan apa yang tertulis di sana. Aku menerima benda tersebut, paket yang cukup besar entah berisi apa. Aku terkejut dengan adanya paket ini, tidak menyangka juga jika akan datang secepat ini.
Paket aku ambil dan aku buka di atas meja makan, isinya ada satu buah buku dengan judul 'Malaikat Tanpa Sayap' aku tulis buku cetak pertamaku dengan nama asliku. (Sambil promo boleh ya. Othor sedang buat buku cetak dan sedang PO, untuk yang berminat boleh nanti chat Othor ya di akun NT boleh, atau DM di IG Trias_wardani13 dan inbox FB Trias Wardani)
Senang sekali rasanya aku mendapatkan buku ini, perjuangan selama tiga puluh hari menulis kisah ini. Kisah seorang anak remaja yang merasa dirinya diabaikan oleh sang ayah, tak terima dengan pernikahan sang ayah yang kedua kali. Lika liku perjalanan dan batin yang dia rasakan, apalagi saat sang ayah membawanya ke sebuah pesantren, semakin dia merasa jika dirinya dibuang.
Aku memeluk benda itu di depan dada, merasa terharu dengan apa yang aku dapatkan sekarang ini. Senang sekali rasanya bisa memeluk karyaku sendiri, bukan hanya bisa menikmati karyaku di hp, tapi aku bisa menyimpannya di rak buku milikku. Suatu saat nanti, jika aku punya keturunan, aku ingin mereka tahu, jika ibunya memiliki mimpi yang telah terwujud.
"Apa itu?" tanya suara dari belakangku. Aku menoleh, melihat Arga yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
"Buku cetak punyaku sudah jadi, Pa." Aku memperlihatkan buku milikku padanya. Arga mendekat dan tersenyum, dia mengambil buku tersebut dan melihat cover serta isinya. Senyumnya mengembang sangat lebar sekali masih menatap lembaran buku di tangannya.
"Bagus, selamat ya. Nanti sepulang kerja aku baca," ucapnya lalu mengembalikan buku itu padaku. Aku masih menimang buku tersebut, memeluknya seakan tidak mau melepaskannya.
"Nanti aku bantu promosikan. Biar semua orang tau kalau istriku adalah seorang penulis yang hebat," ucapnya sambil mengelus pipiku. Aku senang dan menganggukkan kepala.
Arga duduk di sampingku, dia masih menatapku dengan senyuman di bibirnya.
"Kopinya, Pak." Mbak Sus datang membawakan kopi yang tadi aku buat ke hadapan Arga.
"Eh, astaghfirullah. Aku lupa, Pa." Aku malu, tersenyum, merasa bersalah padanya. Gara-gara ada paket sepagi ini sampai aku lupa jika tadi aku tengah membuat kopi untuk suamiku.
Arga hanya tersenyum, lalu menyeruput kopi tersebut.
"Mbak Sus, saya minta tolong lihat Gara. Sudah selesai mandinya apa belum," pintaku pada Mbak Sus. Wanita itu mengangguk, menundukkan tubuhnya saat melewati kami lalu pergi ke lantai atas. Padahal aku berusia di bawahnya, tapi Mbak Sus sangat menghormati kami sehingga setiap beliau lewat tidak lupa membungkuk sedikit.
Gara sudah siap dengan seragamnya berjalan perlahan menuruni tangga, satu tangannya digandeng Mbak Sus. Mbak Sus memang seperti itu, jika turun bersama dengan Gara selalu memegangi tangannya karena takut jika anak itu berlari turun. Takut jatuh. Gara terlihat dengan wajah sebal berjalan dengan asisten kami itu.
Aku sudah memindahkan semua makanan ke atas meja makan. Berbagai lauk pauk yang aku masak tadi, tidak banyak. Hanya tiga macam saja, suwir daging ayam, sayur sop, dan juga orek tempe. Aku dulu bertanya kepada Mbak Sus, apa saja yang suami dan anakku makan, Alhamdulillah apa yang dia makan sama seperti aku dan ibu makan di rumah.
Gara naik ke atas kursinya, tas yang dia bawa Mbak Sus bawa ke ruang tamu. Kami makan pagi bersama. Aku seperti kemarin, makan, tapi merasakan hambar di lidah, padahal ini adalah masakan ku sendiri. Sudah beberapa hari ini aku seperti ini.
"Kenapa tidak makan?" tanya Arga saat aku mengeluarkan kue yang Nira buatkan kemarin dari kulkas yang paling bawah.
"Hambar," jawabku. kening Arga mengerut mendengar ucapanku, dia mengambil sendok sayur dan memindahkan sedikit kuah pada sendoknya, merasainya semua yang ada di sana.
__ADS_1
"Enak, kok. Hambar apanya? Mbak Sus, cobain deh ini. Apa ada yang aneh?" tanya Arga meminta pada Mbak Sus. Wanita itu mendekat, mengambil mangkok kecil dan melakukan hal yang sama.
"Enak, Bu. Seperti biasanya," ucap wanita itu padaku.
"Tapi kenapa aku rasain gak enak, ya?" Aku bingung, masakan yang aku buat takarannya seperti biasa, baik itu garam, penyedap rasa, atau gula, memang tadi aku tidak mencicipnya.
"Lagi panas dalam kali, Bu," ucap Mbak Sus lagi.
"Kalau begitu, nanti tolong belikan larutan ya, Mbak. Yang biasa aja, jangan yang ada rasanya," pinta Arga sambil mengeluarkan uang satu lembar merah.
"Iya, Pak." Mbak Sus kemudian pergi keluar rumah.
"Apa kita mau ke dokter?" tanya Arga padaku.
"Gak perlu, panas dalam aja kok ke dokter segala, sih."
"Iya, Ma. Ke dokter aja, biar cepet sembuh," ucap Gara dengan mulut penuh makanan.
"Gara, makan itu kunyah dan telan dulu kalau mau bicara, nanti tersedak," peringat sang ayah. Gara tersenyum meringis, susah payah mengunyah dengan cepat dan menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Gara antar ke dokter ya, Ma," ucap anak itu cepat.
Kami melanjutkan sarapan sehingga semua telah selesai. Bersamaan dengan itu, Mbak Sus sudah sampai ke rumah dan memberikan satu kantong kresek berisi beberapa botol minuman larutan tanpa rasa.
"Mbak Sus, hari ini tolongin saya beresin kamar, ya. Minta Mbak Sari bantu lepasin gorden dan juga cuci karpet," ucapku pada Mbak Sus.
"Baik," ucap wanita itu lalu pergi ke rumah belakang. Tidak lama kemudian dia kembali bersama dengan pengasuh Gara.
Aku mengantar Arga dan Gara, bersiap untuk pergi ke sekolah dan bekerja.
"Bu! Bu! Tunggu!" teriak Mbak Sus dari belakangku.
"Iya? Ada apa?"
"Garis dua! Garis dua!" ucapnya dengan histeris. Dia melompat sambil berteriak dengan senangnya, menunjuk pada benda yang ada di tangan. Aku bingung apa yang dia maksud garis dua.
__ADS_1
"Garis dua, Bu! Ini!"
Aku mendekat dan mengambil apa yang ada di tangannya. Sedikit bingung dengan ucapannya. Garis dua!
"Garis dua loh, Bu. Positif!" ucapnya dengan girang.
Aku pun melihat itu dan sedikit tidak percaya dengan apa yang ada di sana. Ada garis jelas berwarna merah di dalam benda pipih yang aku pakai kemarin.
Kemarin tidak ada, kenapa sekarang ada?
"Garis dua, Bu!" serunya lagi. Aku hanya terpaku melihat benda itu di tangan.
"Ada apa?" tanya Arga, dia berbalik dan mendekat ke arah kami. Aku hanya menatap Arga, tapi masih tidak bisa bicara.
"Ini Pak, ini!" tunjuk Mbak Sus, pada tespek di tanganku. Arga mendekat dan terdiam, dia menatapku dengan bingung.
"Kamu ...." ucapnya lalu terhenti. Dia tersenyum senang.
"Alhamdulillah!"
****
Permisi bentar ya, kali aja gitu ada yang minat untuk buku cetak perdana punya Othor yang masih remahan rengginang ini.
Ini juga ada terinspirasi dari sosok Ayu yang seorang ibu sambung.
Kalau pengen tau cerita ini, sweetnya hubungan sebuah keluarga dan persahabatan, serta manisnya benih cinta pertama Lilian, boleh yuk order.
\= Othor malah ngiklanπ. Nolees, nolees!
π©π»: Iya, kan sekalian. Sambil menyelam minum air, kali aja kembung gitu π.
Yuk, yang mau DM aja IG Trias_wardani13 atau inbox fb Trias wardani. atau chat NT juga boleh.
Tapi ini cover sementara, buku sedang naik cetak dengan cover yang berbeda π
__ADS_1