
Aku tidak bisa menahan laju air mataku saat sematan doa terucap dari bibir Paman. Semua orang mengangkat kedua tangannya dan berdoa bersama. Aku pun sama, sesekali mengusap air mata yang terus mengalir melewati pipi tanpa bisa aku hentikan sama sekali. Gara yang duduk di pangkuanku menatap aku dengan bingung, sehingga kepalanya miring. Tangan kecilnya terangkat untuk mengusap pipiku yang basah.
Masih tidak menyangka dengan apa yang aku alami sekarang ini. Tidak pernah terbayang olehku jauh sebelum ini jika aku dan Arga akan bersama lagi, tapi kali ini kami akan melalui hubungan kami dengan cara yang halal.
Alhamdulillah. Maha Suci Engkau ya Allah. Dzat yang telah menciptakan seluruh alam.
Wanita yang ada di samping Arga, bibi yang tadi menyebut diri sebagai Budhe-nya Gara, maju dengan menggunakan lututnya. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas.
"Alhamdulillah, terima kasih Yu. Terimakasih kamu telah menerma Arga," bisik Bibi dengan suara pelan, tapi masih terdengar jelas olehku. Terdengar pula isakan pelan di akhir ucapan Bibi.
Bibi membuka kotak cincin yang ada di tangannya dan terlihatlah sebuah cincin yang dengan berlian kecil di tengahnya. Bisa aku lihat cincin itu, benda yang aku kira tidak akan ada di dalam acara ini. Aku hanya terpaku melihatnya. Tidak menyangka sama sekali.
Semua orang terdiam melihat apa yang Bibi lakukan setelah itu, menyematkan cincin tersebut di jari manis tangan kiri ku, mewakili Arga. Kini, jari manisku kembali berpenghuni. Terlihat indah meski tampilannya sangat sederhana sekali.
"Arga yang pilihkan, dia tahu kalau kamu gak akan suka dengan hal yang mewah. Kamu suka tidak?" bisik Bibi seraya tersenyum.
"Suka," jawabku sambil mengangguk pelan.
"Terima lah ini, Yu. Ini adalah peninggalan dari nenek Arga, benda yang sangat berharga di dalam keluarga Ramayudha." Bibi mengeluarkan benda lain yang ada di dalam tasnya. Aku terpaku kembali sehingga kini tidak bisa mengatakan apa-apa. Satu set perhiasan di dalam sebuah kotak kayu yang terlihat tua, tapi memiliki ukiran yang sangat indah sekali.
"Bibi, ini terlalu berlebihan." Kudorong kotak tersebut saat Bibi menyodorkannya padaku. Bibi bilang tadi itu adalah benda yang sangat berharga, bukankah ini seharusnya mereka simpan dengan baik?
__ADS_1
"Ini adalah benda turun temurun dari leluhur kami. Sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga Ramayudha, terimalah ini, Nak. Kamu berhak memilikinya karena sebentar lagi kamu akan menjadi istri Arga, menjadi salah satu anggota keluarga kami." Kotak kayu tersebut Bibi simpan di telapak tanganku yang mendadak gemetar. Aku jadi bingung. Ku tatap Arga, untuk sekadar meminta atau membantuku agar Bibi kembali menyimpannya kembali. Aku tidak nyaman dititipi benda semacam ini.
Arga tidak berkata apa-apa, dia tersenyum di tempatnya, mata dan hidungnya merah. Dia menatapku juga hingga kami saling berpandangan satu sama lain. Senyum terlihat di sana membuat wajahnya yang tadi tegang kini menjadi bahagia.
"Terima saja Nak Ayu. Ini memang sudah jadi tradisi keluarga kami, di mana benda tersebut akan menjadi milik istri dari anak-anak kami kelak." Kini Papa yang berbicara, aku menatap Papa dan tersenyum kecil, tapi dalam hati ini sangat berdebar sekali saat benda itu sudah ada di tanganku.
"Benar, Yu. Kamu berhak menerimanya," ucap Arga. Mereka semua tersenyum padaku, aku balas senyum pula. Akan tetapi, senyum yang aku tampilkan rasanya kaku sekali. Akibat tidak menyangka dengan semua ini.
Aku menatap Ibu yang duduk di sampingku, terlihat Ibu menyusut air matanya dengan menggunakan tisu. Raut wajah bahagia terlihat di sana, juga dengan yang lainnya. Bibi dan anaknya yang kecil sampai melongo melihat isi kotak yang ada di tanganku.
"Mama Ayu sudah terrllima perrllhiasan ini, jadi arrlltinya Mama Ayu bisa bobo sama Garrlla, kan?" tanya Gara dengan polosnya memecah keheningan. Aku menoleh pada Gara yang masih betah di pangkuanku. Semua orang tertawa mendengar ocehan Gara.
"Iya. Gara akan tidur dengan Mama Ayu, tapi gak sekarang juga ya. Mama Ayu belum boleh ikut pulang bersama dengan kita," tegur Bibi dengan menunjuk tepat ke depan hidung Gara.
"Kan kita belum buatkan Mama Ayu pesta." Gara memiringkan kepalanya menatap bibi.
"Gara ingat Rael waktu itu? Kita kan datang ke pesta Mama sama Papa baru Rael. Papa juga akan bikin pesta yang bagus untuk Mama Ayu nanti, seperti itu." Arga menjelaskan. Gara hanya manggut-manggut tanda mengerti, terlihat alis anak itu terangkat sebelah.
"Ooh, jadi Mama Ayu dan Papa harrllus menikah dulu?" Semua yang ada di sana menganggukkan kepalanya secara serentak. "Kapan?"
Gara menatap Arga lalu menatapku. Pun, dengan Arga dan semua orang yang kini memfokuskan tatapannya padaku.
__ADS_1
Eh ....
"Secepatnya."
"Cieeeee, yang mau belah duren! Jangan tunggu lama! Gaskeun!!" teriak suara dari luar, menanggapi ucapan Arga.
Aku menunduk, malu rasanya karena semua orang menatapku dengan tersenyum.
"Ehem! Anu ... Pak Yoga. Maaf sebelumnya ini." Mamang berbicara sedikit terbata. Semua orang terdiam, termasuk yang ada di luar tidak terdengar lagi suaranya.
"Iya, Pak? Ada apa?" tanya Papa.
"Sebaiknya, untuk acara selanjutnya, kalau bisa jangan terlalu lama. Maaf sekali. Bukan juga kami tergesa-gesa, tapi alangkah baiknya untuk menghindari sesuatu hal yang tidak diinginkan. Anda tahu kalau status Ayu sudah pernah menikah, terkadang pandangan orang lain melihat dari sisi negatifnya saja," ujar Mamang. Kami semua terdiam.
Aku paham apa yang Mamang maksud. Status janda memang tidak salah, hanya saja terkadang orang lain hanya melihat dari sisi buruk hubungan yang kandas. Tidak peduli siapa yang salah, tetap saja sebagai wanita lebih banyak disalahkan karena tidak bisa menjaga suaminya dengan baik.
Siang tadi, Mamang memang sudah bertanya padaku masalah ini. Bertanya persetujuanku untuk menanyakan hal ini kepada Arga. Aku juga sudah bicara dengan Arga, takut jika dia kaget saat mendengarnya.
"Tenang saja, Pak. Mengenai hal itu, kami juga sudah membicarakannya dengan keluarga besar. Insyaallah, jika Bapak dan Ibu mengizinkan secepatnya kami akan mengatur acara. Bagaimana dengan Nak Ayu? Apakah keberatan jika dalam waktu yang dekat ini?" Papa berbicara, sangat sopan sekali sehingga aku menjadi sungkan terhadapnya.
"Alhamdulillah," jawab Mamang dan yang lain serentak. Selanjutnya adalah perbicaraan antar orang tua yang menentukan tanggal yang baik untuk kami.
__ADS_1
Gara turun dari pangkuanku saat seorang laki-laki melambaikan tangannya dari luar. Sesaat itu juga aku tidak sengaja melihat Arga yang tersenyum dengan menatapku. Aku gegas menundukkan kepala, merasakan dada yang berdebar dengan sangat kencang.