Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
35. Aku Kapan Punya Anak?


__ADS_3

Aku tidak tega mengatakan soal apa yang Ibu minta kepada Ayu. Istriku ini adalah wanita yang sangat pengertian. Dia juga penyayang. Aku bangga dan bahagia mendapatkan wanita seperti dia yang menerima aku apa adanya.


"Mas sudah pulang?" tanya Ayu saat aku baru saja masuk ke dalam rumah. Ayu tersenyum sambil mendekat dari arah dapur, segera dia meraih tanganku untuk dikecupnya. Perasaan hangat selalu saja menjalar di dalam relung hatiku saat mendapati perlakuan manis istriku ini.


"Kamu kok tumben pulang jam segini, lembur?" tanyanya seraya meraih tas kerjaku dan membawanya ke dalam kamar. Aku mengikutinya masuk dan memeluk tubuhnya dari belakang. Aroma sabun dengan wangi buah tercium dari tubuhnya meskipun aku yakin Ayu sedang masak saat ini, terlihat dari celemek yang masih terpasang di tubuhnya.


"Ada tambahan pekerjaan sedikit," jawabku berbohong. Aku tidak tahu apa yang harus aku bicarakan dengan Ayu tentang kejadian ini.


"Kok tumben sih nggak telepon aku? Dari tadi aku telepon kamu, tapi nggak diangkat," ucapnya lagi membuat aku terdiam. Ah, ternyata aku melupakan istri ku tadi. Biasanya memang aku memberikan kabar jika telat pulang, tapi kejadian tadi membuat aku lupa melakukan hal itu.


"Tadi aku sibuk sekali. Aku ingin segera membereskan pekerjaan supaya cepat pulang, jadi aku tidak lihat hp," kilahku.


"oh, tadi aku sempat khawatir sama kamu, takut kalau kamu ada apa-apa soalnya aku telepon gak diangkat terus. Aku juga kirim pesan tapi belum dibuka sama kamu," ucapnya dengan nada khawatir.


Aku semakin mengeratkan pelukanku padanya. senang mendengar rasa khawatirnya kepadaku. Dia selalu saja seperti itu. Sedari dulu Ayu memang seperti itu, selalu saja besar rasa khawatirnya bahkan saat aku terlambat tiga puluh menit sekalipun.


Ingat dengan apa yang Ibu katakan tadi, apakah yang harus aku lakukan?


Aroma yang menguar dari kulit tubuh Ayu terasa manis di indra penciumanku. Sejak menikah dengan wanita ini seakan dia sudah menjadi candu. Semua yang ada pada dirinya, kelebihan dan kekurangannya adalah semacam kesempurnaan yang Tuhan berikan dalam hidupku.


"Awas ih aku belum selesai masak," ucapnya sambil menggeliat dalam pelukanku. Dia tidak pernah tahan jika aku mencium lehernya seperti ini. Tidak bisa diam karena geli. Ayu berusaha melepaskan diri, mencoba menyingkirkan kedua tanganku yang melingkar di perutnya, tapi aku tidak mau melepaskannya begitu saja.


"Mas, lepasin!" serunya dengan nada yang mulai terdengar kesal. "Aku masih masak loh, nanti gosong!"


"Biarin aja kalau gosong. Kita bisa makan di luar," ucapku dengan tidak peduli, semakin gencar menelusuri leher ini dengan ujung hidungku.

__ADS_1


"Mas ih geli! Berhenti! Aku masih masak!" ulangnya lagi dengan berseru kesal. Dia memukul lenganku agak keras memintaku untuk melepaskannya. Akhirnya dengan terpaksa aku melepaskan dia. Wajahnya sudah terlihat marah, kalau sudah seperti itu Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Istriku, kalau sudah marah, ya begitu. Bisa-bisa puasa aku nanti malam!


Ayu berbalik ke arahku, dia melotot dengan tajam. "Kamu ini kebiasaan ya! Pulang kerja itu langsung mandi jangan peluk-peluk. Bau!" serunya dengan kesal lalu tanpa bicara lagi dia keluar dari kamar.


Aku menatap kepergiannya. Haruskah aku mengatakan permintaan Ibu kepadanya?


Aku bingung sekali, di satu sisi adalah ibuku, tapi di sisi lain adalah istriku.


"Mas cepetan mandi!" teriak suara dari luar.


"Iya!" Aku balas berteriak. Segera aku mengambil handuk yang menggantung di pintu.


Makanan telah tersedia di atas meja. Beberapa di antaranya adalah makanan kesukaanku. Semua yang Ayu masak adalah makanan yang sering aku makan. Jarang sekali aku melihat dia memasak apa yang dia mau.


"Mas mau makan sama apa?" tanyanya dengan senyum yang tidak pernah luntur dari bibirnya.


"Aku makan apa saja yang kamu masak," ucapku sambil menatap ke arahnya. Kutopangkan dagu di atas telapak tangan. Menatapnya dengan lamat. Istriku ini selalu saja cantik. Tidak pernah bosan aku menatap dia.


"Nih ayo cepat makan," ucapnya seraya menyodorkan piring yang telah berisi nasi dan lauk yang tadi dia masak.


"Mas ini!" serunya lagi saat aku tidak juga kunjung mengambil piring itu dari tangannya. Dengan kesal dia menyimpan piring itu di depanku. Bibirnya mengerucut lucu sambil bergumam tidak jelas.


"Kamu itu kenapa sih? Kok dari tadi liatin aku terus?" tanyanya saat aku tidak memulai makan.


"Nggak papa. Cuma pengen lihatin kamu aja," jawabku.

__ADS_1


"Udah deh makan dulu. Lihatin aku nya nanti lagi. Nanti kalau nasinya keburu dingin gak enak," ucapnya. Aku tersenyum melihat Ayu yang bergumam sambil mengunyah makanannya. Dia selalu saja terlihat cantik meski sedang marah seperti itu.


Kami sudah selesai makan malam. Seperti biasa kami menghabiskan waktu sebelum tidur di depan televisi di ruang keluarga, sekaligus ruang tamu di rumah ini.


Rumah ini tidaklah besar, hanya ada beberapa ruangan saja. Aku belum mampu memberikan Ayu rumah yang besar dan layak. Aku harus bisa mengumpulkan uang untuk membeli rumah yang lebih besar dari ini supaya nanti jika anak-anak kami terlahir mereka punya kamar yang layak.


Layar televisi menyala, menampilkan film korea yang kini sedang tayang. Menceritakan tentang virus yang berkembang dalam tubuh manusia membuat manusia yang terkena virus itu berubah menjadi zombie.


Aku berbaring di sofa dengan kepala berbantalkan paha Ayu. Televisi berada di dekat kakiku. Tangan lembut Ayu mengusap kepalaku dan sedikit memijatnya, memberikan efek rileks dari kepenatan yang melanda akhir-akhir ini.


TV yang menyala itu tidak bisa juga membuat pikiranku ini teralihkan dari apa yang tadi terjadi di rumah ibu. Aku menatap ke arah Ayu, tatapannya tidak teralihkan dari televisi di depan kami. Sesekali dia berkomentar atau bertanya kepadaku dan aku jawab sebisaku.


"Kalau kita punya anak nanti, apa kamu mau berkorban seperti dia Mas?" tanya Ayu tiba-tiba.


"Eh apa?" Aku tersentak dari lamunan.


"Itu, loh ... kamu ya dari tadi nggak lihat apa? Itu. Aku sedih banget melihat ayahnya berkorban seperti itu demi anaknya. Yya memang sudah seharusnya juga sih, tapi kenapa sutradaranya tidak membiarkan dia selamat aja gitu. Biar mereka bisa hidup bahagia," protes Ayu dengan menunjuk ke arah TV.


"Namanya juga film Yu. Sutradara kan juga ada pemikiran lain biar film ini seru dan tinggi ratingnya," ucapku. Padahal bukan hanya kali ini kami menonton film ini. Perjalanan seorang ayah dan anak yang ingin bertemu dengan mantan istri dan ibu yang berada di luar kota, tapi mereka tidak menyangka dengan apa yang terjadi di sana. Satu persatu orang itu berubah menjadi zombie.


"Kalau kita punya anak nanti, kamu mau nggak berkorban sama anak kamu?" tanyanya lagi.


"Iyalah, Yu. Masa enggak." ucapku sambil menatap ke arahnya.


"Tapi kapan ya, Mas. Kapan kita akan punya anak?" tanyanya dengan sendu. Wajahnya terlihat sedih tetap menatap ke arah layar yang menyala di depan kami.

__ADS_1


__ADS_2