Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
311. Bertanya Pada Dewi


__ADS_3

Menjadi seorang driver ojek online memang gampang susah. Ada kalanya aku menemukan penumpang yang rese, meminta diantar ke sana ke sini sambil perjalanan pulang, tapi yang dia berikan hanyalah ongkos yang tertera pada aplikasi. Padahal jika diatidak minta diantar ke tempat lain tentu saja aku bisa mengantarnya lebih cepat dan bisa mendapatkan orderan lain lagi.


Terkadang memang lelah bekerja kemudian menarik penumpang, tapi itu harus aku lakukan demi masa depanku, dengan siapa pun aku nanti, tentu saja aku tidak mau membawa istriku hidup susah.


Jam sepuluh malam aku baru pulang ke rumah, lelah, perih mata ini karena terkena angin, rasanya sedikit rontok tulang belulang ku. Seminggu menjadi driver ojek online banyak membuat waktuku dengan Vita menjadi berkurang.


Terdengar Vita menangis saat aku baru saja masuk ke dalam rumah, ibu menggendongnya dan menyodorkan botol susu, tapi Vita menepisnya dengan kasar sehingga botol tersebut jatuh dan menggelinding di lantai.


"Eh, itu ayah pulang," ucap ibu menunjuk ke arahku yang sudah masuk ke dalam rumah.


"Vita kenapa, Bu?" tanyaku bingung, pasalnya ibu tidak memberi kabar jika Vita rewel. Biasanya akan memintaku untuk cepat pulang atau menitipkannya pada Dewi.


"Gak tau, nih, dari tadi magrib rewel terus. Padahal gak demam," ucap ibu. Aku mengambil Vita ke dalam gendonganku, dengan segara anak itu terdiam, hanya sesegukkan sesaat. Terlihat sekali jika dia menangis dengan hebat karena matanya kini bengkak.


"Vita kenapa? Kok nangis? Ada yang sakit?" tanyaku pada Vita. Dia tidak menjawab, biasanya jika aku bertanya seperti itu dia akan menunjuknya dah bilang 'auh' (aduh).


"Kangen kamu kali, dia kan gak biasa tidur kalau gak ada kamu," ucap ibu lalu pergi ke dalam kamarnya.


Aku membawa Vita ke dalam kamar kami, menidurkannya ke atas kasur, tapi anak manja ini tidak mau berbaring. Masih erat memeluk leher.


Aku bertanya lagi, tapi dia masih tidak menjawab. Bingung sebenarnya, tapi tidak tahu ada apa dengan dia. Jadilah malam ini aku duduk sambil menyandarkan diri pada dinding dan memeluknya erat. Sampai tidak terasa aku pun tertidur tanpa mengganti pakaian dan dalam kondisi duduk.


***


"Man, kamu jangan ngojek dulu nanti sore. Kasihan Vita dari kemarin rewel." Ibu berbicara sambil memasukkan bekal ke dalam wadah makanan untuk ku bawa ke pabrik.


"Iya, lagian Hilman juga capek, Bu. Badan pegal banget," keluhku.


Hari ini aku memaksakan diri untuk pergi bekerja, pabrik adalah prioritasku sedangkan menjadi driver adalah sampingan. Jangan sampai hanya karena gara-gara aku beristirahat membuat aku dipecat dari pekerjaanku.


Baru saja akan keluar dari halaman rumah aku menemukan seseorang di luar pagar. Melambaikan tangan menyuruhku untuk mendekat. Dia adalah tetanggaku yang kemarin bersama dengan Dewi pulang dari pengajian.


“Ada apa Mbak?” tanyaku kepadanya.


“Nggak ada apa-apa sih. Cuma mau ngasih info aja,” ucapnya.


“Info apa?” tanyaku dengan penasaran. Aku melihat jam yang ada di pergelangan tangan, masih cukup waktu untuk mendengarkan info darinya. Tidak tahu apa itu, tapi jujur saja aku penasaran.


“Kamu tahu nggak kalau Dewi itu sudah ada yang nanyain?” tanya dia kemudian.


“Hah? Maksudnya?” tanya ku bingung.

__ADS_1


“Ih, kamu itu bodoh atau pura-pura bodoh, sih?” tanya Ani kepadaku, terdengar sedikit kesal.


“Eh, ini maksudnya ada apa? Aku nggak tahu loh tiba-tiba kamu bilang Dewi ada yang nanya?” tanya aku balik kepadanya.


“Dewi kemarin curhat, katanya ada laki-laki yang sudah nanyain dia sama orang tuanya,” ucap Ani lagi.


Deg.


Seketika detak jantungku ini berdebar mendengar Ani mengatakan itu.


“Siapa laki-laki itu?” tanyaku kepada Ani. Wanita dengan dua anak itu hanya mengangkat bahunya sekilas.


“Tidak tahu, tapi bukan orang kampung sini.”


“Terus, Mbak ngomong gini sama aku itu kenapa?” tanyaku pelan.


Tiba-tiba saja dia menepuk kepalanya sedikit keras. “Haduh kamu ini. Aku bilang gitu supaya kamu tahu, dan kamu perjuangin Dewi.”


“Hah?”


"Eh, malah melongo! Kamu itu ngerti kode nggak sih?" tanyanya semakin kesal.


"Aku tahu kalau kamu suka sama Dewi kan?" tanya dia lagi.


"Eh, kamu kok malah ngelamun seperti itu. Just info. Kalau kamu memang suka sama dia lebih baik kamu bicara sama Dewi. Sepertinya Dewi juga suka sama kamu."


Aku menatapnya tidak percaya. Entah apakah itu benar atau tidak, dia kan bicara 'sepertinya', masih belum jelas apakah itu kebenarannya atau tidak.


"Tapi kan belum tentu juga Mbak. Aku memang suka sama dia, tapi dia belum tentu suka sama aku. Lagian apa orang tuanya mau nerima aku yang seperti ini? Mbak tahu kan bagaimana kasus kemarin yang didapat ibu?" tanyaku kepadanya.


"Ya kan kamu harus coba dulu, daripada nantinya kamu menyesal kalau dia sudah sama orang lain. Jarang loh wanita sebaik dia. Sabar, baik, pengertian. Kalau dia sudah sama orang lain kamu nanti mau sama siapa?" Dia bertanya sambil menatap tajam ke arahku.


Aku kini hanya diam. Tidak tahu harus bagaimana. Sekarang ada di dalam pikiranku apakah aku bisa membuat dia bahagia? Apakah orang tuanya bisa memberikan dia kepadaku?


"Ya sudah kamu berangkat dulu sana, ini sudah siang. Aku cuma mau ngasih info saja sama kamu. Jangan sampai kamu menyesal, Man." Ani kemudian pergi dari hadapanku.


Aku masih tertegun terdiam di atas motorku. Memikirkan bagaimana masa depan nanti, wanita yang sudah di kemarin menjadi pikiranku dan selalu menjadi objek fantasiku kini akan dipinang oleh orang lain.


Ah, apakah aku harus lebih dulu memintanya kepada orang tuanya?


Jam yang ada di pergelangan tangan terus bergerak, sudahkah sedikit terlambat dari biasanya karena barusan Ani memberhentikanku. Untuk saat ini aku akan pergi ke pabrik terlebih dahulu. Semoga saja sebelum waktu itu tiba aku bisa meyakinkan ibu untuk melamarnya. Kali ini aku yakin jika hati ini memang menginginkannya. Semoga saja dia juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku.

__ADS_1


Sial sekali, karena info dari Ani tadi pagi aku tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Bayangan Dewi selalu muncul di dalam benakku semenjak tadi berangkat ke sini, membuat tidak fokus dalam bekerja, juga membuat makanku tidak enak. Beberapa kali bawahanku menyadarkan dari lamunan.


Aku benar-benar tidak bisa membiarkan ini semua. Benar apa kata Ani, jika dia sudah bersama dengan yang lain maka hanya penyesalan yang bisa aku dapatkan. Jangan sampai penyesalan ini menyiksaku. Setidaknya nanti sore aku akan berusaha untuk berbicara dengan dia. Apapun keputusannya akan aku terima jika seandainya dia menolakku.


Sore ini aku pulang ke rumah. Masih sama seperti tadi dengan bayangan Dewi yang menari-nari di dalam pikiran. Sungguh mengganggu konsentrasi sehingga tadi hampir saja aku menabrak mobil saat lampu merah menyala.


Sampai di rumah aku segera menyimpan tas di dalam kamar, dengan segera melangkahkan kaki kembali keluar. Rasanya tidak sabar ingin bertemu dengan dia.


“Kamu mau ke mana, Man?” tanya ibu saat aku melewatinya. Vita juga hanya menatapku dari tempat duduk dia di samping ibu.


“Ke rumah Dewi,” jawabku singkat.


“Ada apa?” tanya ibu terdengar dengan nada heran.


“Ada urusan sebentar. Ibu tolong jagain Vita,” pintaku kepadanya. Tanpa menunggu jawaban dari ibu aku segera melangkahkan kaki dengan cepat ke rumah Dewi.


Pintu rumahnya aku ketuk dengan cukup keras, sedikit menunggu lebih lama aku pikir dia tidak ada. Saat hendak melangkahkan kaki kembali menuju ke rumah, terdengar suara kunci yang dibuka dari dalam.


“Hilman? Ada apa kemari?” tanyanya. Aku mengerti kenapa dia membuka pintunya cukup lama, ternyata dia baru beres mandi terlihat dari handuk yang ada di bahunya dan rambut yang masih basah.


“Boleh kita bicara?” tanyaku dengan tegas.


“Boleh” jawabnya lalu mempersilakanku untuk masuk ke dalam. Pintu rumah dibuka dengan sangat lebar.


“Mau saya buatkan kopi?” tanya dia aku menggelengkan kepala dan mengucapkan tidak perlu.


“Aku dengar kamu sudah ada yang nanyain?” tanyaku kepadanya. Baru aku sadar jika ternyata tidak ada panggilan ‘Mbak’ seperti yang selama ini aku sebutkan.


“Eh, kamu tahu dari siapa?” Dia balik bertanya dengan ada yang bingung menatapku dengan tajam.


“Nggak perlu tahu, yang sekarang aku tanyakan apa benar kamu udah ada yang nanyain?” Aku bertanya lagi sama seperti tadi dan sekarang sudah tidak peduli dengan sebutan biasanya. Ingin sekali mendengar jawaban dia, apakah benar atau tidak.


Dewi menundukkan kepalanya, dia menggigit bibir bawahnya. 


“Jawab, Wi!” pintaku dengan ada suara yang keras, yang aku inginkan jawaban Aku tidak ingin menunggu lagi.


“Benar. Memang ada orang yang sudah menanyaiku,” jawabnya. Tubuh ini terasa lemas mendengar jawaban barusan.


“Terus kamu jawab apa?” Aku ingin tahu.


Dia diam.

__ADS_1


“Wi, bilang sama aku, kemarin kamu jawab apa?” tanyaku semakin tidak sabar.


__ADS_2