
Ibu sangat senang sekali mendengar kabar berita dariku sehingga beliau sejak tadi duduk tidak mau jauh dariku. Tangannya yang sudah mulai keriput mengelus perut dengan sangat lembut. Tidak henti senyumnya itu mengembang dengan sangat lebar, berkali-kali beliau menyusut air mata yang tidak berhenti mengalir. Ucapan rasa syukur terus keluar dari mulut ibu sesekali juga menyebut bapak dan mengatakan jika akhirnya ibu dan bapak akan menjadi seorang nenek dan kakek. Meskipun bapak sudah tidak ada, tapi seakan ibu berbicara layaknya bapak ada di sampingnya.
"Mau dimasakin apa sama Ibu?" tanya ibu kepadaku dengan antusias. "Ibu tadi beli udang, kamu mau Ibu bikinin capcay?" Ibu kini sudah mulai berdiri.
Aku merasa bingung tidak tahu apakah nanti akan aku makan atau tidak. Akan tetapi, melihat wajah ibu yang bahagia seperti itu rasanya aku tidak tega juga jika aku menolak antusias darinya. Aku hanya mengganggukan kepalaku.
Ibu kemudian pergi ke arah dapur dengan langkah yang semangat, dia juga memanggil Mbak Yani untuk membantunya. Gadis itu yang sedang menyapu di luar segera berlari ke arah dapur mendekati ibu.
"Aku bantu ibu dulu di dapur," pamitku kepada Arga. Suamiku hanya mengganggukkan kepalanya, sedangkan Gara dia tidak berhenti memainkan air di dalam akuarium. Dia mencoba untuk menangkap ikan kecil yang ada di dalam sana.
"Gara awas jangan sampai tumpah airnya, nanti banjir!" Peringat Arga kepada putranya saat aku hendak melangkah ke arah dapur. Gara sedikit cemberut, karena dia sangat senang sekali dengan akuarium miliknya ini. Iya memang, ini adalah akuarium milik Gara. Awalnya kaca akuarium ini disimpan di rumah, tapi Gara selalu saja memainkannya seperti itu dan membuat basah lantai rumah. Sehingga Arga tidak tahan dan ingin membuangnya. Gara sampai menangis dan memohon, aku jadi tidak tega dan mengusulkan untuk menyimpannya saja di sini. Setiap minggu kami akan datang untuk menengok ibu juga ikan milik Gara.
Di dapur ibu sedang menyiapkan bahan, semua hampir dia lakukan sendiri sedangkan Mbak Yani hanya mengambilkan apa yang ibu perintahkan.
"Loh kok kamu ke sini? Duduk saja di depan sana dengan Gara. Biar ibu yang akan memasak," ucap ibu. Gerakannya masih lincah ke kanan dan ke kiri juga memotong bahan-bahan yang telah tersedia.
"Nggak apa-apa kok, Bu. Ayu bantu ya?"
"Jangan, tidak usah. Ini kan ibu yang ingin masak. Apa kamu mengidam sesuatu? Rujak misalnya? Nanti ibu carikan mangga muda," ucap ibu kepadaku.
__ADS_1
Aku hanya menggelengkan kepala. memang tidak ingin makanan seperti itu. Tidak ada sama sekali hasrat untuk memakan rujak masam dan juga pedas.
"Padahal dulu waktu ibu hamil kamu ngidam setiap hari makan rujak terus loh. Bapak kamu sampai pusing cari-cari mangga muda, kedondong, sama belimbing. Yang lucunya Yu, ibu juga pengen buah rambutan buat dicampur sama rujak. Bapak kamu sampai pusing nyari-nyari ke mana soalnya memang rambutan dan mangga muda lagi tidak musim, hihi." Ibu tertawa geli saat mengingat masa lalunya. Aku pun sama tertawa membayangkan kesulitan bapak saat ingin memberikan apa yang ibu mau.
Aku duduk di meja makan karena ibu tidak mengizinkanku untuk membantunya, ibu menyelesaikan pekerjaannya sambil terus bercerita tentang dulu saat ibu mengidam. Bukan hanya ingin rujak dan makanan masam, tapi saat tengah malam ibu juga selalu ingin digendong.
Aku jadi membayangkan diri ini, membayangkan kesulitan bapak waktu dulu, semoga saja untukku sendiri, aku tidak mengidam yang aneh-aneh dan tidak membuat suamiku atau orang yang ada di dekatku kesulitan. Belum terjadi, tapi dengan membayangkannya saja aku sudah berpikir jika mereka akan repot sekali.
Beberapa masakan sudah selesai ibu masak, semuanya telah terhidang di meja makan. Ibu memanggil Gara dan Arga untuk bergabung di meja makan bersama Mbak Yani juga sekalian. Akan tetapi, Mbak Yani menolak untuk makan siang bersama kami dengan alasan pekerjaan yang ada di luar rumah belum dia selesaikan. Jadilah kami hanya makan berempat.
Aku kira aku tidak bisa memakan semua ini, jika biasanya di rumah semua yang aku makan terasa hambar, tapi di sini aku bisa makan dengan sangat lahap. Masakan ibu sangat enak, sampai-sampai tidak aku sadari jika aku sudah mengambil nasi untuk kedua kalinya.
"Akhir-akhir ini Ayu tidak enak makan Bu, semua makanan yang ada di rumah katanya terasa hambar nggak enak, tapi di sini Ayu bisa makan banyak," ucap Arga mewakili ku. Dia tersenyum senang sambil membenarkan jilbabku yang melorot.
"Alhamdulillah kalau begitu, ayo makan yang banyak." Ibu menyodorkan wadah berisi nasi dan juga sayuran ke dekatku, membuat aku semakin semangat untuk memakannya. Kalau bisa aku ingin menghabiskan semua. Apa aku mulai rakus sekarang?
"Kalau begitu nanti ibu masak lagi untuk dibawa pulang ya, untuk makan malam," ucap ibu lagi aku menganggukkan kepala dengan semangat senang karena akan makan enak malam nanti. Tidak akan merasa kelaparan lagi di tengah malam.
"Aduh jadi merepotkan Ibu," ucap Arga terdengar dengan nada tidak enak hati.
__ADS_1
"Tidak masalah, yang terpenting Ayu dan calon bayinya sehat," ujar ibu dengan tersenyum senang. Aku melirik ke arah Arga yang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, sedikit takut sebenarnya. Mungkin ini hanya pemikiranku yang buruk saja, tapi aku takut jika setelah aku hamil ibu tidak lagi begitu sayang kepada Gara.
"Gara juga, mau tidak Nenek masakin?" tanya ibu kepada Gara sambil tersenyum, aku menghela nafas lega, memang pemikiran manusia itu lebih banyak suudzon daripada husnudzon, begitulah aku saat ini. Bersyukur setelah mendengar pertanyaan ibu aku jadi lega karena ibu juga ternyata peduli kepada Gara.
"Mau! Udangnya masih ada apa tidak Nek?" tanya Gara.
"Ada masih banyak. Gara mau Nenek masakin apa pakai udang itu?"
"Udang tepung aja," jawab Gara. Ibu menanggapi dengan mengangkat satu jempol tangannya.
Alhamdulillah, aku senang ternyata pemikiranku ini salah. Nyatanya ibu memang sangat sayang sekali kepada Gara.
Tidak kusangka, di bawah meja makan Arga menggenggam tangan kiriku dengan erat. Dia juga tersenyum, sambil menggerakkan mulutnya. Sekilas aku bisa membaca gerakan mulut itu. Terima kasih.
Selesai makan siang kami pamit untuk pulang. Sebenarnya ibu terlihat sangat sedih sekali dan menginginkan aku untuk menginap di rumah, tapi besok Arga dan Gara harus bekerja dan sekolah akan sangat repot jika menginap di sini. Perjalanan untuk pulang dan berangkat ke tempat aktivitas mereka lumayan jauh, waktunya tidak akan cukup jika pagi-pagi berangkat dari rumah ini.
"Janji nanti malam minggu tidur di sini ya. Biar ibu juga bisa main sama Gara," pinta ibu kepada kami.
"Iya tentu saja, Bu. Nanti malam Minggu kami akan menginap di sini. atau, Ibu yang sesekali menginap di sana. Apa Ibu tidak mau tinggal bersama kami saja biar kita bisa sama-sama?" tanya Arga kepada ibu. Ibu menggelengkan kepalanya. beliau tetap dengan keinginannya untuk tinggal di rumah ini. Sudah sering sekali kami mengajak ibu untuk pindah ke rumah, tapi ibu tetap saja tidak mau dan tidak ingin meninggalkan semua kenangan yang ada di rumah ini.
__ADS_1
Akhirnya kami pamit meskipun aku merasa berat meninggalkan ibu.