
Bangunan madrasah dengan dua lantai itu kini sudah ramai oleh anggota pengajian. Entah mereka datang dari mana saja, tapi seragam yang mereka pakai menandakan jika mereka dari suatu daerah tertentu atau dari kelompok pengajian tertentu.
Kami, beberapa orang datang dari desa yang sama, menggunakan mobil bak terbuka untuk sampai ke madrasah ini. DIsini biasa menggunakan mobil bak terbuka karena selain harga sewa lebih murah juga karena bisa muat banyak orang.
"Ayu ikut ngaji juga?" tanya seorang tetangga yang kini bersamaan masuk ke dalam madrasah itu. Aku tersenyum dan mengangguk mendengar pertanyaannya.
"Sekarang sudah pisah semakin beda ya, semakin cantik dan bergaya!" serunya.
Aku lagi-lagi menanggapinya dengan senyuman.
"Kemarin siapa tuh yang kirim bunga? Saya lihat ada Bang Kurir bawa sekeranjang bunga, cantik bunganya. Dari seseorang ya? gak nyangka ya, baru pisah saja dah ada yang kirimin bunga!"
Setelah itu merembet pertanyaan dari ibu-ibu yang lain menanggapi obrolan soal bunga itu. Beragam tanggapan mereka, memperkirakan siapa yang mengirim bunga untukku. Hingga pada akhirnya tercetuslah satu ucapan yang tidak mau aku dengar.
"Apa jangan-jangan sudah ada yang menunggu jandanya Ayu. Duh, gak lama lagi, setelah masa iddah selesai Bu Diah akan menggelar pesta lagi, dong!" Salah satu seseibu tertawa sambil menutupi mulutnya, yang lain beragam tanggapannya, ada yang setuju dan mengamini, ada juga yang bicara kalau aku terlalu cepat untuk mengakhiri masa jandaku yang baru saja aku jalani.
"Bu-ibu, maaf. Kita ini sedang mau pengajian loh, masa udah pada cantik, rapi dan wangi kok malah omongannya begitu? Malu ah sama madrasah ini. Apalagi nanti kita akan ketemu sama ustad yang kondang, kan? Sebagai anggota pengajian Ustadz Zainudin Alamsyah yang sangat terhormat, masa ucapannya gak di saring? Ingat apa yang Ustadz bilang minggu lalu, kalau ghibah itu gak baik!" Ibu RT bicara membuat beberapa orang yang ada di sana kini terdiam.
"Saya kan cuma sekedar tanya saja Bu RT, cuma penasaran kemarin Ayu dapat bunga dari siapa," ucap seseibu yang tadi bicara.
"Sudah ah, ayo sekarang kita masuk. Nanti enggak kebagian tempat lagi!" Bu RT menggamit lengan Ibu yang tadi, membawanya melangkah ke dalam bangunan madrasah itu.
__ADS_1
Di belakang mereka berdua kami mengikuti masuk ke dalam dan mencari tempat yang masih kosong.
Hampir dua jam, pengajian ini masih belum selesai juga. Jujur saja aku sudah mulai mengantuk. Entah kenapa jika bermain HP seharian aku betah tapi mendengar ceramah dari ustad yang ada di depan kami ini rasanya menjadi ngantuk sekali. Apakah karena terlalu nyaman mendengar ceramahnya? Atau iman ku masih lemah? Ah, maafkan aku pak ustad.
Hari sudah tengah siang saat kami keluar dari bangunan madrasah itu. Madrasah yang terdapat di belakang masjid besar di kota kami. Suasana cukup asri dan nyaman ketika keluar dari madrasah dengan rumput yang terhampar luas di area depan madrasah itu. Mata yang tadi mengantuk ini kembali cerah.
"Eh, Yu. Kalau kamu sama Ustadz Zainudin gimana? Dengar-dengar lagi cari istri, loh!" seru seorang tetanggaku seraya tertawa pelan.
"Iya, Yu. Kan kalau kamu sama ustad Zainudin bangga tuh, jadi istri ustadz! Dikenal masyarakat, lagi!" seru yang lain.
Duh, obrolan para ibu-ibu ini sudah melenceng kemana-mana.
"Maaf, Ibu-Ibu. Ustadz kan orang terpandang, terkenal lagi. Gimana mau sama dia, orang Ayu aja gak kenal sama uztadz. Jangan ngada-ngada, ah!" ucapku pada para ibu itu. Kami melangkah menuju mobil degan full AC alami ini.
"Sudah ah, Jangan di teruskan. Ayu masih mau sendiri," ucapku. Aku tak mau para ibu-ibu itu terus saja mengatakan ini dan itu.
Kami naik ke mobil dan pulang ke kampung kami. Selama dalam perjalanan terus saja mereka membicarakan aku. Aku malas menanggapi. Ku sandarkan kepala ini pada badan mobil dan memilih menutup mata, melanjutkan acara tidurku yang sedari tadi sudah memberati mata.
Lima hari setelah acara pengajian itu, ada seseorang yang datang, entah siapa. Aku baru saja pulang sedari warung dan melihat ada tiga orang tamu yang sedang berbicara dengan Ibu.
"Assalamualaikum," ucapku saat memasuki rumah, berjalan dengan menundukkan tubuh dengan tangan di depan.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab dua orang itu termasuk Ibu.
"Yu, simpan dulu belanjaannya. Sini duduk dengan kami." Ibu berbicara seraya menepuk tempat kosong yang ada di sampingnya. Aku segera menurut apa yang Ibu katakan barusan.
Bu Rahmi -tetangga kami, yang juga teman satu pengajian Ibu-, ada di antara dua tamu itu. Satu orang pria tua dengan peci hitam dan sorban di pundaknya dan juga satu orang pria mungkin tak jauh usianya di atasku. Mereka tersenyum saat aku duduk di samping Ibu.
Aku menatap Ibu, wajahnya terasa aneh bagiku. Ibu menunduk saat aku menatapnya.
"Begini, Ayu. Ini adalah Kyai Amrul. Romo dari Ustadz Zainudin." Bu Rahmi memulai pembicaraan. Duh, rasanya hati ini mendadak tak enak apalagi saat tatapan dua pria itu tertuju ke arahku sambil tersenyum.
"Begini, Ustadz Zain kan sedang mencari seorang istri. Ehm ... ini ...."
"Mbak Ayu, mohon maafkan atas kedatangan kami yang mendadak ini," Kyai Amrul berbicara memotong ucapan Bu Rahmi.
"Memang benar seperti yang tadi Bu Rahmi katakan. Kami memang datang kesini untuk bertujuan meminang, maksud kami ... ingin meminta dan menanyai kesediaan Mbak Ayu untuk menjadi istri dari putra kami," ucap pria yang bernama Kyai Amrul itu. Aku tidak terlalu kenal dengan Kyai ini, Ibu yang tahu akan beliau karena sering pergi ke pengajian.
Aku menatap Ibu, meminta Ibu untuk melindungiku dari hal yang seperti ini, jika saja yang bicara adalah pria muda di sebelahnya aku pasti yang angkat bicara.
"Eh, anu Pak Kyai. Ayu ini baru saja cerai dengan mantan suaminya. Masa Iddah saja belum selesai. Masa sudah ingin di minta sama Kyai," ujar Ibu pada Kyai itu.
"Putra saya tidak masalah engan status Nak Ayu. Dia hanya ingin berkeluarga dan menyerahkan soal jodohnya pada saya. Kalau masalah caro jodoh, dia pemalu." Kyai itu tersenyum ke arahku, aku balas tersenyum lalu memilih untuk menundukkan kepala, menghindari tatapan pria tua itu.
__ADS_1
"Kalau sekiranya ta'aruf saja dulu bagaimana? Setelah Nak Ayu selesai dengan masa iddahnya kita bisa bicarakan lagi soal kelanjutannya," ucap pria itu gigih.