Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
31. Kutukan Penulis


__ADS_3

Kebahagiaan seorang anak adalah bisa dekat dengan orangtuanya. Aku merasakan hal itu beberapa hari ini. Tidak ingat dengan rumah dan juga tidak ingat dengan suamiku. Bukan tidak ingat dalam artian sesungguhnya, tapi aku berusaha tidak mengingatnya sementara ini. Jahatnya aku.


Aku sedang sibuk dengan pekerjaanku. Ibu dan Sinta sedang berkebun di belakang. Aku memantau keduanya dari meja makan yang berhadapan langsung dengan lahan kosong di belakang rumah. Kini terlihat hijau karena ulah mereka.


Selama di sini aku sudah menyelesaikan banyak bab. Lumayan juga mengetik dengan pikiran yang tenang. Bisa menjadi stok beberapa hari ke depan. Pendapatan beberapa bulan ini juga lumayan menurutku. Sebenarnya hasil dari tiga judul yang aku buat sudah memadai untuk melakukan penarikan, tapi aku belum pernah melakukannya. Nanti saja beberapa hari lagi saat sudah memasuki awal bulan. Aku selalu perhatikan saat angka itu berubah.


Suara dering telepon terdengar ada di samping laptop. Aku hanya meliriknya sekilas sudah menduga dari siapa itu. Siapa lagi kalau bukan Mas Hilman. Dari kemarin dia memang menghubungi ku terus, tapi aku tidak mengangkatnya sama sekali. Aku masih belum mau untuk kembali ke rumah itu. Ingin menenangkan diri di rumah ini sebentar lagi.


Dering telepon itu masih saja terdengar beberapa kali lagi hingga kemudian Ibu masuk ke dalam rumah dan mencuci tangannya di wastafel.


"Telepon dari siapa sih? Kok kayaknya ibu dengar dari tadi nyala terus?" tanya Ibu seraya melirikku.


"Bukan dari siapa-siapa," jawabku sambil mematikan panggilan itu dan menekan tombol silent pada hp-ku.


"kalau ada telepon ya diangkat. Nanti kalau penting bagaimana?" tanya ibu lagi lalu duduk di kursi di depanku. Tak lama Sinta masuk, dia juga melakukan hal yang sama, mencuci tangannya.


"Kamu sudah beberapa hari di sini. Apa Hilman gak akan marah?" tanya Ibu.


Terlihat Sinta melirik ke arahku.


"NggakM Bu. Ayu juga mau pulang, tapi Mas Hilman bilang dia sedang keluar kota dari kemarin. Aku nggak jadi pulang. "Biarlah dosa aku tanggung sendiri karena kebohonganku ini. Aku benar-benar tidak ingin pulang dulu.


"Oh, Ya sudah kalau begitu." Ibu kemudian bangkit lalu masuk ke dalam kamarnya.


Sinta duduk di depanku. Dia memperhatikan aku yang kembali mengetik pada laptop.


"Sedang apa sih Mbak?" tanyanya ingin tahu.


"Sedang mengetik," jawabku.

__ADS_1


"Iya tahu itu memang sedang mengetik, tapi maksudku Mbak mengetik apa? Dari kemarin kok sibuk terus! Kayak orang penting aja!" serunya. Aku hanya tersenyum lalu mengambil hp-ku, mencari sebuah aplikasi biru yang ada di sana kemudian memperlihatkannya kepada Sinta.


"Nih. Jangan lupa mampir ya, like dan komennya, kasih tips juga. Mbak tunggu," ucapku sambil tersenyum. Kulihat matanya melotot membesar dengan mulut sedikit terbuka seperti anak TK yang sedang terpana akan sesuatu. Sinta memang salah satu penyuka novel. Entah itu online atau versi cetak.


"Ini punya Mbak?" tanyanya sambil merebut hp di tanganku. Tatapannya beralih dari benda itu lalu ke arahku. Aku mengangguk sebagai jawaban.


"Sumpah ini punya Mbak? Bohong!" serunya lagi.


Aku menggeserkan laptopku menghadapkan layar menyala ini kepadanya, "Trias Wardani?" serunya tidak percaya setelah melihat akun menulis ku. (Hehe, gak apa-apa ya pakai nama sendiri? Peace ah 😁✌️, tapi geli sendiri juga nih sampe mesam-mesem sambil ngetik, wkwkwk)


Sekali lagi aku menganggukkan kepalaku, tertawa geli melihat raut wajahnya yang lucu.


"Hebat!" serunya, tangannya saling beradu bertepuk tangan lalu dia mengeluarkan hpnya dari saku celana jeansnya. Ibu jarinya bergerak dengan lincah lalu dia pun sama memperlihatkan layar benda pipihnya itu kepadaku.


"Ternyata selama ini yang aku baca punya Mbak? Aku baru baca satu karya yang tamat. Papa Bima sama Lily. Aku nggak nyangka kalau itu bikinan Mbak. Kereeennn!!!" serunya lagi sambil mengacungkan kedua jari jempolnya kepadaku.


Aku tersenyum kepadanya. "Bisa dong! Cuma modal halu aja mah gampang!" Seruku sambil menjentikkan jari di depannya.


"Aku juga mau dong. Gimana caranya?" tanyanya lagi.


"Gampang kok. Asal bisa menuangkan haluan saja ke dalam tulisan," jawabku.


"Eh Mbak sudah dapat penghasilan berapa?" Dia bertanya lagi dengan kepo.


"Ish kamu ini, kepo! Nggak usah tahu, nanti kamu shock," ucapku kepadanya. Bibirnya mengerucut lucu tanda ia kesal biasanya.


"Ih Mbak mah pelit! Masa mau ngintip penghasilan aja nggak boleh!" decak Sinta. Aku menutup mulutku, tertawa melihat raut wajahnya.


"Serius deh Mbak aku mau lihat, kalau lumayan aku mau mengikuti jejak Mbak," ucapnya dengan memohon.

__ADS_1


"Udah nggak usah tahu pastinya. Yang Mbak dapat masih sedikit kok. Yang pasti untuk orang pengangguran kaya Mbak, pendapatan dari ini lumayan," ucapku kepadanya.


Sinta terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, lalu dia kembali berkata, "Mbak percaya nggak sih soal kutukan penulis?" tanya Sinta yang membuat aku menoleh kepadanya.


"Maksudnya?" Aku bertanya balik.


"Nggak sih. Aku cuma pernah baca tapi aku lupa dimana. Katanya lagu yang dinyanyikan atau sebuah tulisan bisa berbalik kepada penulisnya atau kepada penyanyinya," tutur Sinta. Aku terdiam memikirkan hal itu. ku pernah menuliskan tentang cerita poligami sebelum ini dan sekarang aku mengalami hal itu.


"Tapi ya mungkin itu cuma artikel yang nggak mutu sih, masa iya ada kutukan model begitu?" tandasnya lagi dengan menggaruk belakang kepalanya.


Sinta menatap ke arahku yang kini terdiam masih memikirkan ucapannya itu.


"Mbak. Jangan melamun, aku tadi cuma asal bicara. Mana mungkin kan ada hal yang seperti itu," ucapnya lagi dengan tawa di bibirnya. Tawa yang menandakan kalau dia merasa bersalah mengatakan hal itu.


"Iya. Lagian kamu itu aneh-aneh aja. Mana ada kutukan yang semacam begitu. Itu cuma ucapan orang-orang, supaya viral. Sekarang balik lagi deh pada diri-sendiri, apa dia percaya soal begitu atau tidak. Kalau dia percaya bisa saja, tapi kalau Mbak pribadi semua hal yang terjadi pada kita itu sudah menjadi takdir. Semua masih rahasia. Apapun yang pernah kita tulis belum tentu terjadi. Itu hanya kebetulan belaka."


Sinta terdiam mendengar ucapanku, tapi kepalanya mengangguk pelan.


"Iya sih. Bisa jadi juga," ujarnya.


"Eh Mbak mau aku bikinkan seblak, nggak?" Sinta bertanya kepadaku seraya bangkit dari duduknya. Aku tersenyum senang mendengar tawarannya itu.


"Mau lah. Super pedas ya," pintaku.


"Oke!" seru Sinta sambil membentuk huruf O dan K dengan jarinya.


Aku kembali dengan dunia haluku, tapi ucapan Sinta tadi terus terpikir di dalam otakku. Apa memang benar seperti itu? Apa memang ada kutukan penulis?


Memikirkan hal itu aku jadi merinding sendiri. Memang benar aku pernah membuat cerita tentang poligami dan kini aku juga mengalaminya, tapi apa iya hal itu terjadi karena tulisanku? Ahh, tidak! Ini hanya kebetulan saja!

__ADS_1


__ADS_2