Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
83. Saudara Kembar Dokter Wira


__ADS_3

Sore ini Dokter Wira menjemputku. Kami akan pergi ke pesta pernikahan saudaranya yang katanya tak jauh dari rumah, dia bilang mungkin sekitar satu jam perjalanan.


Kami berangkat sebelum magrib, agar saat sampai nanti Dokter Wira bisa bertegur sapa dahulu dengan anggota keluarganya yang lain, katanya.


Aku agak sedikit tak suka dengan pandangan dokter Wira yang seperti itu terhadapku. Tatapan matanya serasa membuat aku sesak karena dia perhatikan seperti itu. Ingin rasanya aku turun dari mobil ini jika tatapannya seperti itu terus menerus.


"Ehm ... Mbak Ayu terlihat beda sekali malam ini." Dia mengeluarkan suaranya setelah beberapa menit kami sudah ada di dalam perjalanan.


"Eh, saya beda kenapa? Terlihat tidak baik, ya? Apakah terlihat aneh?" tanyaku padanya. Bukan aku tak tahu apa yang dia maksud barusan, tahu sekali.


"Eh, tidak. Bukan begitu. Bukan aneh. Justru Mbak Ayu terlihat sangat beda. Cantik," jawabnya dengan malu-malu.


Aku hanya tersenyum menanggapinya.


"Ah, Dokter bisa aja. Saya cuma pakai pakaian biasa aja, dan gak bisa pakai make up," ujarku. Pada kenyataannya aku memang tak banyak memakai riasan, tapi cukup untuk tidak mempermalukan seseorang yang membawa ku ini.


"Tapi terlihat beda dengan biasanya."


"Ah, Dokter. Mungkin karena biasanya saya gak pakai make up. Sehari-hari kan saya polosan," ucapku. Dia tertawa malu.


Kami terdiam sesaat. Lampu dari mobil yang ada di depan kami lumayan menyorot dengan kuat hingga membuat silau sesaat. Mobil terus berjalan menembus ramainya kota.


"Mbak Ayu. Bisa tidak ... kalau Mbak Ayu jangan selalu panggil saya dengan sebutan Dokter? Rasanya kaku sekali kalau di dengar," pintanya.


"Eh, terus saya harus panggil apa dong? Kan Dokter ini memang dokter?" tanyaku. Duh, ini ... setelah ini aku harus memberi ketegasan pada dokter ini. Kasihan dia kalau terus berharap.


"Ehm, panggil saya yang lain saja, Mas mungkin?" Dia berkata dengan lirih.


"Eh?"


"Itu, tapi tidak apa-apa. Senyamannya Mbak Ayu aja. Saya tidak memaksa. hanya saja rasanya panggilan Dokter serasa berlebihan buat saya, apalagi ini di luar area rumah sakit," ujarnya.

__ADS_1


""Emm ... Maaf Dokter. Rasanya saya belum terbiasa dengan sebutan lain untuk Dokter. Kaku sekali lidah ini setelah sekian lama memangil Dokter dengan sebutan itu, kemudian mengganti panggilan lain." Ku lirik dia sedikit kecewa. Dia tersenyum kaku lalu kembali fokus pada perjalanan kami.


"Oh, ya sudah. Gak pa-pa."


Setelah itu kami kembali diam. Perjalanan serasa sangat jauh di rasa karena aku pikir Dokter Wira mengendarainya lambat. Aku memang jarang sekali memakai mobil, tapi aku cukup tahu kecepatan. Dia lebih lambat membawa mobi lini di banding Mas Hilman.


"Mbak Ayu, bisa saya minta tolong sama Mbak Ayu nanti?" tanya Dokter Wira.


"Iya? Tolong apa?" tanyaku balik.


"Em ... itu, nanti di sana bisa tidak Mbak Ayu tidak panggil saya Dokter?" Dia lagi-lagi terdiam, seperti bingung akan bicara apa. Terlihat mulutnya terbuka, lalu kembali terkatup.


"Oh, itu. Saya paham maksud Dokter. Tenang saja. Saya akan membantu Dokter," ucapku. Dokter Wira tersenyum dengan canggung. Terlihat dia menggaruk belakang kepalanya.


"Terima kasih."


Setelah itu tak ada lagi percakapan di antara kami.


Aku dan Dokter Wira perlahan memasuki gedung itu. Sudah banyak tamu yang datang ternyata. Kami mengantri untuk dapat memasuki gedung itu.


Kami mendekat ke arah segerombolan orang yang ada di dekat panggung.


"Paman, Bibi," sapa Dokter Wira. Dua orang yang di panggil menolehkan kepala. tersenyum senang melihat kedatangan keponakannya.


"Wira! Sudah lama gak ketemu!" seru seorang wanita, masih terlihat muda, memeluk Dokter Wira dengan erat. Tadi dokter Wira mengatakan jika pemilik pesta adalah paman dan bibinya.


Mereka melepas pelukan kini Dokter Wira mendekat ke arah sang paman sedangkan bibinya mendekat padaku.


"Iki sopo? Duh, ayune!" Bibi menarikku dan memelukku, menempelkan pipi kanan kirinya bergantian denganku, membuat canggung.


"Ini em ... teman," jawab Dokter Wira dengan melirikku, terlihat tatapan tak enak hati atau entah kecewa saat mangatakan itu.

__ADS_1


"Lah, Bibi kira calonmu loh Le," Bibi tersenyum tanpa canggung mengusap lenganku. AKu balas tersenyum pada Bibi.


"Doakan saja, Bi. Semoga nanti bisa semakin dekat," ucap Dokter Wira. Aku lebih memilih diam dan tersenyum saja.


Selain dengan bibi dan paman tadi, Dokter wira juga bertegur sapa dengan yang lain. Sama seperti tadi saat bertemu dengan bibi dan pamannya, yang lain juga mengira kalau aku ini adalah calon istri Dokter Wira. Lagi-lagi Dokter itu mengucapkan hal yang sama, seperti tadi pada paman dan bibinya, doakan saja.


Ya sudah lah, suka-suka dia saja dulu. Benar kata Ibu kemarin, anggap saja kalau aku sedang membantu dia sekarang ini. Asalkan dia tidak keterlaluan, aku akan diam.


Setelah bertegur sapa dengan kerabat, kami pergi ke panggung pelaminan. Menyalami serta memberi selamat kepada kedua mempelai. Mereka terlihat sangat cantik sekali dengan riasan sederhana, tapi terlihat sangat elegan. Gaun modern yang melilit di tubuh pengantin wanita terlihat sangat indah. Melekat indah pas di tubuhnya.


"Selamat atas pernikahan kalian ya," Suara itu aku kenal saat kami selesai menyalami pengantin pria.


"Mbak Wanda! Alhamdulillah, Mbak bisa datang kemari! Aku kira Mbak sibuk gak bisa datang," ujar pengantin perempuan terdengar senang. Mendengar nama Wanda disebut, aku menolehkan kepala. Bingung iya, kenapa Mbak Wanda ada disini?


"Aku kira Mbak akan datang sama si Wira, tuh ternyata dia datang sama calonnya!" seru wanita itu pada kami degan menunjuk menggunakan dagunya. Mbak Wanda menatap kami dan tersenyum, aku balas tersenyum seraya mengangguk.


"Akhirnya sebentar lagi Mbak Wanda akan punya adik ipar. Kapan Wira, kamu akan menjadi pengantin seperti kami? Masa saudara kembar aja sudah punya anak satu kamu masih belum. Payah!" cercanya.


"Eh, saudara kembar?" Tak sengaja aku bicara karena terkejut sebenarnya dengan apa yang pengantin wanita ini katakan. Dokter Wira terlihat menjadi canggung, salah tingkah.


"Loh, emang si Wira gak bilang kalau punya kembaran? Ini!" tunjuknya pada Mbak Wanda.


"Dasar Wir, Wir! Kamu sama calon kok gak bilang punya kakak kembar. Dasar adik durhaka!" cerca wanita itu lagi dengan kesal. Dokter Wira hanya tersenyum canggung, semakin salah tingkah.


Ya ampun, jadi selama ini Dokter Wira berbohong? Mbak wanda bukan temannya, tapi kakaknya! Apa maksud dia berbohong seperti itu? Pantas saja jika aku menemukan hal yang sama dari wanita itu dengan Dokter Wira. Garis mata dan senyum merea terlihat sangat mirip.


*****


Hai hai, yuk mampir kesini sambil nunggu AYu up lagi.


__ADS_1


__ADS_2