
Aku dan bayiku telah diizinkan pulang, keluarga besar Arga menyambut kepulangan kami di rumah, membuat sebuah pesta kecil untuk menyambut kedatangan anggota baru. Papa terlihat sangat senang sekali dengan kehadiran cucu laki-laki keduanya. Dia mencium pipi putraku dengan gemas.
"Aku jadi kakek dua cucu," ucapnya dengan haru, tangan kecil putraku dia genggam dengan lembut, memainkannya ke atas dan ke bawah. Sambutan dari keluarga yang lain juga sangat hangat sekali, beberapa kado aku lihat terkumpul di ruang keluarga, menumpuk ke atas, ada juga yang tidak dibungkus karena ukurannya yang besar, kereta dorong yang sama persis seperti yang dibeli Arga kemarin.
Suasana hangat dan meriah, tidak membuat bayi yang tengah tidur di pangkuanku terganggu. Dia seakan tidak peduli dengan riuhnya suara yang ada di sini.
"Gara sudah punya adik sekarang jangan manja!" tunjuk paman Gara padanya.
"Nggak! Siapa yang manja. Abang gak pernah manja! Iya, kan Ma?" tanyanya padaku. Aku menjawab dengan anggukkan kepala seraya tersenyum kepadanya.
Hingga sampai jam sepuluh malam mereka masih ada di sini. Semua orang berlarut dalam kegembiraan. Akhirnya setelah acara yang mereka buat selesai, masing-masing mereka kembali ke rumahnya.
Aku belum bertemu dengan Mama, tidak tahu juga apakah Nira sudah memberitahu kabar bahagia ini atau tidak. Yang pasti tidak untuk sekarang karena ini sudah terlalu malam.
Bayi aku tidur kan di dalam kotak tidurnya, di atasnya terdapat lampu untuk menghangatkan. Waktu siang tadi Arga berkonsultasi kepada dokter dan bertanya apa yang sebaiknya disiapkan di rumah dengan kondisi keadaan putra kami yang seperti ini. Akhirnya dokter mengusulkan untuk kami membeli box tidur dan memberikan tambahan lampu redup agar memberinya kehangatan.
Gara sedari tadi ada di kamar kami menolak untuk pergi ke kamarnya sendiri. Dia ingin selalu dekat dengan adiknya. Seperti sekarang dia sedang merebahkan kepalanya pada tepian box tidur adiknya.
"Abang, malam ini mau tidur di sini?" tanyaku kepadanya.
"Iya, Abang mau tidur di sini, mau tidur sama dedek bayi," ucapnya tanpa mengalihkan tatapannya dari adik kecilnya tersebut.
Aku menepuk kasur, menyuruh dia untuk mulai berbaring. Wajahnya sudah terlihat lesu matanya juga terlihat mengantuk. Akan tetapi, anak itu sedari tadi menolak untuk tidur. Dia ingin menunggu adiknya.
__ADS_1
"Sini ayo tidur sama Mama. Biarkan dedek tidur di sana." Sekali lagi aku memanggilnya barulah dia naik ke atas tempat tidur dan berbaring di antara aku dan Arga. Terlihat Arga sedikit kesal di wajahnya. Sepertinya aku tahu karena apa.
"Ayo tidur sini, Mama peluk." Aku mengambil dia ke dalam pelukan dan menepuk-nepuk pahanya seperti biasa agar dia cepat tertidur. Dan benar saja tidak sampai lima menit anak itu sudah masuk ke alam mimpinya.
"Kenapa kamu biarkan Gara tidur di sini?" protes Arga kepadaku.
"Loh memangnya kenapa?"
"Ya tidak apa-apa sih, tapi aku takutnya nanti dia kebiasaan jadi tidur di sini terus," ucapnya sambil ikut menepuk-nepuk paha putranya dengan pelan.
"Nggak akan, aku pastikan kalau Gara nggak akan jadi kebiasaan tidur di sini. Maklumlah namanya juga baru punya adik, besok atau lusa juga dia pasti sudah tidur di kamarnya sendiri," ujarku.
Terdengar hembusan kasar nafas dari bawah hidungnya. Aku tersenyum pada suamiku dan mengelus pipinya dengan lembut.
"Aku masih bingung. Semua nama itu bagus," ucapnya.
"Eh. Aku kira sudah dipilih."
"Belum." Dia mengambil ponsel dari atas nakas dan menyalakannya. Ibu jarinya bergerak dengan lincah di layar tersebut. Dia memperlihatkan daftar-daftar nama tersebut kepadaku.
"Kira-kira mana yang bagus?"
Aku mengambil alih ponselnya, melihat dan membaca nama-nama itu dengan seksama. Semua nama yang ada di sana memang bagus, masing-masing memiliki artian yang berkesan.
__ADS_1
"Aku juga bingung kalau nama. terserah kamu saja lah. Toh, semua nama juga bagus kan?" Hp yang ada di tanganku kuserahkan kembali kepadanya. Dia kini terlihat semakin bingung.
"Ya sudah, masih ada beberapa hari sampai syukuran aqiqahnya. Atau kita bisa bertanya kepada yang lainnya mana kira-kira nama yang cocok untuk anak kita," ucap ku kepadanya. Dia hanya mengangguk dan kini menyimpan hp-nya kembali di atas nakas.
Aku merebahkan diri di samping tubuh kecil Gara. Dari sisi yang lain dia mengulurkan tangannya, mengusap poni di kepalaku.
"Apa aku harus memindahkan dia?" tanya Arga kepadaku. "Rasanya tidak bebas." Dia berbicara sambil terkekeh pelan. Aku memberikan tatapan tajam kepadanya.
"Jangan, atau dia akan marah besok kalau kamu pindahkan dia ke lantai atas," ucapku.
Arga menggaruk belakang kepalanya. "Dia sudah semakin besar rasanya kasur ini sudah sempit kalau ada dia."
Aku tertawa mendengarnya, setuju jika kini memang Gara sudah besar, dia sudah semakin tinggi daripada saat aku pertama kali bertemu dengannya. Itu terjadi hampir satu tahun setengah yang lalu.
"Rasanya baru kemarin aku bertemu dengan Gara di taman. Kamu tahu enggak, dia tiba-tiba saja duduk di bangku dan menuju gambar Shaun the Sheep yang ada di laptopku. nggak nyangka kalau sekarang dia malah menjadi putraku." Aku tertawa kala mengingat kejadian itu. Menyuapi dan kemudian mengantarkannya ke sekolah. Ingat saat dia akan masuk ke kelas berlari kemudian memelukku. Sangat hangat sekali rasanya.
"Aku juga nggak nyangka kalau ternyata tante yang cantik dan baik hati itu adalah kamu. Mantanku yang terindah, yang sekarang adalah istri dan juga Ibu dari anakku. Aku bahagia memiliki kamu lagi, Yu. Aku ingin selamanya menjadi suami kamu dan membahagiakan kamu sampai nanti. Sampai kita tua, melihat anak-anak yang tumbuh dewasa, kemudian mempunyai cucu, mempunyai cicit, dan kemudian kita akan selamanya berada di dalam keabadian." Ucapannya barusan sangat menyentuh relung hatiku hingga ke dasar.
"Aku bahagia, kamu sudah membuat aku menjadi wanita yang sempurna."
"Aku juga bahagia, karena kamu kembali mengisi relung hatiku yang kosong. Tetaplah selamanya berada di sana, Yu. Jangan pernah pergi lagi dariku."
Kami terdiam saling meresapi ucapan yang baru saja kami sampaikan. Sekilas itu hanya ucapan-ucapan yang manis, tapi tersirat doa dan juga harapan di sana.
__ADS_1
Arga mendekat mencium keningku dengan lembut. Tidak lupa dia menyampaikan rasa cintanya kepadaku. Aku bahagia sekarang ini, bahagia hidup dengan dia laki-laki yang kini menjadi suamiku dan juga ayah dari putraku. Semoga selamanya kami tetap bersama dan tidak ada yang memisahkan kami. Hanya maut. Ya, hanya maut!