
"Anda sudah ketahuan dan Anda meminta maaf? Bagaimana jika kami tidak melihat apa yang Anda berdua lakukan? Apakah Anda akan melakukan hal yang sama lagi?" tanya dia lagi kini kepadaku.
Aku menundukkan kepala. Tatapan laki-laki ini terlihat sangat tidak suka kepadaku.
"Hei, yang sopan Anda berbicara kepada istri saya. Istri saya sudah meminta maaf, dan juga saya pribadi meminta maaf dengan apa yang kami lakukan di dalam sana. Tidak bisakah Anda memaafkan kami dan melepaskan kami?" tanya Arga dengan nada protes.
Aku takut jika kami mendapatkan masalah di sini. Bagaimana jika video yang ada di dalam sana di viralkan? Ah, kami tidak akan punya muka lagi di hadapan masyarakat.
"Tentu saja saya tidak akan mudah memaafkan dan melepaskan kalian."
Deg!
Gawat!
Apa yang akan terjadi kepada kami? Dada ini sudah berdebar saat ini. Tangan dan kakiku rasanya dingin.
"Ayolah, Dan. Untuk apa kamu tidak melepaskan kami, kamu tahu kan, kami ini adalah pengantin baru dan kami hanya sedang menikmati waktu kami berdua. Hentikan untuk tidak lagi membuat istriku ketakutan! Lihat dia sudah pucat seperti itu!" ujar Arga seraya mengambil pundak ku dan mengelusnya.
Hah? Siapa? Arga mengenalnya?
Aku melongo melihat laki-laki yang ada di hadapan kami ini tertawa kecil. Begitu juga dengan Arga yang sesekali melirikku sambil tertawa bersama dengan laki-laki itu.
"Dasar brengsek! Kamu gak lihat sudah buat kakak ipar kamu ketakutan sampai pucat seperti ini?" ujar Arga, laki-laki itu memberikan kepalan tangannya dan di sambut Arga melakukan hal yang sama. Mereka menyatukan kepalan tangan itu layaknya tos.
Eh, kakak ipar? Jadi ... ini siapa?
"Haha, maafkan aku Mas Arga, maafkan aku kakak ipar. Tapi kelakuan kalian tadi di dalam sana tidak bisa dimaafkan. Kalian berdua seperti orang yang sedang melakukan ...." Laki-laki itu mengerucutkan jari-jari tangan kanan dan kirinya dan menyatukannya satu sama lain, membuat aku jadi malu melihat dia melakukan hal itu.
"Jangan ganggu kakak Iparmu lagi, lihat, wajahnya sudah memerah, dia pasti malu ada orang yang bahas ini di sini."
Benar sekali, aku memang sangat malu. Tapi apakah benar wajahku merah?
"Ya sudah kalau begitu, kita bicarakan hal ini di cafe saja. Aku ingin mengobrol banyak sama kamu," ucap laki-laki itu.
Arga menoleh padaku. "Sayang, kamu mau pergi ke kafe? Kita diundang ke sana," tanya Arga. "Oh, ya. Ngomong-omong, dia adalah sepupuku. Dia baru balik dari luar kota dan kemarin tidak bisa menghadiri akad dan juga pesta kita," ucap Arga menerangkan.
Oh, pantas saja aku tidak melihat orang ini kemarin, meski tamu sangat banyak, tapi aku masih bisa mengingat orang yang bertemu denganku. Apalagi jika dia adalah saudara Arga.
"Oh, ya. Kakak Ipar, perkenalkan namaku Dani. Aku adalah salah satu adik sepupu Mas Arga," ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya. Aku tersenyum, menangkupkan kedua tanganku di depan dada sambil mengangguk pelan padanya. Dani terlihat kembali mengepalkan tangannya dan tersenyum malu.
"Senang berkenalan sama Mas Dani," ucapku.
"Saya juga."
"Kita ngobrol di bawah? Itu pun jika Mas Arga dan Kakak Ipar berkenan."
"Panggil saja saya Ayu," ucapku. Dia kembali tersenyum.
"Oh, baiklah. Mbak Ayu. Apakah berkenan untuk menerima tawaran saya ngopi di cafe bawah?" tanya laki-laki itu dengan ramah.
Aku menoleh pada Arga, Arga hanya mengangkat bahunya tanda terserah, mungkin.
"Ya, boleh. Tapi hanya minum ya," ucapku padanya.
Kening Dani mengerut. "Loh, kenapa? Tidak makan sekalian?" tanyanya bingung.
"Kami baru saja dari restoran untuk makan siang, masih kenyang, tapi untuk satu cangkir kopi, boleh lah. Benar kan, Sayang?" tanya Arga lagi padaku.
Aku mengangguk, hanya sekedar minum, tidak enak juga jika menolak tawaran baik dia.
__ADS_1
"Oke, hanya kopi. Sebagai permintaan maafku pada kalian karena aku tidak bisa hadir di acara penting kalian kemarin," ucapnya sedih.
Kami bersama berjalan menuju cafe yang letaknya ada di lantai dua hotel ini.
Banyak hal yang kami bicarakan, tepatnya mereka. Aku tidak tau jelas apa yang mereka bicarakan karena rasanya kepala ini kembali pusing. Sepertinya aku butuh istirahat, tapi mereka terus saja mengobrol dan juga tertawa bersama. Aku menunggu, tidak enak juga jika mengganggu pertemuan mereka.
"Mbak Ayu, kok diam saja? Ayo silakan dinikmati minumannya, atau saya pesankan makanan ringan?" tanya Dani.
"Eh, tidak usah. Tidak apa-apa," jawabku.
Mereka melanjutkan kembali mengobrol ringan, hanya seputar pasangan. Arga membicarakan kami, sedangkan Dani sedang berusaha move on dari kekasihnya.
Suara dering telepon terdengar dari dalam tas, gegas aku mengangkat panggilan tersebut. Diana.
Huh, dasar wanita ini. Dia tidak datang ke pestaku semalam. Awas saja! Aku akan marahi dia!
"Ga, aku mau permisi sebentar. Diana menelepon," ucapku padanya.
Arga menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil. Aku juga pamit kepada Dani untuk mengangkat panggilan ini.
Di luar cafe, ada sebuah bangku kecil aku duduk di sana dan mengangkat panggilan.
"Halo, Yu. Hehe." Baru saja aku mau memarahinya, dia malah sudah berbicara duluan sambil menyengir ria. Dasar anak ini, selalu seperti itu jika dia mempunyai salah.
"Masih ingat?" tanya aku kesal.
"Marah?"
"Hem."
"Maaf sayang, aku nggak bisa datang ke pesta pernikahan kalian karena aku nggak boleh cuti sama bos. Lagian salah kalian juga, kenapa tidak mengadakan pesta di hari Minggu saja?" tanya Diana terdengar kesal.
Aku terdiam, merasa bersalah juga dengan Diana. Satu-satunya sahabatku tidak bisa menghadiri pesta pernikahanku padahal dia ingin sekali hadir di pesta ini.
"Maaf, semua sudah diatur. Kapan kamu akan pulang kemari?" tanyaku kepada Diana.
"Masih belum tahu. Aku sedang dipromosikan untuk naik jabatan, tidak tahu kapan bisa pulang. Pekerjaanku sangat banyak di sini," ucapnya dengan pelan. Aku bahagia mendengar itu. Diana memang pantas untuk naik jabatan, dia adalah wanita yang sangat pekerja keras.
"Selamat. Aku senang mendengarnya. Jangan lupa jika berhasil nanti beri aku hadiah," pintaku. Akan tetapi, tentu saja aku tidak bersungguh-sungguh. Aku sangat bahagia mendengar kabar baik ini.
"Ya tentu saja. Doakan aku disini supaya aku bisa mendapatkan kesempatan baik ini," ucapnya.
"Ya tentu saja, aku selalu doakan kamu di sana. Ibu juga pasti akan sangat bahagia sekali mendengar berita ini."
"Oh ya, di mana suamimu?" tanya Diana.
"Dia sedang mengobrol bersama dengan saudaranya."
"Oh, Baiklah kalau begitu. Aku titip salam saja untuk dia. Jangan lupa untuk sampaikan salam ku ya," ucapnya dengan kekehan.
"Oke, nanti akan aku sampaikan salam darimu."
"Aku pamit dulu, banyak PR yang harus aku kerjakan," ucapnya terdengar kesal. Aku tertawa kecil, tapi rasanya kasihan juga membayangkan dia dengan banyak pekerjaan. Di saat SMA dia tidak suka mengerjakan tugas, tapi kali ini harus berjuang tanpa bantuanku lagi.
"Semangat ya," ucapkan untuknya.
"Terima kasih. Oh iya, aku sudah siapkan kado untuk kamu dan Arga, mungkin dua hari lagi paketnya akan sampai."
"Ha? Kamu tidak perlu memberikan aku hadiah Diana. Doa yang terbaik dari kamu saja sudah cukup," ucapku dengan haru. Diana tertawa kecil dari seberang sana.
__ADS_1
"Hanya kado kecil, tidak mahal juga. Aku hanya berharap itu akan sangat berguna untuk kamu di masa depan." Perkataannya membuat aku bingung.
"Hah? Apa itu?" Diana tidak menjawab. Dia hanya tertawa kecil.
"Apa?" tanya aku sekali lagi dengan penasaran.
"Kamu akan tahu nanti apa isinya. Aku pamit bye bye!" seru Diana lalu mematikan panggilan teleponnya.
"Waalaikumsalam. Dasar kebiasaan!" rutukku, dia memang sudah biasa seperti itu. mematikan telepon tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu, tapi aku senang dengan mendapatkan kabar darinya, meskipun dia tidak bisa hadir di dalam pestaku, senang akan pencapaian yang dia terima atas kerja kerasnya sendiri.
"Sudah selesai?" tanya suara yang aku kenal. Aku mengalihkan tatapanku ke arah lain. Arga sedang berdiri di belakangku sambil melipat tangannya di depan dada. Tubuhnya disandarkan pada dinding.
"Eh, sudah. Kamu sudah lama di sana?" tanyaku padanya.
"Lumayan. Dari semenjak kamu protes saat Diana tidak bisa datang."
Eh, itu sepertinya saat tadi baru saja aku mengangkat telepon!
"Kenapa kamu nggak duduk?"
Arga menggelengkan kepalanya. " takut ganggu. Bisa Jadi kalau kamu tidak akan nyaman bicara dengan dia saat aku ada di sana," ucapnya sambil menunjuk bangku di sebelahku dengan dagunya.
Aku tersenyum tipis. Sedikit tidak suka dengan pemikirannya. Akan tetapi, pemikiran kita memang berbeda.
"Nggak akan ganggu juga. Sudah ngobrolnya?" tanyaku aku balik.
"Sudah. Dia ada panggilan untuk menyambut tamu yang lain."
"Oh."
"Kita kembali ke kamar?" tanya Arga. Kini dia mulai menegakkan dirinya dan mendekat ke arahku.
"Iya."
Arga mengeluarkan tangannya membuat aku menatapnya bingung. " Gandeng tangan aku." ucapnya.
Aku tertawa kecil mendengar dia mengucapkan itu. Rasanya kan sangat aneh seperti anak ABG labil saja!
Aku menggelengkan kepala dan kemudian berdiri.
"Kenapa?" tanya Arga bingung.
"Aku masih marah sama kamu!" ucapku sambil berpura-pura cemberut.
"Re? Masih marah sama apa? Soal apa?" tanya Arga semakin bingung.
"Soal yang kemarin!"
Arga terdiam sejenak, terlihat ia sedang berpikir. Bibirnya berdecak kesal dan menggelengkan kepala.
" Kenapa kamu ini sangat pendendam sekali? yang harusnya kamu marahi itu Dda Bukan aku!" protesnya.
"Dia tidak ada di sini. Jadi kamu yang harus aku marahi karena tidak bisa menghindar dari dia!" ucapku ketus, lalu meninggalkan dia untuk pergi ke arah kamar.
"Hei tuggu!" teriak Arga dari belakang. aku tidak mau mendengarkan, terus berjalan menjauh dari kami. Akan tetapi, tidak lama kemudian tubuhku rasanya melayang terangkat oleh dua tangan yang kekar.
"Akh!" Aku terkejut sampai tidak sengaja berteriak dan refleks melingkarkan tanganku ke belakang lehernya.
"A-Arga apa yang kamu lakukan?" tanyaku. dia hanya tersenyum kecil, dengan alis mata yang dia mainkan naik dan turun.
__ADS_1
"Hanya menggendong istriku menuju kamar pengantin!"