
Suami Desi sudah menjemput, begitu juga dengan calon suami Nina. Mereka berdua berat meninggalkan aku yang masih membersihkan luka pada wajah Arga.
"Tidak apa-apa, kalian pulang saja," ucapku pada Desi dan Nina. Dengan berat hati keduanya pergi untuk pulang, tidak lupa meninggalkan pesan padaku untuk hati-hati di jalan.
Kini tinggal Amar yang masih ada di sini. Aku telah selesai membersihkan dan mengobati wajah Arga yang lebam.
"Amar, kamu pulang saja. Tidak apa-apa nanti aku pulang sendirian," ucapku padanya.
"Wah, Amar gak berani lah, Mbak. Masa ninggalin Mbak pulang sendiri. Amar antar deh, dampingi motor Mbak Ayu sampai rumah," ucap Amar.
"Tidak perlu. Kamu kalau mau pulang, pulang saja duluan. Ayu akan saya antar pulang," ucap Arga yang membuat aku dan Amar menoleh bersamaan.
"Mbak ...."
"Tidak apa-apa. Biar Arga yang antarkan aku pulang, kamu pulang saja duluan." Aku menyuruh Amar untuk pulang.
"Bener tidak apa-apa?" bisik Amar.
Arga mendelik pada Amar dengan tatapan tidak suka.
"Kamu pikir saya akan lakukan apa sama Ayu?" bentak Arga, Amar terlihat ketakutan dengan suara besar Arga.
"Eh. Iya, Pak. Silahkan kalau Bapak mau antar Mbak Ayu. Saya pamit kalau begitu. Titip Mbak Ayu, selamat sampai tujuan." Amar bicara dengan takut sambil tersenyum dengan wajah yang terlihat canggung.
Arga tidak bicara lagi, dia hanya menggerakkan tangannya. Tahu akan kode yang Arga berikan, Amar segera pergi dengan cepat dari sana.
"Jangan galak," ucapku padanya.
"Aku tidak galak, hanya saja sebagai seorang atasan mereka bukannya aku juga harus terlihat berwibawa?" tanya Arga.
"Itu bukan berwibawa, tapi kamu memang galak, Arga!" ucapku dengan menatap padanya. Arga hanya tersenyum meringis dengan wajah yang manis.
Oohhh, apa yang aku lakukan? Tidak! Dia tidak manis! Dia sudah tua! Aku mengingatkan pada diriku sendiri.
"Pulang sekarang atau mau lanjut makan?" tanya Arga.
__ADS_1
Aku melihat jam yang ada di pergelangan tanganku. Lapar sebenarnya, karena aku baru makan beberapa suap makan tadi.
"Tidak, ini sudah hampir jam tujuh malam. Aku akan pulang saja," jawabku.
"Aku akan antarkan. Mana kunci motor kamu?" Arga menadahkan tangannya padaku. Aku memberikan kunci motor padanya. Seorang sopir yang aku kenal datang dan menerima kunci motorku.
"Ga, sepertinya kamu harus ke rumah sakit dulu," ucapku saat kami sudah ada di dalam mobil.
"Tidak perlu. Ini hanya luka kecil saja, Yu." Tolaknya.
Mobil kini berjalan dengan pelan meninggalkan basemen mall. Di depan sana motorku dibawa dengan hati-hati.
"Terima kasih ya, karena kamu sudah menolong aku, Ga."
Arga melirik sekilas padaku dan tersenyum lalu kembali fokus pada jalanan yang ada di depan sana.
"Sama-sama. Aku kebetulan sedang ada di dekat sana. Ada sesuatu yang harus aku urus dan ternyata aku lihat Hilman sedang menarik tangan kamu."
Ganti kini aku yang melirik ke arahnya. Warna ungu campur kebiruan terlihat di pipi dan sudut bibirnya.
Arga tertawa kecil. "Masih ingat?" tanya Arga. Aku mengangguk. Tentu saja masih ingat kala mendengar setiap siswi di sekolah meneriakkan nama Arga dengan hebohnya. Asal mula dia terkenal selain dari wajahnya yang tampan dan juga anak orang kaya saat itu.
"Aku ... sebenarnya ingin melawan, tapi di sana ada kamu," ujarnya.
"Maksudnya?" Aku bertanya, tidak mengerti dengan apa yang dia maksud.
"Dia pernah mengisi hari-hari kamu selama tujuh tahun. Aku pikir, meskipun kamu semisal tidak ada rasa dengan dia, tapi kamu akan merasa kasihan kalau dia sampai babak belur. Bukankah itu akan menyakiti hati kamu atas apa yang terjadi sama dia? Yang sudah menjalani dan menemani hidup kamu selama ini?" ucap Arga.
Aku terpaku dengan apa yang dia katakan. ternyata pria ini peduli dengan perasaanku!
"Ya, mungkin kamu benar. Perasaan ini memang sangat sulit untuk aku hilangkan, Ga. Tujuh tahun hidup bersama, bukan waktu yang sebentar. Sekarang ini aku sedang berusaha menata hatiku untuk ikhlas melepas dia."
"Jadi ... kamu belum sepenuhnya bisa move on dari dia?" Suara Arga terdengar sendu.
"Aku berusaha untuk move on dan ikhlas, Ga. Bagaimana pun juga, kami sudah berpisah," jawabku.
__ADS_1
"Bagus lah. Aku senang mendengarnya, Yu."
Kami terdiam, dada ini rasanya bergelenyar kembali saat dekat dengan Arga.
Tahan, Yu. Apa yang kamu bilang selama ini untuk tidak dekat dengan pria lain! Aku terus mengingatkan diri ini. Apalagi Arga adalah sosok yang tidak Ibu inginkan.
"Tadi, maaf ya aku bicara seperti itu sama Hilman," ucapnya tiba-tiba.
"Eh, yang mana?" Aku bingung.
"Waktu aku bilang kalau kamu adalah calon istriku," jawabnya.
Aku terdiam dengan dada yang berdebar, tapi kata maaf itu sedikit membuat aku menjadi berpikiran lain.
Dia hanya melakukan itu untuk melindungiku saja. Jangan ge-er. Jangan ge-er. Dengan kuat hati aku mencoba untuk mengingatkan diriku lagi.
"Tapi dalam hati ini, aku inginkan itu, Yu!" ucapnya dengan terdengar nada kesungguhan. Refleks aku menatap ke arahnya.
"Aku harap bukan hanya sekedar ucapan saja, tapi aku ingin hal itu menjadi nyata. Apa bisa?" tanya Arga.
Aku tidak bisa mengalihkan tatapanku darinya, begitu pun dia yang tidak mengalihkan tatapannya dariku.
Tubuhku sedikit tersentak saat mobil ini berhenti di tepi jalan. Aku tersadar dan tidak tahu sejak kapan mobil ini menjadi pelan tadi.
Arga membuka seatbelt dari depan dada dan memutar tubuhnya. Tangannya dia alihkan dari kemudi dan mengambil tanganku.
Gemetar rasanya tubuh ini. Panas dingin dan juga tidak bisa berkata apa-apa saat dia menatapku dengan lembut.
Dalam diri aku menolak, tapi serasa otakku sudah dicuci olehnya hingga aku hanya diam terpaku dengan perlakuan dia yang hangat.
"Maaf, tapi aku ingin mengatakan ini sama kamu sedari dulu, Yu. Aku masih tidak bisa melupakan kamu," ucap Arga.
Panas ... Dingin ....
Ah, bahaya!
__ADS_1