Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
68. Mulut Tetangga


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Aku merasa bosan hanya diam di rumah. Kali ini mengajak Sinta untuk berbelanja di warung sayur yang tidak jauh berada dari rumah kami. Mungkin seratus meter, kami berdua berjalan sambil mengobrol. Kebanyakan Sinta yang berbicara mengenai kegiatannya di kampus. Aku menanggapi sesekali menggodanya untuk menerima pernyataan cinta dari teman kuliahnya.


"Ah nggak tahu lah Mbak. Rasanya Sinta bingung!" serunya dengan wajah yang sedih.


"Kok bingung kenapa?" tanyaku.


"Apa Ibu dan Bapak akan merestui? Dia kan belum bekerja. Apalagi Mas Rehan, kalau tahu calon adik iparnya baru lulus kuliah apa Mas Rehan akan mengijinkan?" ucap Sinta menyebut Kakak pertamanya.


"Mbak kan tau sendiri gimana Mas Rehan. Dia galak!" sungutnya. Aku tertawa kecil mendengar keluhannya. Memang benar Rehan itu terkesan galak kepada Sinta, tapi justru karena dia menyayangi adiknya ini.


"Ya, tapi kan kalau Mas Rehan begitu terus, aku kapan menikah Mbak? Nanti, kalau aku sudah jadi perawan tua?" Lagi-lagi Sinta bersungut.


Aku menepuk pundaknya dengan pelan. "Sabar. Itu kan karena dia sangat sayang sekali sama kamu. Mana ada Abang yang ingin hidup adiknya sengsara?" tanyaku kepadanya. Sinta mengangguk membenarkan, meski kini wajahnya masih saja tertekuk ke bawah.


Kami telah sampai di warung sayur. Sudah ada beberapa orang yang berbelanja di sana. Tentu saja didominasi oleh para ibu.


Sayuran yang ada di sana lumayan banyak. Aku tidak mau menyebut nya satu persatu karena aku yakin semua pembaca di sini juga mengerti apa yang ada di warung sayur. Hehe ....


Aku menyapa beberapa ibu-ibu yang juga sedang berbelanja.


"Eh, Mbak Ayu. Tumben belanja ke sini?" tanya seseibu saat aku mulai memilih sayuran.


"Eh iya, Bu. Bosan di rumah terus," jawabku seraya tersenyum sekadarnya.


"Mbak Ayu kok sekarang ada di sini terus? Apa suaminya tidak marah kalau Mbak Ayu gak pulang-pulang?" seseibu yang lain bertanya. Tangannya aktif memilih bawang merah yang ada di depannya.


"Ibu sedang sakit, jadi Ayu di sini," ucapku kepadanya.

__ADS_1


"Oh. Tapi Ibu kamu tidak terlalu kelihatan sakit. Memangnya sekarang sakit apa lagi sih selain jantung?" tanya satu orang lain yang berada di paling ujung. Nada suaranya terdengar sedikit tidak enak di dengar.


Aku kenal dengan wanita ini dan tidak terlalu suka dengannya karena ... ya begitulah dia. Mulutnya terlalu lincah untuk bergerak membicarakan orang lain.


Aku hanya tersenyum menjawabnya. Menggerakkan tanganku dengan cepat memilih sayuran yang akan kami masak siang ini.


"Mbak mau masak apa sih, biar aku bantu pilih sayurannya?" tanya Sinta padaku.


"Mbak pengen udang sama kangkung, tomatnya satu plastik, cabe merahnya setengah kilo, sama penyedap satu renteng. dan itu ayamnya satu kilo aja." Aku menunjuk paha ayam yang tidak jauh berada di dekat Sinta.


Sinta mengangguk mengerti dan segera mengambil apa yang tadi aku sebutkan.


"Kok belanjanya banyak banget sih? Hilman mau datang, ya?" Ibu Lina, wanita yang pertama tadi menanyaiku kembali bertanya.


"Lah kamu nggak jadi pisah sama Hilman, Yu?" Ibu Tini, wanita yang berada di paling ujung kini bertanya, membuat aku tidak jadi menjawab pertanyaan Ibu Lina.


Aku hendak membuka mulut tapi lagi-lagi terdiam karena ibu Tini lebih cepat berbicara. "Iya, saya dengar dari Bu Mertua kamu kalau kamu sama Hilman akan bercerai? Waktu itu dia sempat datang kan ke sini dan bertemu dengan saya. Dia bilang Hilman menggugat cerai kamu. Aduh masih muda kok sudah bercerai seperti itu? Apa mungkin karena ... maaf ya, Yu. Apa benar kalau kata ibu mertua kamu, kamu tidak bisa memberikan Hilman anak, jadi dia menikah lagi dengan orang lain. Ibu mertua kamu bilang kamu dibuang sama Hilman?"


Hatiku sakit mendengarnya. Apa yang dia bicarakan tidaklah benar sama sekali, kenapa juga ibu mertua mengatakan seperti itu. Jelas aku yang akan menceraikan anaknya.


"Bu Tini jangan bicara seperti itu. kasihan Ayu." Bu Lina memberi peringatan kepada wanita itu.


"Eh, saya kan hanya bertanya. Nggak ada maksud apa-apa. Lha wong yang bicara juga Ibu mertuanya," jawab Bu Tini dengan senyuman rasa bersalah.


"Maaf ya, Bu. Sepertinya ada yang harus diralat di sini." Sinta tiba-tiba maju dan bicara. "Yang benar bukan Mas Hilman yang menceraikan Mbak Ayu, tapi Mbak Ayu yang akan menggugat cerai Mas Hilman. Itu yang harus Ibu Tini tahu," ujar Sinta dengan nada yang kesal.


"Eh, loh kok sama saya? Saya kan hanya bicara seperti yang saya dengar dari ibu mertua Ayu. Dia yang bicara seperti itu, dan saya barusan bertanya sama Mbak Ayu." Bu Tini sewot mendengar ucapan dari Sinta tadi.


"Sudah, Sinta. Sudah. Jangan diperpanjang lagi," ucapku kepada Sinta. Sinta kini terdiam dengan perasaan yang kesal. terlihat dari caranya memasukkan tomat ke dalam plastik.

__ADS_1


"Ibu Tini. Memang benar yang ibu mertua saya ucapkan kalau saya dan Mas Hilman akan bercerai. Tapi benar juga yang Sinta bilang tadi, saya yang akan menggugatnya. Sampai saat ini kami belum bercerai, tapi sebentar lagi akan. Memang benar juga apa yang mertua saya katakan. Mungkin alasan Mas Hilman menikah lagi karena saya belum mampu punya anak. Tapi saya juga wanita, jika saya tidak disakiti saya tidak akan mengambil keputusan yang seperti ini. Siapa wanita yang ingin menjadi janda Bu Tini?" tanyaku pada wanita berambut pendek itu. Seketika wajahnya yang garang tadi kini terlihat menciut. Dia terlihat gelisah dan tubuhnya tidak mau diam.


"Eh, bukan itu maksud saya."


"Saya tahu, Bu Tini hanya melanjutkan kan apa yang yang dikatakan oleh ibu mertua saya. Tapi tolong jangan sampai ditambahi bumbu-bumbu yang tidak seharusnya. Daging sapi yang akan ibu Tini masak, jika menggunakan bumbu yang tidak tepat maka rasanya tidak akan enak untuk dimakan, dan akibatnya apa? Tidak akan enak juga pada akhirnya? sakit perut? Apa keracunan!" ujarku padanya dengan nada yang sedikit ditekan. Wajah itu terlihat pucat.


"Nggak Mbak Ayu. Maafkan saya. Saya nggak akan lagi bicara yang seperti itu kepada orang lain. Maaf!"


"Mbak. Ini saya bayar belanjaan saya, uang kembaliannya besok saja saya ambil!" seru Bu Tini seraya menyerahkan uang satu lembar seratus ribu kepada pemilik warung dan mengambil barang belanjaannya yang tadi dia pilih. Pemilik warung itu hanya melongo melihat Bu Tini keluar dari warungnya ini.


"Uangnya aja kurang mau ada kembalian bagaimana?" ujar pemilik warung itu seraya menatap uang merah yang ada di tangannya.


"Sabar Mbak Ayu. Tolong jangan dengarkan Bu Tini. semoga Mbak Ayu diberikan kelancaran dalam setiap langkah Mbak Ayu kedepannya," ucap bu Lina sambil mengelus lenganku dengan lembut. Kulihat tatapannya yang lembu terhadapku.


"Iya Bayu. Apa salahnya juga kalau kita hidup sendiri? Saya juga mendukung dengan apa yang Mbak Ayu akan lakukan. daripada makan hati diduakan lebih baik sendirian," ucap bu Tirah mendukungku.


Aku mengangguk seraya tersenyum kepadanya keduanya.


"Iya tuh, Bu Tini keterlaluan dia mau gibahin orang. Mbak Ayu juga sih tadi, terlalu baik jadi orang. Tadi aku mau lawan dia malah dilarang!" ucap cinta dengan kesal.


Kami selesai dengan acara belanja yang dengan sedikit terdapat insiden tadi. Untung saja tidak sampai jambak-jambakan dan membuat warung itu menjadi kacau. Dia dengan gertakan sedikit saja sudah pergi dengan rasa takut.


Shinta membuka pintu pagar, barang yang tadi dia bawa dia berikan kepadaku, hingga kini aku menenteng tiga kantong plastik belanjaan.


"Sini, Mbak!" Sinta mengambil dua kantong belanjaan dan mulai masuk ke dalam rumah.


"Akh!!" Aku terkejut dan berteriak saat merasakan seseorang menarik tanganku.


"Ayu!"

__ADS_1


__ADS_2