Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
36. Ayu, Tidak Ingin Ditinggalkan


__ADS_3

Aku bangun dari berbaringku. Menatap wajah Ayu yang sendu dan juga sedih setiap kali pembahasan soal ini, rasanya aku juga jadi merasa bersalah jika sampai melihat dia menitikkan air mata.


Ayu mengalihkan wajahnya ke arah lain, menghindari tatapanku. Dia terlihat menahan napasnya.


"Sudah lah, Yu. Jangan pikirkan lagi soal anak. Aku gak mau kamu sedih gara-gara memikirkan hal itu. Lagipula, aku juga bahagia kok hidup seperti ini sama kamu," ucapku menghiburnya. Kutangkup kedua pipinya dengan telapak tangan. Wajah yang imut itu hanya terisak meski tanpa air mata.


"Gimana gak sedih lah, Mas. Kita ini sudah berumah tangga selama tujuh tahun, tapi kita belum punya anak," ucapnya denga pelan.


"Kita pergi ke dokter lagi, yuk!" ajaknya padaku.


Aku bingung dengan waktu yang aku punya sekarang ini. Bahkan aku juga sering kali lembur saat hari libur, membuat aku terkadang tidak punya waktu hanya sekedar untuk bermanja pada istriku sendiri.


"Aku gak bisa sering izin, Yu. Di kantor sedang banyak sekali pekerjaan. Kamu tau sendiri kan jabatanku seperti apa? Pekerjaanku juga sangat banyak sekarang ini, Kadang pulang gak jelas waktunya. Libur juga kadang gak pengaruh sama aku," ucapku meminta pengertian. Sungguh kadang aku ingin kembali ke masa lalu untuk menikmati hidupku seperti dulu. Bisa mempunyai waktu berduaan dengannya lebih banyak.


Ayu merengut, bibirnya manyun dengan lucu. Aku mendekatkan wajahku kepadanya dan mengecup bibir manyun nan seksi itu dengan lembut.


"Nanti, kalau aku sudah longgar, aku akan temani kamu ke dokter ya," ucapku membujuk.

__ADS_1


Ayu menganggukkan kepalanya, maasih dengan merengut.


"Senyum, dong. Jangan manyun gitu. Jelek!" ejekku kepadanya. Bukannya tersenyum, istriku ini malah semakin memanjangkan bibirnya ke depan.


Aku tertawa melihat tingkahnya itu. Kami memang sudah dewasa, tapi jika kami sedang berduaan seperti ini kami tidak ubahnya seperti anak ABG labil.


Kupeluk dia dan kukecup keningnya dengan mesra. Dia membalas pelukanku dengan erat.


"Mas." panggilnya,


"Hem?"


"Takut apa?" tanyaku.


"Kalau aku gak punnya anak selamanya bagaimana?" tanyaya padaku. "Apa kamu akan meninggalkan aku?" tanyanya lagi.


"Aku takut kalau sampai itu terjadi, Mas. Banyak sekali aku mendengar kalau suami akan meninggalkan istri jika sudah lama menikah tapi tidak mempunyai anak," ucapnya lagi. "Kamu ... apa akan begitu juga?" tanya Ayu lagi padaku.

__ADS_1


"Atau kamu akan menikah lagi?" tanya Ayu menambahkan.


Aku tersentak mendengar pertanyaannya yang seperit itu.


"Kamu gak akan tinggalin aku kan?" Ayu bertanya lagi sambil menatapku dengan tajam. Di dalam matanya terlihat sorot ketakukan yang teramat sangat.


Rasanya jantungku ini sempat berhenti berdetak saat Ayu menanyakan hal itu kepadaku. Apa yang akan terjadi kalau aku bilang padanya Ibu meminta aku menikah lagi?


"Enggak. Aku gak akan tinggalin kamu," jawabku sambil memeluknya erat. Aku tidak mau dia melihat mataku yang penuh kebohongan ini, walaupun sebenarnya aku juga tidak akan meninggalkan dirinya.


"Aku gak tau bagaimana jadinya aku kalau kamu meninggalkan aku, Mas. Mungkin aku egois ingin kamu tetap di sisi aku dengan keadaan aku yang kurang ini, tapi rasanya aku akan hilang arah kalau kamu gak ada. Kamu ini suami dan juga ayah bagiku," ucapnya dengan lirih. Aku terdiam mendengar ucapan Ayu ini. Tahu sekali bagaimana Ayu di saat terpuruknya akan sakit yang diderita sang ayah dulu.


"Aku gak akan tinggalkan kamu, Yu." Kucium puncak kepala Ayu dengan lembut. Dia tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya padaku.


"Terima kasih," ucapnya.


Aku mengusap rambutnya dengan lembut. Terbayang rasa sakit Ayu jika aku melakukan hal yang buruk kepadanya. Apalagi dngan status poligami yang Ibu inginkan terhadapku.

__ADS_1


Aku harus segera bertemu dengan Bapak dan memintanya membujuk Ibu untuk mengurungkan niatnya itu.


__ADS_2