
"Sebentar, apakah kamu sudah gak tahan?" tanyaku menggodanya.
"Jangan banyak bicara! Siapa yang akan diterkam di sini?" tanya Arga dengan wajah yang sebal. Aku mendekatkan diri padanya dan memagut bibirnya dengan lembut, menguasai apa yang ada di dalam sana sendirian, sementara pria yang ada di bawah ku kini hanya diam, pasrah dengan apa yang aku lakukan. Dia memainkan kembali apa yang tadi telah hilang di tangannya, membuat aku tidak tahan dan mengeluarkan suara nakal dari mulutku.
Aku telah bersiap, masih tidak melepaskan bibirnya yang manis dan permainan di tangannya, ku tuntun dia yang sedari tadi berdiri dengan tegak memasuki rumahnya dengan baik, menuntunnya dengan sangat perlahan sekali. Rasa perih terasa di bawah sana, di dinding goa yang sedari tadi sudah basah. Nyatanya meski sudah pernah dimasuki olehnya, milikku masih belum terbiasa dengan ukurannya.
"Ash!" Aku hampir saja mengumpat, akibat rasa sakit yang aku rasakan meski di bawah sana sudah basah, tapi memang ukuran dia yang kelebihan otot kuat yang membuat aku ingin menangis sekali lagi.
Sadar dengan gerakanku yang tiba-tiba berhenti, Arga menarik tengkuk leherku dan memag*t bibirku dengan lembut, semakin lama semakin menggebu aku rasakan, membuat semangat dan mood ku kembali untuk melanjutkan kesakitan yang akan berujung dengan kenikmatan.
"Ah!" Tak sengaja aku melepaskan bibirku darinya dan berteriak sedikit kencang. Rasa perih itu membuat aku menutup mataku. Ku gerakkan pinggul ini naik turun sedikit demi sedikit. Ku gigit bibirku bawahku, merasakan bibir yang ada di bagian bawah tubuh menelan bulat-bulat sosis panjang berurat dengan ukuran jumbo yang perlahan masuk ke dalam sana.
Arga memegangi tanganku, menahan pinggulku dengan tangan yang lain. Perlahan menuntunku untuk bergerak naik dan turun, merefleksikan otot yang ada di bawah sana untuk mengimbangi besaran benda yang masuk ke dalam.
Deru napasku kian naik, saat benda itu sudah berada di ujung menyentuh dinding. Rasa sakit yang tadi sempat aku rasakan kini berganti dengan kenikmatan meski aku belum memulai pompaanku. Arga sekali lagi mendekat dan memag*ut bibirku, memainkan semua yang ada di dalam sana dengan rakus.
Perlahan namun pasti, ku gerakkan tubuh ini dengan gerakan yang pelan berirama. Naik dan turun seperti jungkat jungkit yang ada di taman, bedanya ini adalah taman syurga yang sedang kami tempati.
"Rasa sesak memenuhi rongga yang ada di bawah sana. Terasa sekali saat aku menggerakkan naik dan turun dengan gerakan intens.
__ADS_1
"Ah, come on, Baby!" racau Arga dengan deru napas yang berat. Matanya terpejam dan terbuka bergantian. Mulutnya mengeluarkan suara seperti desau angin yang berhembus melewati telingakku.
Aku pun tak kalah dengan suaraku, tidak akan aku malu lagi dengan keadaan ini. Aku istrinya, dan dia suamiku. Biarkan dia merasakan servis yang baik bukan?
Gerakan yang pelan kini ku percepat, masuk dan keluar dengan nikmatnya di dalam sana. Arga semakin cepat deru napasnya, merintih dan bersuara dengan seksi di telingaku. Wajahnya memerah. Dia menggeram, satu tangannya mer*mat seprai hingga berantakan.
"Ah, Oh ... Ayu!" racaunya. Dia memegang pinggulku dan menggerakkannya naik dan turun, perlahan dan lama-kelamaan semakin cepat tangan itu menggerakkan pinggulku.
Miliknya sangat besar, menggesek dinding rongga yang ada di bawah sana.
Arga menarik tubuhku, meraih d**a ku dengan mulutnya, mengisap dan memainkan dua tonj*lan kecil baik dengan mulut atau ujung jarinya. Dia lahap, bagai bayi yang sangat kehausan. Des*ah suara nakal masih terdengar di telingaku.
"Arga!" panggilku akan namanya. Dia tidak mendengarkan, masih melakukan hal yang sama dengan gemasnya.
"Ah, sakit!" Rint*ihku, menahan kepalanya. Akan tetapi, laki-laki itu tetap tidak mendengarkan, dia malah menggerakkan pinggulku naik dan turun dengan semakin cepat.
Aku lelah, pinggang dan kaki ku rasanya ingin rontok, bergerak dengan tanpa henti ke atas dan ke bawah sedari tadi, tapi aku belum juga menemukan kenikmatan ku, hanya rasa yang semakin perih yang aku rasakan di dalam sana karena gerakan ku. Perih dan perih, tapi aku masih mencoba untuk meraih puncak dan merasakan kemenangan.
"Ah! Arga. Aku ... gak kuat lagi," ucapku kini meluruh di atas dadanya. Milikku sudah berdenyut di dalam sana, tapi aku belum kalah dari dia. Arga belum juga mencapai Kl*maksnya. Terbuat dari apa laki-laki ini?
__ADS_1
Arga tersenyum menyeringai, dia mencium bibirku dengan singkat, mendorongku dengan pelan ke arah sebaliknya sehingga kini aku yang ada di bawahnya. dengan gerakan pelan, dia menggerakkan tubuhnya naik dan turun. Semakin lama gerakan itu semakin cepat dan cepat. Aku tidak tahan, rasa panas dan semakin perih membuat aku ingin berteriak. Andai ini ada di tempat lain, kedap suara, tentu aku tidak akan malu lagi untuk berteriak, menyanyikan nada yang sama seperti Arga.
Arga mengubah posisinya, dia duduk di atas kedua ujung kaki belakangnya, seperti berjongkok. Kedua lutut ku dia pegang dan dia renggangkan dengan lebar, membuat aku bisa melihat dengan jelas seberapa besar makhluk yang kini sedang mengobrak abrik lubang di dalam diriku. Terlihat dengan sangat jelas benda itu seakan perpaduan sosis dan baso urat tengah keluar dan masuk dengan gerakan yang cepat.
"Ah, Arga. Aku gak kuat!" Aku setengah berteriak, sungguh rasanya sudah sakit dan perih, aku juga lelah. Posisi ini menekan punggungku dengan kuat ke atas kasur, tapi membuat sosisnya masuk lebih dalam dan menusuk dengan nikmat.
"Ah, yang cepat, jangan berhenti." Racauku antara sadar dan tidak. Sungguh ini adalah suatu kenikmatan dan sensasi yang baru aku dapatkan dari seorang laki-laki.
Arga memompa tubuhnya semakin cepat dan deru napasnya yang sudah tidak berirama. Cepat dan semakin cepat, sehingga rasanya semakin panas dan semakin perih, rasanya sudah tidak ada lagi pelumas yang ada di sana sehingga kini mengering, tapi aneh, semakin sakit semakin nikmat aku rasakan dan ingin segera meledak.
"Arga aku ...."
"Bersama, Sayang. Aku juga ...." ucapnya dengan terbata. Dia tidak melepaskan ku begitu saja dan semakin memompa dengan cepat dan dalam sehingga terdengar suara beradu kulit kami dengan kencang. Sehingga pada akhirnya di saat milikku berdenyut dan basah, semburan cairan panas menyerang masuk ke dalam rahimku berkali-kali.
"Ah!" seruku memejamkan mata merasakan nikmat yang tiada tara.
****
**Saatnya kabuuurrr 😁✌️
__ADS_1
🚴🚴🚴🚴🚴🚴**