Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
238. Kesedihan Gara


__ADS_3

Foto yang aku berikan pada Gara tidak dia lepaskan dari tangan. Semenjak tadi saat aku berikan bingkai itu padanya, dia hanya diam dan tidak seceria seperti biasanya. Banyak menatap foto itu dan dengan sorot mata sedih.


Aku paham, siapa yang tidak akan sedih jika melihat gambaran ibunya yang telah tiada. Siapa yang tidak akan sedih jika tidak bisa tinggal dan bersama dengan wanita yang melahirkannya. Aku paham karena aku juga anak yang ditinggal salah satu orangtua, merasakan telah ditinggalkan oleh bapak.


Sudah hampir tiga puluh menit lamanya Gara menatap bingkai foto tersebut dan menatap sedih. Tidak ada kata dari bibirnya, tidak ada senyum yang terukir di sana, tak ada tingkah yang selalu membuatku tertawa.


"Abang sudah solat Dzuhur?" tanyaku pada Gara. Dia mengalihkan tatapannya, matanya sedikit memerah. Satu tangannya mengusap sudut matanya yang basah. Dia menggelengkan kepalanya.


"Ambil wudhu. Sholat di kamar Abang, yuk!" Ajakku. Gara tidak menjawab ataupun menganggukkan kepalanya, tapi dia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke arah tangga.

__ADS_1


Aku pergi ke kamar untuk mengambil mukena dan mengikuti Gara yang berjalan sambil membawa foto Haifa di tangannya. Ingat untuk naik tangga dengan pelan, akhirnya aku telah sampai di lantai atas. Gara telah masuk ke dalam kamarnya dan mengambil wudhu saat aku sudah sampai di sana. Kami melakukan solat Dhuhur bersama. Doa dan sholawat aku lantunkan untuk almarhumah Haifa. Gara mengaamiinkan semua doaku yang aku panjatkan pada Sang Maha Pencipta untuk ibunya.


"Abang. Ingat dengan siapa Abang sekarang. Meskipun Abang sekarang ada Mama, tapi Abang juga harus ingat dengan Ibu Haifa, ya." Pintaku.


"Jadi, Mama gak mau jadi Mama Abang lagi?" tanya Gara kepalanya menunduk sedari tadi, kini semakin dalam saja saat dia berbicara dengan nada yang lirih.


"Mama kan mau punya dedek bayi," ucapnya masih pelan. Aku menghela napas berat. memintanya untuk duduk semakin dekat denganku. Dia menurut. Ku peluk dia dengan erat dan mencium kepalanya.


"Dengerin Mama. Meski nanti akan ada dedek bayi. Mama gak akan ninggalin Abang. Akan tetap sayang sama Abang."

__ADS_1


"Terus kenapa Mama kasih foto ibu?" tanya Gara.


Miris sekali, ingin menangis mendengar ucapan anak ini. Sepertinya yang Arga ajarkan selama ini adalah hal yang salah sehingga Gara tidak kenal dengan siapa ibunya dan untuk apa aku melakukan hal ini untuknya.


"Itu supaya Abang gak lupa siapa yang lahirkan Abang, supaya ibu Haifa dapatkan do'a juga yang sama kayak Abang do'akan Mama. Pernah gak Abang do'akan Mama?" tanyaku padanya. Gara menatapku dan menggelengkan kepalanya.


"Mulai sekarang, Abang harus doakan juga Ibu Haifa, ya. Supaya ibu juga senang di atas sana. Ditempatkan di syurganya Allah," ucapku. Gara hanya mengangguk dan memelukku dengan erat.


Sedih saat dia kini hanya diam dan kembali memeluk bingkai foto itu di dadanya, tapi aku pikir.itu juga untuk kebahagiaan dia, untuk kebaikan dia. Tidak ingin karena aku Gara jadi melupakan ibunya. Wanita yang telah melahirkannya.

__ADS_1


__ADS_2