Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
37. Dukungan Bapak Terhadap Ibu


__ADS_3

Pembahasan dengan Bapak mengenai pernikahan kedua yang Ibu inginkan untukku tidak berjalan dengan baik. Malah Bapak mendukung apa yang Ibu mau. Bapak bilang, memang aku seharusnya sudah mempunyai anak. Ini sudah sangat terlalu lama aku menikah dengan Ayu.


Bapak yang memang sedari dulu keras terhadap kami, anak-anaknya. Dia tidak segan untuk marah dan tidak menganggap kami ada.


'Kalau kamu gak mau bicara sama Ayu, ya kamu gak usah kasih tau dia saja! Lagipula dia kan orang lain dalam hidup kamu. Dia itu kan cuma istri kamu, sedangkan kami ini kan orangtua kamu yang sudah mengurus dan membesarkan kamu! Kamu mau jadi anak durhaka sama orangtua?' Begitu yang Bapak bilang justru sewaktu aku mencari perlindungan dan juga pembebasan dari masalahku.


'Kamu ini jadi anak gak ada hormat sama nurutnya sama orangtua. Kami sudah izinkan kamu menikah dengan Ayu dulu, meskipun kami gak setuju sama dia. Mungkin ini sebab kenapa kami dulu gak izinkan kamu menikahi Ayu, karena dia gak bisa kasih kamu keturunan!' Bapak bicara dengan sangat keras dan juga jelas.


'Pak, aku gak mungkin menduakan Ayu. Dia pasti akan sakit hati kalau aku melakukan hal itu!' seruku padanya beberapa hari yang lalu.


'Terserah kamu saja, Hilman! Kalau kamu memang sudah gak anggap Bapak dan Ibu kamu ini, kamu terserah! Kamu sudah dewasa, tapi jangan salahkan kalau kamu pulang kesini, Ibu dan Bapakmu ini abai sama kamu!' bentak Bapak lagi.


'Coba kamu pikirkan, bagaimana Ibu kamu kalau sampai dia melakukan hal nekat lagi. Jangan sampai kamu menyesal, Hilman!'


Bapak bangkit dari duduknya dan berlalu melewatiku.


Mas Dirga juga tidak bisa membantu banyak. Dia yang pada dasarnya adalah anak penurut dan tidak pernah membangkang kedua orangtua hanya bisa terdiam melihat aku dan Bapak berbicara.


"Mas! Kenapa sih? Kok aku lihat kamu melamun terus dari tadi?" Aku tersadar saat Ayu tiba-tiba saja duduk di sampingku. Dia memberikan kopi yang sedari tadi aku abaikan. Sudah tidak panas lagi.


"Tidak ada. Aku cuma mikirin pekerjaan," jawabku.


"Oh, aku kira kenapa." Emang susah ya?" tanyanya lagi sambil mengintip ke layar laptopku.


"Gak susah sih, cuma banyak banget," kilahku berbohong.

__ADS_1


"Banyak kok masih sempat-sempatnya melamun?!" serunya. Aku hanya tertawa kecil mendengar ucapannya.


Ayu berdiri dan beralih ke belakangku. Jari tangannya yang ramping memijat bahu dan pundakku dengan sedikit tenaga. Nyaman sekali rasanya. Dia memang penyemangat dalam hidupku, penghilang rasa lelah yang aku rasakan setiap hari.


"Enak, gak?" tanyanya lagi seraya memijat kepalaku. Dia menyandarkan kepalaku pada dadanya. Aku yang memejamkan mata karena perlakuannya, tentu saja menikmati apa yang dia lakukan.


"Enak sekali." Aku menarik tangan Ayu dan mencium telapak tangannya. Satu tangan Ayu yang lain terdiam tidak bergerak di bahuku.


"Yu, kamu bahagia gak hidup sama aku?" tanyaku padanya.


"Ya bahagia lah, kenapa kamu tanya begitu?" Dia bertanya balik padaku, ada nada heran dari suaranya. Aku menggelengkan kepala ini dan menarik tangannya hingga tubuh depannya menempel di punggungku.


"Gak ada apa-apa. Cuma pengen tau," ucapku.


"Kamu aneh, Mas!" Ayu melingkarkan kedua tangannya di leherku. Pipinya yang lembut menempel pada pipi ini.


"Kamu itu bicara apa sih, Mas. Aneh ih. Aku Tuh bahagia banget hidup sama kamu. Jangan bicara aneh-aneh gitu deh. Kapan aku bilang gak bahagia sih? Apa jangan-jangan kamu yang gak bahagia sama aku karena aku ...." Ayu terdiam, tidak meneruskan kata-katanya lagi. Tiba-tiba saja terasa atmosfer yang tidak enak ada diantara kami.


"Jangan-jangan kamu yang gak bahagia karena kita belum punya anak, ya?" tanyanya dengan lirih. Aku jadi merasa bersalah dengan pertanyaan ku tadi. Akhir-akhir ini Ayu memang sensitif sekali.


"Aku juga sudah berusaha keras mengikuti anjuran dokter. Gak makan ini gak makan itu, minum obat kecil sampe obat yang besar. Olahraga, berhenti kerja. Aku harus bagaimana?" ucapnya dengan sedih.


"Maaf, Yu. Maaf. Bukan itu. Aku gak bermaksud buat kamu sedih. Maaf," ucapku menenangkan dia sambil mengusap lengannya.


Ah, tadinya aku mau bicara dengan Ayu tentang pernikahan yang Ibu dan Bapak mau. Kenapa dia jadi melow begini? Apa yang aku tanyakan tadi salah?

__ADS_1


Aku merenggangkan lengan Ayu yang ada di leherku dan membawanya kembali duduk di samping ku. Kutatap wajah itu yang kini sedih.


"Maaf, aku cuma tanya kamu bahagia sama aku apa enggak kenapa kamu sedih seperti ini?" tanyaku kepadanya.


"Maafkan aku ya, aku nggak bermaksud bikin kamu sedih. Aku cuma ingin tahu apakah selama ini aku menjadi suami yang baik untuk kamu? Aku sadar kalau aku belum bisa membahagiakan kamu, Yu." Kutangkup kedua pipinya dengan telapak tanganku yang besar kemudian menciumi seluruh wajahnya dengan rakus. Menggelitik wajah itu dengan dagu yang belum sempat aku cukur.


"Ih, Mas geli!" serunya saat aku mulai menggodanya dengan sapuan daguku di leher. Dia mendorongku untuk menjauh, tapi tidak aku berikan kesempatan dirinya untuk menjauh dariku. Aku ambil dia ke dalam pelukanku meskipun dia memberontak dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Menindihnya dengan seluruh bobot tubuhku.


"Mas, kamu berat. Awas!" serunya mencoba untuk menggeser tubuh ini darinya. Dia kembali berusaha melepaskan diri, tapi tidak bisa karena aku menahan kedua tangannya di samping kepalanya dengan tanganku. Wanita yang sangat aku cintai ini tidak bisa lagi berontak, tak berdaya di bawah tubuh besarku.


"Gak mau! Aku gak mau lepaskan kamu," ucapku sambil menatap matanya dengan lembut. Sinar mata yang sangat cerah, yang selalu aku suka saat menatapnya, hidung mancungnya, bibir tipisnya, semua yang ada pada dirinya aku sangat suka sekali.


Kuciumi wajah itu banyak-banyak sampai dia berteriak meminta dilepaskan, tapi aku tetap saja tidak peduli. Aku sangat merindukan wanita ini yang sah sebagai istriku sedari tujuh tahun silam.


Kutelusuri wajah itu dengan bibirku hingga ke leher, memberikan tanda merah yang selalu saja menjadi tanda kesenangan kami. Ayu diam saja, menikmati apa yang aku lakukan pada dirinya. Dia memang tidak pernah bisa melawanku dan bertahan lebih lama. Sehingga saat aku mulai membuka kancing baju piyamanya dia juga tidak melawan lagi.


Kini terpampang dengan sangat jelas dan nyata bagian apa yang aku sukai darinya. Benda membulat seperti balon berisi air yang sangat aku suka mainkan ketika malam hari. Jujur saja, itu adalah bagian paling favorit untukku nomor dua, sangat enak dan nikmat meski tidak ada apapun saat aku merasainya bagai bayi.


Terdengar suara seksi Ayu yang selalu sangat aku suka jika melakukan hal ini. Suara seksi itu semakin memuat aku semangat ingin menaklukan dan memberikan kesenangan batin terhadap istriku ini. Memuaskannya hinga terdengar suara kemenangan sekaligus kekalahan darinya.


Satu persatu aku membuka apa yang ada di tubuh Ayu dan melemparkannya ke lantai hingga semua terpampang di depanku ini sangat nyata dan juga terlihat indah. Lekukan tubuh yang tanpa cacat selalu saja membuatku berg*airah.


Suara-suara kami saling terdengar bersahutan meneriakkan nama yang lain diantara gerakan indah yang kami lakukan bersama dengan seirama. Lantunan detik jam mengiringi pergulatan kami yang tanpa jeda bahkan hanya untuk menarik dan mengatur napas.


Wajah Ayu memerah, napasnya tersengal saat aku membungkamnya dengan bibirku. Dia memukuli dadaku tanda meminta dilepaskan. Bulir keringat yang ada di dahi dan lehernya terus saja keluar akibat suhu dan tubuh kami yang beradu.

__ADS_1


Malam-malam yang dingin kini sudah tidak terasa dingin lagi dengan adanya selimut hangat yang terbuat dari kulit manusia yang ditakdirkan sebagai jodohku, Istriku. Ayu.


__ADS_2