Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
319. Pulang Kemana Aku?


__ADS_3

Aku ingin menghindar dari orang-orang yang menunggu ceritaku. Rasanya malu juga jika ada yang menunggu seperti itu, apalagi bukan hanya satu orang saja, tapi satu ruangan kantor tadi.


Perutku sangat lapar sekali, ingat jika semalam aku belum makan, magrib mengambil uang, isya ijab kabul, dan setelah itu masuk ke dalam kamar, tadi pagi aku bangun kesiangan sampai aku tidak sarapan, siang ini rasanya aku malas keluar dari gudang karena harus bercerita.


Aku putuskan saja untuk menitip makanan pada salah seorang bawahan ku, aku akan makan saja nanti di bawah meja, menggelar kardus seperti kemarin.


"Pak Hilman, ditunggu Bu Din di kantin!" teriak salah seorang bawahan ku yang sudah kembali dari kantin.


"Eh, gak bilang saya tidur gitu?"


"Yah, enggak lah Pak, kan Bapak emang gak sedang tidur," ucapnya, tanpa tahu jika di dalam hati ini sebenarnya aku sedikit mengumpat, buka padanya, tapi padaku yang seharusnya tadi aku bilang akan tidur saja.


"Ditunggu Bu Din tuh di kantin sama orang kantor yang lain. Betewe samawa ya, Pak sama istri, semoga langgeng. Gak kasih kabar gak apa-apa, ditunggu aja besok traktirannya," ucapnya lagi seraya pergi berlalu dari hadapanku sambil menggerakkan alisnya naik dan turun.


Aku menepuk keningku dengan cukup keras. Gawat. Harus traktir anak-anak juga. Duh!


Terpaksa siang ini aku jalan ke kantin, malas sebenarnya. Akan tetapi, apalah daya jika mereka sudah marah, maka aku yang akan dipersulit juga, meminta tanda tangan pasti akan dicuekin! Itu lah orang yang punya jabatan, bisa seenaknya saja dengan bawahan.


"Pak Hilman sini!" teriak Bu Din, si wanita kurus dengan suara cempreng berteriak dari sana dan melambaikan tangan saat aku baru saja masuk ke dalam kantin.

__ADS_1


Aku tersenyum, akhirnya hal yang tadi ingin aku hindari terjadi juga.


"Sini, Pak Hilman duduk. Dari tadi juga ditungguin kemana aja?" tanya yang lain, tak perlu lah aku sebutkan nama dia, terlalu banyak nama sampai membuat aku sendiri pusing .


"Sini duduk dan cerita. Pak Hilman mau pesan apa?" tanya Bu Din lalu memanggil seorang penjaga kantin, tak lama wanita muda itu mendekat ke arah kami dan mulai memesan makanan.


"Sok, cerita. Jangan ada yang dilewat!" ucap wanita keturunan Sunda itu.


"Ceritanya gak seru," ucapku, yag mana sebenarnya malas karena sudah lelah bekerja sekarang harus berbuih bercerita.


"Gak mau tahu. Kalau gak mau cerita juga nanti sore jangan harap bisa pulang cepat ketemu istrinya. Ada barang masuk loh nanti sore, saya mau laporan di meja saya besok waktu jam tujuh pagi," ucap wanita itu dengan tidak peduli.


Nah, kan. Dasar jahat! Mentang-mentang ada kuasa, maunya seenaknya aja!


...***...


Sore saat pulang ke rumah aku bingung. Rumah mana yang terlebih dahulu aku sambangi? Rumah ibu? Atau rumah istriku?


Semenjak masuk ke dalam gang aku sedikit melamun sambil berkendara. Tidak terlalu fokus karena memikirkan kemana aku harus pulang, nasib rumah ibu dan rumah istri hanya terpisah oleh satu rumah tetangga.

__ADS_1


Duh, jadi galau.


Aku melajukan motorku dengan pelan. Hari ini tidak berangkat ngojek karena jujur saja aku belum pamitan dengan istriku. Belum ketemu ibu dan juga Vita sedari pagi.


Melewati rumah Dewi, tapi ... rumah ibu juga terlihat dari sini. Ah, ternyata apa yang orang lain bilang cari orang yang rumahnya jangan sekampung gini kali ya. Aku dan Dewi belum membahas kami akan tinggal di mana, apakah akan tinggal di rumahku atau aku yang tinggal di rumah Dewi.


Di depan rumah aku diam, bingung aku akan kemana, sehingga aku memutuskan untuk menelepon Dewi terlebih dahulu.


"Kamu sudah pulang? Mana? Kok gak ada ke rumah?" tanya dewi terdengar bingung di nada suaranya.


"Aku masih di depan pagar ," jawabku.


"Loh, kok gak masuk?" tanya Dewi lagi.


"Bingung mau pulang ke mana," jawabku jujur.


"Kenapa bingung?"


"Kalau aku ke rumah kamu dulu, tapi aku belum ketemu ibu dan Vita hari ini, kalau aku ke rumah ibu aku gak ketemu istriku, dong," ucapku dengan bingung.

__ADS_1


"Oh, ya sudah."


Eh, jawab ya sudah dan telepon dimatikan? Ada apa ini?


__ADS_2