Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
273. Ayu Nakal


__ADS_3

Kami mampir ke warung bakso pinggir jalan yang aku tunjuk, untuk sekedar mengisi perutku. Kami tidak makan di sana, karena aku ingin bakso tersebut tanpa kuah dan pakai tusukan, sudah seperti anak kecil saja makan bakso tusuk seperti ini, tapi ini beneran enak sekali. Aromanya wangi dan membuat aku makan dengan lahap hingga berjalan dari warung bakso tersebut sampai ke mobil saja aku sudah menghabiskan dua buah bakso ukuran kecil.


"Enak banget, ya?" tanya Arga saat dia baru masuk dan mengaitkan sabuk pengaman di depan tubuhnya.


Aku menjawab dengan anggukkan kepala. "Enak. Mau?" tawarku pada bakso yang hampir saja akan aku gigit. Dia menggelengkan kepalanya, tangannya terulur menyentuh kepalaku dengan lembut dan mengusapnya.


"Kamu habiskan saja semuanya, nanti kalau kurang beli lagi pas pulang nanti," ucapnya sambil tersenyum. Aku mengangguk dengan senang, kembali menikmati makanan tersebut.


Arga kemudian menyalakan mobil. Kami melaju meninggalkan warung bakso tersebut untuk menuju ke rumah sakit.


Sampai si rumah sakit, seperti biasa aku diperiksa, ditanya keluhan apa sampai aku kembali ke sini padahal baru seminggu yang lalu aku memeriksakan diri. Benar saja apa yang aku perkirakan, dokter meresepkan obat lagi untukku dan menyuruhku makan dengan porsi kecil tapi sesering mungkin dalam sehari, meminimalkan rasa penuh di dalam perut dan akhirnya makanan itu terbuang lagi.


Tidak lama kami di sana, tidak sampai satu jam kami sudah kembali ke lagi menuju perjalanan pulang.


Aku menatap obat yang dokter berikan, hanya satu macam, harus di minum selama satu bulan, atau setidaknya sampai nanti aku memeriksakan diri lagi. Sudah bosan, rasanya memang baru beberapa bulan yang lalu saat hamil Azka aku makan banyak obat, sekarang harus makan lagi benda tersebut.


"Sudah, itu buat kebaikan kamu juga. Tadi kan dokter juga bilang, kalau memang nanti coba makan sedikit gak mual muntah, obat itu gak perlu di konsumsi kan?" ucapnya sama dengan apa yang dokter katakan tadi. Aku hanya mengangguk lemah. Benar juga, untuk apa makan obat ini kalau tidak mual muntah?


"Ada yang mau dibeli sebelum pulang?" tanya Arga sambil melirik ke arahku. Aku menatap di tepian jalan, banyak makanan yang dijual pada gerobak, tapi aku tidak mau semua itu. Berbeda dengan kehamilan Azka waktu itu yang menginginkan makanan milik orang lain, kali ini aku tidak mau apa pun.


Aku hanya menyandarkan kepala pada sandaran kursi, menatap jalanan yang padat merayap di depan sana.

__ADS_1


Ku lirik suamiku yang sedang mengemudi, kaos putih yang dia pakai di tubuhnya sangat pas sehingga perut buncitnya terlihat di balik sabuk pengaman. Lucu sekali. Lagi-lagi aku akan samaan dengannya, tak lama perutku akan buncit lagi sama seperti dia.


"Kenapa?" tanyanya saat aku sadar tertawa kecil menatap perutnya.


"Tidak apa-apa."


"Gak apa-apa kok ketawa?" tanyanya lagi dengan nada sedikit kesal.


"Gak ada, cuma aku bayangin perut kita akan balapan lagi," ucapku sambil tertawa kembali.


"Itu sih bukannya tidak ada apa-apa, tapi memang kamu sedang berpikir, Sayang." Terdengar nada sebal dari mulutnya yang kini berdecak kesal.


"Hehe. Maaf, Sayang. Tapi aku lagi mikir, kok bisa kamu makin hari perut makin bulat, padahal dulu kotak-kotak," ucapku.


Memang terlihat sekali perbedaan saat dulu sebelum aku dengannya dan juga sekarang ini, dia memang seperti bos pada umumnya yang memiliki perut buncit.


Dia melajukan mobil dengan kecepatan yang sedang, sangat fokus dan tidak lagi berbicara sehingga aku meliriknya karena sepi yang mendera. Dia semakin tampan saja jika aku perhatikan, tidak lagi pada perutnya yang buncit, tapi pada wajahnya yang semakin tampan saat fokus seperti itu.


Aku mendekat padanya, menyandarkan kepala pada lengannya yang kokoh. Satu ciuman lembut dia berikan pada kepalaku.


"Ayu. Geli. Jauhkan tangan kamu, aku lagi nyetir ini," ucapnya sambil mengalihkan tanganku yang bermain di atas pahanya.

__ADS_1


Aku berdecak sebal, tapi tak ayal kembali lagi pada kelakuanku yang tadi. Entah mengapa ada rasa tak nyaman dan ingin dituntaskan. Mulai merambah nakal dari pahanya semakin naik saja hingga sampai di dekat pangkal pahanya. Ku rasakan tubuh suamiku kini menegang, terlihat dari tubuhnya yang mendadak kaku, sesuatu yang ada di balik celana juga terlihat menyembul daripada yang tadi.


"Yu, bisa gak jangan begitu. Aku ... ashhh." Nada yang keluar dari mulutnya membuat aku menjadi gerah meski AC menyala di dalam sini.


"Memangnya kenapa? Apa kamu gak suka?" tanyaku sambil tersenyum, tidak peduli dengan dia yang sedang mengigit bibirnya dengan kuat. Aku mainkan sesuatu di balik celananya dengan gosokan halus telapak tanganku, sesekali menyentuhnya dengan ujung telunjuk, menekannya, dan juga menggenggamnya sedikit kuat. Terasa benda tersebut semakin keras saat aku melakukan itu.


"Ah, kamu ... aku lagi nyetir," ucapnya dengan nada yang semakin parau.


"Tau, kamu memang lagi nyetir, bukan lagi berenang," ucapku tidak mau mendengarnya lagi. Tetap saja aku nakal dan menggodanya.


"Kamu mau aku berenang? Kita berenang bersama? Kamu sudah bangunkan macan tiur, Yu!" ungkapnya sedikit kesal. Aku hanya tertawa kecil.


"Arga ... aku ... mau. Bolehkah kita belok sebentar?" tanyaku padanya dengan malu. Seakan gila aku mengatakan hal ini. Ini masih siang dan aku meninggalkan dua anakku di rumah.


"Mau? Mau apa? Ngadu, kah?" tanyanya dengan heran sambil menatapku sekilas.


"Kamu sudah dua kali menikah, sudah punya dua anak dan sekarang mau punya satu lagi, masa gak ngerti!" Kali ini aku yang sebal dengannya. Dia memang tidak peka!


Arga tertawa kecil. "Ya, maaf. Kok marah, kan aku cuma nanya aja. Apa aku salah dengar atau enggak. Hehe," ucapnya sambil tertawa kecil. Aku mendengkus sebal karenanya.


"Oke deh kalau begitu, jangan lepaskan." Dia menekan tanganku pada miliknya, semakin keras yang ada di dalam sana. Aku malu, tapi jujur menikmati momen ini. Kancing celananya aku buka sampai resletingnya turun ke bawah. Rasa hangat seketika ada di dalam genggamanku, lembut, hangat, kenyal, tapi juga keras. Ah, sulit untuk mendeskripsikan benda yang kini menyembul keluar dari celananya. Kepalanya botak terlihat lucu dan menggemaskan sekali.

__ADS_1


"Ahsss, jangan keras-keras. Nanti bocor di sini bisa gawat," ucapnya padaku saat aku menggenggam dan juga memainkan telapak tanganku naik turun di sana. Aku hanya tertawa kecil dan menjaga tanganku agar tidak membuatnya benar-benar menyembur di sini.


__ADS_2