
Kami kembali pulang ke rumah dari rumah sakit setelah selesai pemeriksaan, statusku kali ini resmi menjadi ibu hamil. Senang sekali rasanya. Penantian selama ini aku dapatkan di pernikahan ku yang baru berjalan tiga bulan dengan dengan Arga.
Aku normal, tapi kenapa aku dengan Mas Hilman aku tidak bisa hamil? Sedangkan Mas Hilman dengan Hana yang baru menikah, tak lama mendapatkan kabar kehamilannya.
Aku mengelus pelan perutku, masih tidak menyangka karena pada akhirnya ada sebuah nyawa kecil yang harus dijaga di dalam sini. Delapan bulan kemudian akan ada tangis keras bayi yang bisa aku gendong.
"Kamu mau makanan apa?" tanya Arga padaku, menarikku dari dalam lamunan yang indah. Dia menunjuk ke arah depan di mana ada bangunan sekolah dan banyak sekali penjual makanan di depan sana.
"Gak mau, ah."
"Yakin gak mau? Kali aja kamu ngidam?" tanya Arga lagi. Dia memperlambat laju mobilnya saat kami ada di depan sana.
Makanan di sana, memang makanan yang sering ku makan dulu, kesukaanku. Akan tetapi, kali ini aku tidak mau makan itu.
"Gak mau. Kalau boleh, aku ingin ke rumah ibu, Pa." Ku tatap Arga dengan memohon. Ingin sekali rasanya memberi tahu kabar baik ini kepada ibu. Ibu pasti akan sangat bahagia sekali akan menjadi seorang nenek.
"Tentu boleh. Ayo kita ke sana," ucapnya sambil tersenyum.
"Gara mau jajan gak?" tanya Arga kini pada putranya.
"Gak ah, ke rumah nenek aja!" seru anak itu dari belakang.
"Oke. Let's go!" seru suamiku dengan semangat.
Mobil melaju kembali dengan kecepatan normal. Di depan sana, Arga memutar balik arah mobil ini menuju ke rumah ibu.
Sesekali, tangan Arga terulur untuk mengelus perutku. Dia tersenyum senang sedari tadi kami masih ada di ruangan dokter. Tak pernah senyum itu luntur dari bibirnya. Hangat elusannya sangat nyaman sekali, membuat moodku sangat baik hari ini.
"Aku seneng sekali, Yu. Akhirnya aku bisa punya bayi lagi," ucapnya sambil tersenyum.
"Iya, aku juga seneng. Aku akan jadi ibu sebentar lagi."
__ADS_1
"Gara akan jadi Abang!" Teriak Gara dari belakang.
"Gara harus baik sama dedek bayi, ya. Jangan dijahilin kayak adiknya Reno!" Peringat Arga.
"Enggak! Itu kan adiknya Reno. Kalau adik Gara mah gak akan dijahilin, lah!" ucap anak itu.
"Ya kali aja, kamu kan suka gemes sama adiknya Reno. Diganggu sampai nangis," tutur Arga.
"Itu kan karena Silvia memang cengeng," ujar anak itu lagi. Aku tertawa mendengar pembelaannya.
"Gara, mau cengeng atau enggak, kamu itu sudah besar. Harusnya kamu sama Reno bisa jagain adiknya," ucapku, melirik pada Gara yang kini sedikit cemberut.
"Habis, Silvia nyebelin. Apa yang Gara sama Reno pegang dia mau!" tutur Gara dengan kesal. Selalu saja jika kami bermain ke rumah sepupu Arga, ketiga anak kecil itu malah bertengkar. Kebanyakan Silvia yang sering menangis, entah apakah Gara atau kakaknya yang membuat anak kecil itu menangis.
"Pokoknya, kalau dedek bayi nanti lahir, bantu Mama buat jagain ya," pintaku pada Gara.
"Siap!" teriaknya dengan semangat sambil menempelkan tangannya di kepala bersikap hormat. "Panggil Gara Abang dong. Kan Gara bentar lagi jadi Abang!" ucapnya meminta.
"Iya. Siap, Abang!" ucapku, Arga tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Ih! Gak lah! Enak aja! Jangan bilang kalau Papa mau sama Mama sendirian ya. Gara ... eh, Abang kan juga mau tidur sama Mama!" ucap anak itu protes.
Aku tertawa mendengar ayah dan anak itu yang kemudian saling berbalas kalimat.
Empat puluh menit lamanya, kami di jalan. Akhirnya kami sampai di rumah ibu. Dengan gerakan cepat aku turun, sehingga tidak menggubris peringatan Arga yang menyuruhku untuk berhati-hati. Aku terlalu senang dan tidak sabar untuk memberi kabar bahagia ini kepada ibu.
"Assalamualaikum." Aku berseru sambil membuka pintu rumah. Rumah sepi, tak ada ibu maupun Mbak Yani, wanita yang menemani ibu di sini.
"Bu!" teriakku lagi. Ibu masih belum terdengar suaranya. Kucari ibu di halaman belakang rumah, di mana biasanya beliau memberi makan ternak ayamnya.
"Mana ibu?" tanya Arga padaku saat masuk ke dapur. Arga mengambil air dan menenggaknya, terlihat rakus sekali.
__ADS_1
"Gak tau, gak ada ibu. Kemana, ya?" Aku jadi khawatir, tidak biasanya ibu pergi ke luar tanpa mengunci pintu.
"Aku tanya ke Yu Tarni deh, kamu duduk dulu." Pintaku padanya. Arga pergi mendahuluiku dan bergabung dengan Gara yang sudah duduk manis di depan akuarium sambil mencelupkan tangannya ke dalam sana. Sedangkan aku pergi ke rumah Yu Tarni dari pintu samping.
Baru saja aku akan menutup pintu pagar, Ibu sudah memanggilku. Beliau baru saja datang bersama dengan Yani di belakangnya.
"Ayu mau kemana?" tanya Ibu sambil menggerakkan tangannya memanggilku.
Aku tersenyum senang, kembali ke rumah dan menutup pagar. Setengah berlari mendekat dan memeluk ibu.
"Aku kangen ibu," ucapku padanya, padahal aku baru saja kemari sekitar empat hari yang lalu.
"Ibu juga kangen. Kamu tumben ke sini, sama Arga?" tanya Ibu, aku menganggukkan kepala. Kami mulai masuk ke dalam rumah.
"Loh, ini kan bukan hari libur, kok gak ke kantor? Gara gak sekolah?" tanya Ibu setelah melihat suami dan anakku di depan akuarium. Mungkin karena melihat Arga sudah memakai jas dan Gara yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Kami dari rumah sakit, Nek!" seru Gara turun dari kursinya dan menghambur ke pelukan Ibu.
"Loh, siapa yang sakit?" tanya ibu bingung dan khawatir.
"Mama," seru Gara. "Mama ke rumah sakit. Gara mau jadi abang, Nek!" serunya lagi sambil melompat dengan bahagianya.
Yaah, padahal aku ingin bilang itu sendiri pada ibu, malah keduluan sama Gara.
"Hah? Abang?" tanya ibu dengan bingung.
"Iya, Gara akan jadi abang!" Gara tidak berhenti melompat senang.
"Iya, Bu. Gara akan jadi abang. Ayu sedang hamil lima minggu," ucap Arga. Lagi-lagi aku tidak punya kesempatan untuk bicara pada ibu. Ya, sudah lah.
"Ha, beneran ini?" tanya ibu dengan tidak percaya. Ibu sampai menutup mulutnya dan menatapku dengan mata yang bulat. Aku menjawab dengan senyuman dan anggukkan kepala, mengelus perutku yang masih rata.
__ADS_1
"Beneran, Ayu?" tanya ibu lagi. "Alhamdulillah!" serunya, lalu memelukku dengan sangat erat. Wajah ini tidak lepas dari ciuman bibirnya yang hangat.
"Alhamdulillah. Alhamdulillah. Akhirnya doa ibu selama ini terkabul, Nak. Alhamdulillah," ucap ibu berkali-kali, lalu Ibu mengambil arah kiblat dan sujud syukur atas apa yang kami dapatkan hari ini.