
Aku tersadar, terbangun dari tidurku di dalam ruangan putih dengan lampu yang sangat terang, udara dingin, dan tercium aroma obat-obatan yang samar di bawah hidung. Aku sadar, ini adalah rumah sakit.
"Mama Ayu, sudah baikan?" Suara tangis seorang anak membuat aku menolehkan kepala. Dia terisak di samping ranjang sambil memegangi lenganku. Wajahnya sembab dengan hidung dan mata yang berwarna merah. Aku tersenyum sambil menahan rasa sakit yang ada, menganggukkan kepala sebisaku dengan sangat pelan sekali. Rasanya bersalah sekali melihat dia yang mungkin saja sedang mengkhawatirkanku.
Beberapa orang kemudian datang mendekat, Ibu, Budhe Gara dan pengasuh Gara yang baru. Mereka terlihat sangat khawatir.
"Panggilkan dokter, cepat!" Perintah Budhe Gara pada pengasuhnya. Gadis itu mengangguk dan segera berlari keluar dari ruangan ini.
"Ayu kamu baikan, Nak? Apa masih terasa sakit? Apa yang sudah terjadi? Kenapa cobaan terus saja terjadi sama kamu, Nak!" Ibu menangis tersedu. Budhe menenangkan Ibu, mengelus pundak Ibu dengan lembut.
"Sudah, Mbak Yu. Jangan bahas hal ini dulu. Yang terpenting Ayu selamat," ucap Budhe. Ibu menganggukkan kepalanya dan menyusut air mata dari sudut mata.
Melihat Ibu dan Gara yang menangis membuat aku sedih juga. "Maafkan Ayu, Bu. Sudah buat Ibu khawatir," ucapku. Mata ini rasanya panas sekali, hampir mengeluarkan cairan yang disebut air mata.
Tak lama dokter datang bersama dengan Arga dan juga pengasuh Gara di belakang. Arga segera mendekat mendahului dokter dan bertanya tentang keadaanku. Terlihat sekali jika dia sangat khawatir dengan aku.
"Aku gak apa-apa, Ga," ucapku menenan*gkan dia dan semua orang yang ada di dalam ruangan ini.
Menjelang sore hari, seseorang datang ke dalam ruanganku. Sudah lumayan lama aku tidak bertemu dengan dia. Semenjak keadaan Ibu membaik dan tidak banyak pulang pergi ke rumah sakit. Dan lagi, semenjak aku bekerja aku tidak bisa menemani Ibu untuk periksa. Terakhir aku bertemu dengan dia pada saat tidak sengaja bertemu denganku di jalan waktu itu dan mengantarkan aku pulang.
Dokter Wira tersenyum melihatku, dia bersalaman dengan Arga, terlihat dari sorot matanya seakan menyiratkan sesuatu saat melihat Arga yang duduk di samping brankar. Sorot mata itu berubah saat dia menyalami Ibu dan juga Budhe. Lebih lembut.
"Saya baru tahu kalau Mbak Ayu dirawat di sini. Turut bersedih dengan apa yang terjadi sama Mbak Ayu, meski saya tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi," ungkap Dokter Wira dengan senyum yang tidak pernah berubah sejak dulu padaku.
"Selamat juga dengan kabar bahagia Mbak Ayu dan juga Mas Arga."
__ADS_1
Aku tersenyum menerima uluran tangan yang dia sodorkan terhadapku. Rasanya aneh juga mendengar ucapan selamat dari Dokter Wira, seakan ada hal yang salah pada diriku. Ingat jika aku menolak dia beberapa kali dan belum memberikan jawaban yang pasti hingga kemarin aku mengirimkan undangan untuk dia dan juga Mbak Wanda serta kedua orang tuanya.
Ibu dan yang lainnya pamit untuk mengajak Gara keluar, meninggalkan aku dan dua orang laki-laki di ruangan ini. Aku tahu, mereka keluar bukan tanpa sebab, tapi ingin memberikan kesempatan untukku berbicara dengan Dokter Wira mengenai hal ini.
"Terima kasih, Dokter."
Dokter Wira tidak mengalihkan tatapannya dariku. Senyum dan tatapan matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam di sana, semakin membuat aku merasa tidak nyaman.
"Ekhem!" Suara deheman Arga terdengar sedikit keras. "Boleh bersalaman, tapi jangan lebih dari dua detik," ujar Arga. Aku tersadar dengan ucapan dia dan melihat jika tanganku dan Dokter Wira masih bersalaman. Gegas kami menarik tangan kami masing-masing. Arga menatap kami berdua dengan pandangan yang tidak suka. Dia kemudian berdiri.
"Lima menit, aku akan kembali. Dan pastikan kalau kalian sudah selesai berbicara!" ucap Arga kemudian pergi dari ruangan ini.
Aku dan Dokter Wira menatap pintu yang kini kembali tertutup dengan rapat.
"Calon suami Mbak Ayu posesif sekali ternyata," ujar Dokter Wira. Aku tertawa kecil, lebih kepada merasa malu dengan sikap Arga tadi. Tidak sopan.
"Tidak masalah. Jangan pikirkan hal itu. Itu tandanya jika dia benar-benar menyukai dan menyayangi Mbak Ayu," ujar Dokter Wira.
Kami terdiam beberapa saat lamanya. Dokter Wira tidak berniat untuk duduk juga sepertinya, karena kursi di tempat Arga tadi duduk tidak dia lirik sama sekali.
"Dokter," panggilku, memecah keheningan yang ada di antara kami.
"Iya?"
"Saya mau minta maaf atas apa yang terjadi selama ini. Saya telah membuat ketidakpastian terhadap Dokter Wira." Aku menunduk, tidak berani menatapnya secara langsung. Sadar jika aku mungkin telah melukainya dalam-dalam.
__ADS_1
Tidak aku sangka, dia yang aku kira akan marah malah tertawa, sehingga aku penasaran dan mengangkat kepalaku, menatap dia yang tertawa sangat renyah.
"Haha, tidak apa-apa, Mbak Ayu. Jangan pikirkan hal itu. Apakah hal itu mengganggu Mbak Ayu selama ini?" tanyanya. Aku menganggukan kepala.
"Saya laki-laki. Saya akan lebih mudah move on dari pada seorang wanita yang patah hati. Percaya saja Mbak Ayu, cepat atau lambat saya akan menemukan jodoh saya," ucap Dokter Wira. Dia tersenyum dengan lebar, giginya yang putih terlihat sangat rapi.
"Jangan permasalahkan ini. Jangan juga jadikan beban dalam pikiran Mbak Ayu. Saya sungguh baik-baik saja. Setidaknya jika bukan saya yang ada di samping Mbak Ayu, ada orang lain yang lebih bisa membuat Mbak Ayu bahagia, bukan? Saya juga akan ikut bahagia."
Aku menatapnya dengan tidak percaya. Semudah itu kah dia bisa menerima kenyataan? Sedangkan Mas Hilman saja, sampai saat ini tidak bisa menerima dengan perpisahan kami.
"Ya sudah kalau begitu. Saya sudah tenang melihat keadaan Mbak Ayu yang baik-baik saja. Saya pamit sebelum` calon suami Mbak Ayu datang dan menyeret saya keluar dari sini," ucapnya seraya tersenyum. Aku pun ikut tersenyum. Menyadari jika mungkin bisa saja itu yang akan terjadi jika lebih dari lima menit Dokter Wira tidak keluar dari sini.
"Terima kasih, Dokter. Saya sangat senang sekali bisa mengenal Dokter," ucapku. Aku mengulurkan tangan padanya dan dia sambut dengan lembut.
"Terima kasih juga karena sudah membuat hati ini merasakan bahagia," ujarnya.
Dokter Wira keluar dari ruangan ini dan tidak lama seseorang yang tadi kami bicarakan masuk dan mendekat. Wajahnya terlihat tidak enak dipandang mata.
"Apa yang tadi kalian lakukan saat aku tidak ada? Apa dia terus menyentuh kamu?"
Bolehkah aku menepuk jidatku sekarang? Atau, apakah aku harus menciumnya biar dia diam dan tidak menatapku dengan curiga seperti itu?
***
Dua bab nih, jangan lupa like dan komennya ya.
__ADS_1
Wajib 👍
😁😁