
Aku merenung setelah selesai kami melakukan permainan bersama. Arga kini telah tertidur dengan sangat pulas sekali, sedangkan aku masih berpikir dengan apa yang terjadi pada hidup Mas Hilman. Kenapa miris sekali hidupnya, ditinggal Hana, mengurus anak yang bukan darah dagingnya, dan lagi ... hal yang terjadi pada keluarga itu.
Informasi yang aku dapatkan dari pemuda tadi membuat ku menjadi semakin iba kepada diri Mas Hilman. Bapak ternyata ada main dengan Mbak Yana, menantu mereka dari Mas Dirga sehingga anak yang ada pada Mbak Yana adalah darah daging bapak, bukan Mas Dirga. Bapak dan Mbak Yana pergi bersama meninggalkan ibu setelah ketahuan dengan kasus perselingkuhan tersebut, membawa serta anak mereka. Jadi, apakah Mas Dirga juga mempunya penyakit yang sama dengan Mas Hilman? Tidak bisa memberi keturunan?
Desas desus yang terdengar di kampung membuat ibu enggan untuk keluar dari rumah, katanya. Juga karena Mas Dirga yang diduga stress dan memilih pergi dari sana, meminjam uang pada rentenir dan melimpahkannya pada Mas Hilman. Pantas saja, Mas Hilman begitu kurus. Hidupnya sangat miris sekali menanggung beban berat yang sebenarnya bukan tanggung jawab dia. Apa lagi aku dengar putri kecilnya mengidap penyakit ginjal bawaan dari lahir, butuh biaya yang sangat besar untuk menyembuhkannya.
Miris sekali hidup kamu, Mas.
Apa benar kata pemuda itu, hidup Mas Hilman jadi begini karena doa istri pertama yang teraniaya? Ah, aku rasanya tidak pernah mendoakan yang jelek terhadapnya. Aku tidak pernah berdoa yang jelek kepada semua orang, hanya berdoa saja untuk dibukakan hatinya.
"Kamu belum tidur?" tanya Arga membuyarkan lamunan ku.
"Eh, belum."
"Sini," panggilnya menepuk lengannya. Aku mendekat, menjadikan lengannya sebagai bantal.
"Kamu sedari ketemu sama dia terus diam, kenapa?" tanyanya menyelidik.
"Eh, apa?"
"Jangan mengelak."
Aku terkejut, pasalnya dia sadar aku yang sedang memikirkan si dia.
"Eh, maaf. Aku cuma lagi kasihan aja sama dia," ucapku. Aku mau jujur saja dari pada dituduh yang tidak-tidak.
"Kasihan apa?" Arga memelukku dengan erat, kedua matanya kini tertutup. Hembusan napasnya terasa hangat di pipi ini. Aku dibawanya semakin dalam di dalam pelukan, sehingga kulit kami yang tanpa helai kain kiki saling bersentuhan satu sama lain di dalam selimut.
"Tadi, aku dengar dari laki-laki yang menyusul ke rumah sakit kalau hidup Hilman sekarang menyedihkan sekali," ucapku.
"Ya, kan kamu bisa lihat sendiri dia jadi tukang parkir."
__ADS_1
"Bukan yang itu. Kalau jadi tukang parkir memang kasihan, tapi siksa batin yang dia punya sekarang ini, Pa." Arga membuka mata, sedikit kernyitan di keningnya dan menatap ke arahku.
"Siksa batin apa?" tanyanya dengan nada yang penasaran.
"Itu kata anak yang datang menyusul kita ke rumah sakit kalau Mas Hilman ...." Aku bercerita yang aku dengar tadi dari laki-laki itu. Aku ceritakan saja meski ini adalah aib dari Mas HIlman, tapi semoga setelah Arga mendengar hal itu mungkin akan ada satu bantuan yang lain untuk dia dan keluarganya.
Aku bercerita apa yang aku dengar tadi dari pemuda itu, Arga hanya diam, sesekali menganggukkan kepalanya, tanda paham.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan?" tanya Arga setelah aku menyelesaikan ceritaku.
Aku menggelengkan kepala. "Tidak tahu," jawbku.
"Kok gak tau. Kamu cerita ini supaya aku membantu dia kan?" tanyanya.
Aku kini memilih menggelengkan kepala, meski iya di dalam hati berharap banyak akan bantuan dari Arga untuk meringankan masalahnya.
"Enggak juga. Aku cuma mau kamu tau saja. Untuk masalah bantu atau tidak, itu kan hak seseorang," ucapku. Akan tetapi, dalam hati menginginkan dia membantu Mas Hilman untuk keluar dari masalahnya.
"Ya sudah, sekarang tidur, yu. Ini sudah malam, besok kita jalan santai pagi?" tanyanya. Aku mengangguk. Setiap pagi memang aku bersama dengan Arga rutin melakukan jalan santai selama dua puluh menit, tidak jauh, hanya berjalan di luar saja sambil mencari sarapan yang ada di luar.
"Menurut kamu, kalau aku bantu dia dengan terang-terangan apakah dia akan mau?" pertanyaan Arga membuat aku membuka kembali kedua mataku.
"Apa, Pa?"
"Aku tanya, kalau aku memberikan bantuan untuk dia apakah kiranya dia mau?" tanyanya sekali lagi. AKu terdiam kini, melihat dari sikap Mas Hilman yang keras, memang sepertinya akan sedikit susah untuk membantunya.
"Aku gak tau," ucapku.
Helaan napas kasar terdengar dari mulutnya. "Nanti kalau kamu ketemu sama dia, kamu bisa bersikap layaknya gak tau apa-apa, kan? Kasihan dia kalau kita mengasihani. Aku takut dia malah akan menolak kebaikan dari kita," ucapnya lagi.
"Aku paham, Pa," ucapku sekali lagi seraya mencium pipinya. Bahagia sekali mendapatkan suami yang sangat perhatian sekali dengan ku, peduli dengan orang lain meskipun di saat bersama dengan yang lain dia malah cuek dan juga dingin.
__ADS_1
"Terima kasih, Pa. Kamu baik sekali," ucapku sekali lagi.
"Tentu saja aku baik, karena aku ingin menjadi suami yang bisa kamu banggakan," ucapnya dengan senyuman.
Aku melesakkan kepalaku pada lehernya, menghirup bekas aroma keringat yang ada pada kulitnya akibat pertarungan sengit kami tadi.
"Kamu, kok mau sih bantu dia? Kan dia itu mantan aku?" tanyaku.
"Memang kalau mantan kenapa?"
"Ya, aku pikir sangat aneh gitu kan membantu mantan suami dari istrinya."
"Ya gak aneh lah, aku lebih ingin membuat istriku bahagia, dan tidak mau bikin dia sedih. Meskipun aku harus sedikit berkorban untuk mantan, tapi aku tidak masalah, yang terpenting istriku ini tersenyum," ucapnya. Wajahnya yang tampan kini aku tatap. Tak menyangka jika Arga sebaik ini.
"Aku boleh tanya?" Kali ini aku mengajukan pertanyaan padanya.
"Tanya apa?"
"Kamu lakukan ini buat aku, bagaimana hati kamu.
"Bagaimana hatiku gimana?" tanyanya. Ah, aku sedikit takut kalau ternyata aku yang egois. Dia melakukan ini untukku tapi aku tidak memikirkan perasaannya.
"Hati kamu, apa kamu tidak sakit hati melakukan ini untukku? Sedangkan dia adalah mantan suamiku?" tanya ku lagi kepadanya. Tidak aku sangka ternyata Arga tertawa sekarang, membuat aku menatapnya dengan heran.
"Aku juga punya hati ada kalanya sakit hati, tapi itu dulu sekarang aku berpikir untuk kebahagiaan kamu maka aku juga harus melakukannya dengan ikhlas. Sudah nggak ada lagi ego untuk menjadikan hati ini terasa sakit, karena aku tahu aku sudah menjadi pemenang darinya. Aku sudah mendapatkan kamu, aku sudah menjadi suami kamu, apalagi yang aku takutkan?" tanya dia dengan tawa kecil pada bibirnya. Hal itu membuatku tersenyum senang, sekaligus merasa bersalah karena membuat dia seperti itu.
"Maaf aku sudah merepotkan kamu sedari dulu."
Arga kini memelukku semakin erat. "Tidak masalah. Justru aku sengaja kena direpotkan oleh istriku sendiri, aku merasa menjadi laki-laki yang sangat dibutuhkan." Dia mencium keningku dengan lembut. Aku bahagia menerima semua perlakuan darinya.
"Terima kasih kamu memang suami yang terbaik."
__ADS_1
Arga tersenyum dan meminta ku kini untuk tidur kembali.
Selang dua hari kemudian, Arga berkata bahwa dia telah menemui Mas Hilman dan berbicara tentang apa yang menjadi maksudnya kemarin. Alhamdulillah laki-laki itu langsung menerima tawaran pekerjaan dari Arga. Aku senang karena akhirnya Mas Hilman lebih memilih pekerjaan tersebut daripada di parkiran.