
"Dari siapa bunga itu?" tanya Ibu padaku.
"Ayu gak tau, gak ada kartu namanya," jawabku.
"Apa kamu sedang dekat dengan seseorang?" tanya Ibu lagi.
"Eh, siapa?" Aku malah tanya balik pada Ibu.
Ibu menatapku juga dengan bingung, tapi malah terkesan seperti menuduhku.
"Ayu gak ngerasa dekat dengan orang lain, Bu. Ayu aja belum selesai masa iddah, masa iya mau deket dengan orang lain," jawabku. Ibu terlihat menghela napasnya, terdengar kasar.
Wajah tua itu beliau usap, entah apa yang ada di dalam pikiran Ibu, semoga saja Ibu percaya dengan apa yang aku katakan.
"Ya sudah, Ibu mau tidur saja. Kamu sudah makan?" tanya Ibu seraya bangkit dari duduknya.
"Sudah, tadi prasmanan di sana," jawabku. Tanpa bertanya lagi Ibu berjalan meninggalkan aku di ruang tamu.
Aku duduk di sofa, memandangi sekeranjang bunga yang ada di atas meja.
Siapa yang mengirimkan bunga ini untukku? Kan Ibu jadi salah paham.
Satu yang ada di dalam pikiranku saat ini adalah dia. Mungkin saja, tapi kan baru saja kami bertemu. Apa iya dia yang mengirimkannya?
Tanpa menunggu lagi, aku mengeluarkan hp dari dalam tas kecil dan menghubungi Dokter Wira lewat pesan. Tak lama ada balasan pesan dari dia.
[Saya gak kirimkan bunga ke sana. Kalau ada niat kasih bunga, tadi saja sekalian saat saya jemput Mbak Ayu.] jawab pesan itu.
Aku kini terdiam kembali. Siapa dan siapa. Aku tidak tahu. Memang aku tidak merasa dekat dengan siapapun.
Ah, apa mungkin Diana? Awas saja kalau dia yang jahil mengirim bunga ini!
Kembali aku menghubungi seseorang, kali ini melalui panggilan.
__ADS_1
"Hah? Bunga apa? Gila ya, ngapain juga aku kirim bunga? Jeruk makan jeruk?" jawab Diana saat aku bertanya, suara yang terdengar malas khas bangun tidur kini menjadi kesal. Ya, ampun. Semakin bingung aku dibuatnya oleh bunga tak bertuan ini.
"Jadi bukan kamu? Terus siapa, ya?" tanyaku pada diri sendiri tepatnya.
"Cieee, baru aja bebas udah ada yang ngantri aja," ucap Diana menggodaku dengan nada jahilnya.
"Heh, diem deh! Aku disini lagi pusing, karena bunga ini Ibu jadi nyangka aku dekat dengan orang lain!" seruku, tapi tetap menjaga nada suaraku agar tak terdengar oleh Ibu. Ku lirik juga ke arah ruangan belakang, lampunya sudah dimatikan.
"Kira-kira siapa?" tanya Diana.
"Aku juga gak tau, tadi aku kira si dokter, tapi katanya bukan, mending tadi sekalian aja waktu ke pesta dia kasihnya ...."
"Cieeee, dah main hangout aja berdua ke pesta!" serunya lagi menambah ejekan lainnya. Aku menepuk keningku. Aduh, keceplosan!
"Di!" seruku. Dia hanya tertawa terkekeh dari tempatnya.
"Oke deh, aku mau bantu mikir, tapi kan aku gak tau kamu deket dengan siapa aja!"
"Aku gak dekat dengan siapa-siapa! Beneran deh!" seruku kesal.
"Ya sudah, lah. Aku pusing, mau tidur saja!" seruku.
"Eh, kok gak tanggung jawab?!"
"Tanggung jawab pa-an?" tanyaku bingung.
"Aku dah terlanjur bangun ini loh, gara-gara kamu telepon! Masa gak jadi ghibahnya?" protesnya.
"Ghibah? Siapa yang mau ghibah?"
"Tadi kamu kan mau ngomongin orang. Ghibah, kan?" tanyanya keukeuh.
"Bukan ghibah Didi! cuma nanya. Dah, ah. Babay!" Ku matikan panggilan telepon dan tak menghiraukan omelannya di seberang sana, tidak terima dengan panggilan ku barusan. Kalau sedang kesal dengan dia, memang aku selalu sengaja memanggilnya Didi, hehe.
__ADS_1
Sekeranjang mawar putih itu ku simpan di kamarku. Untuk beberapa bulan ke depan, Sinta tidak lagi tinggal disini, dia sedang ada KKN di luar kota. Rasanya sepi juga tidak ada si bawel itu. Tak ada lagi yang menemaniku begadang tengah malam, atau yang aku ganggu karena makanannya habis olehku.
Kira-kira siapa yang mengirim bunga ini untukku? Aku masih berpikir keras.
Ah, sudahlah! Pusing memikirkan soal bunga itu.
Pakaian dan hijab yang aku kenakan kini ku buka, sebelum tidur aku pergi ke kamar mandi dulu untuk mencuci muka, tak lupa bekas make up aku bersihkan juga.
Lagi-lagi tatapanku terhenti pada bunga itu. Entahlah, tapi rasanya menenangkan juga melihatnya, hampir seumur hidup baru kali ini aku mendapatkan bunga.
Begitu juga saat aku menyelesaikan tulisanku. Berkali-kali menatap bunga itu malah menjadikan diri ini serasa bahagia. Pikiranku lancar untuk menuangkan kalimat-kalimat indah yang aku susun dalam sebuah cerita.
Ku simpan laptop ini di atas kasur, lalu mendekat ke arah bunga itu. Aromanya aku suka, warnanya juga putih bersih. Ku bawa keranjang bunga itu lebih dekat dengan jendela. Sinar bulan yang menyorot dengan lembut dari atas sana membuat bunga ini semakin indah.
"Siapa? Siapa yang kirimkan kamu kesini?" Aku bergumam sendiri seraya menempelkan ujung jari telunjukku di kelopaknya yang putih, menunjuknya hingga bunga di keranjang itu bergoyang. Berharap bunga itu bisa bicara dan menjawab rasa penasaranku.
Terbersit pikiran lain, tapi masa iya? Ah gak mungkin! Kenapa juga aku jadi memikirkan dia. "Jangan ngaco deh, Yu!" seruku pada diri sendiri. Aku memilih menutup jendela dan membiarkan bunga itu di sana.
Pagi hari aku terbangun, sekeranjang mawar putih itu masih tetap ada di sana. Terlihat masih segar meski aku lupa tidak menaruhnya di dalam air. Gegas aku ambil dan pergi ke arah dapur, menaruhnya di keranjang sampah. Sayang memang, bunga secantik itu kini menjadi penghuni tong sampah yang bau dengan aneka macam sisa sayur yang ada di sana.
"Kenapa di buang?" suara Ibu terdengar, aku menoleh ke arah Ibu yang baru saja masuk dari pintu belakang, membawa ember kecil di tangannya.
"Gak apa-apa, Bu. Ini hanya sekedar bunga, mau sekarang atau nanti pasti akan layu juga kalau sudah diambil dari tangkainya," ujarku.
Ibu menatapku dengan tatapan lembut, kini tersungging senyum di bibirnya. "Ya sudah, mandi dulu, kita masak," ujar Ibu. Aku mengangguk dan pergi ke kamar untuk mengambil handuk dan baju.
Lagi-lagi, tatapanku tak ingin berpaling dari bunga itu saat aku akan masuk ke dalam kamar mandi. Masih memikirkan siapa yang mengirimkannya untukku.
"Yu, hari ini temani Ibu ke pengajian, ya." Ibu yang sedang mengiris bawang berbicara padaku tanpa menoleh sama sekali.
"Jam berapa?"
"Sekitar jam sepuluh nanti. Kamu bisa kan? Seminggu sekali saja temani Ibu pengajian? Ibu sudah lama gak datang ke pengajian," ujar Ibu.
__ADS_1
"Iya," jawabku lalu masuk ke dalam kamar mandi.