Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
328. Berhasil Menjelajah


__ADS_3

Aku tertawa geli melihat dia yang marah seperti itu, bibirnya mengerucut lucu, cemberut karena tidak sabar.


"Iya, aku mulai? Gak pake pemanasan lagi?" tanyaku.


"Gak usah, ini aja udah panas!" ucapnya semakin kesal. Aku tertawa lagi. Lalu memposisikan milikku lurus ke arahnya. Bersiap untuk membiarkan dia menjelajah di tempat yang gelap dan lembab.


"Bismillahirrahmanirrahim."


Aku melihat dia menggigit bibir bawahnya, sedikit terlihat pucat wajah itu meski di dalam keremangan cahaya lilin. Terlihat dia sedikit ketakutan.


"Aku mulai," pamitku padanya meminta izin, ia mengangguk pelan, mulai membuka lebar ke dua kakinya sehingga aku bisa lebih turun lagi, malu-malu wajah itu dia alihkan ke arah lain. Aku jadi ragu, apakah dia akan tahan dengan sakitnya?


Perlahan aku mendekat, memasukkan apa yang seharusnya. Sedikit menggesekkan ujungnya pada jalan masuk sehingga membuat Dewi terjengat kaget dan menatapku, lalu kembali memalingkan wajahnya lagi ke samping. Ku temukan jalan itu, dengan perlahan menusuknya. Sempit, sulit, membuat milikku sakit saat melesakkannya dengan perlahan. Satu gerakan, dua gerakkan, dia masih terdiam. Kulit paha kami saling bergesekan satu sama lain.


"Ah!" pekik Dewi saat aku memaksa masuk dengan sedikit kuat. Tangannya menahan pinggangku. Aku berhenti sejenak dan manatap dia, mata dan hidung itu sedikit memerah.

__ADS_1


"Sakit?" tanyaku pelan. Dia mengangguk dan melepaskan pinggangku. Sejenak aku terdiam, memberikan jeda untuk dia menarik napasnya dengan baik.


Aku mulai bergerak lagi, jangan sampai dia hanya merasa sakit saja tanpa mendapatkan timbal bailk dariku.


Dia pasrah, menggenggam seprai akibat aku yang kembali naik turun dengan perlahan, masih aku rasakan pada kulitku yang masuk ke dalam sana hangat dan juga sakit. Benar-benar butuh usaha yang sangat keras untuk bisa memberikan yang terbaik untuk Dewi malam ini.


Dewi hanya mendesis kesakitan, bibirnya dia gigit kuat-kuat sampai aku lihat memutih di sana. Aku mendekat dan meraup bibir itu. Awalnya dia tegang, tapi setelah beberapa saat lamanya tubuh itu menjadi rileks dan dia bisa menerima perlakuanku kembali.


Sedikit demi sedikit bergerak semakin dalam dan dalam, Dewi melingkarkan tangannya pada leherku, rasa perih di punggung akibat cakaran kukunya, tapi aku biarkan saja. Tidak mengapa, aku rela.


Gerakanku semakin intens, ku lihat dia menitikkan air mata tanpa bersuara, tetap saja bibirnya yang tipis dia gigit dengan kuat. Aku juga sakit menembusnya, seakan goa yang sedang aku jelajah ini sangat sempit dan tidak berujung, sulit, rasanya kering, sehingga belum sampai pada satu hal yang membawa Dewi pada kenikmatan.


Entah berapa lama kami bergulat, masih dengan gerakan yang pelan namun kuat. Tak terkirakan lagi air mata yang keluar dari mata cantik istriku.


"Wi, apa kita berhenti dulu?" tanyaku pada Dewi, rasanya kasihan juga setelah beberapa saat lamanya kami belum berhasil. Dia menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Sudah tanggung, ayo selesaikan," ucapnya dengan lirih dan tersenyum.


Aku kembali melanjutkan misiku, kali ini dengan gerakan kuat karena Dewi yang meminta.


"Ah, susah sekali!" ujar ku pada Dewi di antara suara nikmat dan sakit ku. Peluh sudah keluar dari kulit tubuh ini. Begitu juga dengan Dewi. Dia sudah merah di wajahnya dan juga keringat di sana.


Dewi tidak berbicara, dia kembali memelukku dengan erat dan bertahan, sehingga akhirnya ....


"Ah!" Teriak suara itu keras saat aku berhasil melubanginya. Setelah beberapa gerakan yang nyata dan kuat aku bisa mencapai ujung lorong dan menjebol gawangnya. Dewi telah sempurna menjadi seorang istri malam ini.


Aku berhenti sejanak. Menatap wajah Dewi yang basah. Wajah itu aku usap dengan perlahan, ku kecup kening dan bibirnya sekilas.


"Sudah ini kamu gak akan sakit," ucapku. Dia mengangguk. Kembali ku kecup seluruh wajah itu sambil bergerak lagi. Kali ini dia tidak menangis, hanya menurut memejamkan matanya saat aku meminta.


Dewi tidak lagi menangis, tidak lagi mengeluh sakit, yang terdengar kini hanya suara indah di antara kami berdua, menyebutkan nama masing-masing. Saling berpelukan dan merasakan nikmat sebuah hubungan yang halal.

__ADS_1


__ADS_2