
"Aku mau bicara sama kamu."
"Bicara apa?" tanyaku padanya. Aku menyimpan tas yang aku pakai ke gantungan yang ada di balik pintu.
"Aku dipecat," ucapnya dengan lesu. Refleks aku memutar kepalaku dengan tangan yang masih memegangi tas.
"Dipecat? Kok bisa?" tanyaku dengan bingung. Mas Hilman, karyawan teladan yang tidak pernah punya coretan merah di dalam rapotnya, kini dalam keadaan yang sangat kacau di dalam hidupnya. Perusahaan besar tempatnya bekerja, yang selalu dia banggakan, yang selalu keluarganya agungkan, jadi bahan pujian orang-orang karena sulit untuk bisa masuk ke dalam sana, kini statusnya hanyalah mantan karyawan.
Aku segera menggantungkan tas ini di tempatnya dan mendekat padanya yang duduk di tepi ranjang.
"Karena video yang tersebar di media sosial. Perusahaan menindaklanjuti dengan memecatku dari kantor secara tidak hormat. Aku hanya diberi tiga bulan gaji, Yu." Suaranya terdengar tidak bersemangat. Tatapan matanya kini hanya kosong menatap ke lantai.
Aku kasihan terhadapnya, tapi tunggu! Untuk apa aku kasihan? Bukankah ini patut untuk dia dapatkan?! Ini balasan karena dia sudah dzolim kepadaku kemarin itu.
"Terus?" tanyaku membuat dia menolehkan kepalanya dengan raut wajah yang bingung.
"Aku dipecat, Yu," ungkapnya sekali lagi dengan nada yang terdengar sedih.
"Iya, aku sudah dengar. Terus kenapa kalau kamu dipecat. Cari kerja lagi, lah."
__ADS_1
Mas Hilman menatap ke arahku dengan sorot tak percaya. "Ayu kok kamu gitu? Mana simpati kamu sama aku, Yu?" protesnya dengan tatapan tidak percayanya.
Aku tertawa kecil padanya. "Simpati? Aku sudah cukup merasakan simpati sama diri aku sendiri. Selama ini kamu juga gak ada rasa simpati sama aku, kan? Kenapa juga sekarang aku harus punya rasa seperti itu sama kamu?" tanyaku padanya. Mas Hilman semakin menatapku dengan tatapan yang aneh, seperti bingung, tapi juga telihat marah yang tertahan di dalam dirinya.
"Kamu keterlaluan, Yu. Apakah kamu gak kasihan dengan suami kamu karena sekarang aku ini pengangguran?" tanya Mas Hilman kepadaku.
Aku hanya mengangkat kedua bahuku. Kasihan untuk apa? Semua ini terjadi karena kesalahannya juga, jika saja hari itu dia tidak melakukan hal itu padaku, aku pasti tidak akan marah terhadapnya. Selain dengan sikapnya yang sudah tidak adil, dia juga berbohong padaku. Dia tidak masuk kentor demi menemani belanja gundiknya pakaian kurang bahan.
"Kamu keterlaluan, Ayu!" bentaknya. Kini tubuh tinggi tegap itu berdiri dengan wajah yang terlihat sangat murka.
"Aku gak menyangka kalau kamu sekarang ini sangat berubah, Yu. Kamu bukan Ayu ku yang dulu!" Dadanya terlihat naik turun seolah baru saja menyelesaikan lari marathon. Nafasnya kasar terdengar.
"Dia bukan mainan! Dia juga istriku!" bantak Mas Hilman padaku, dekat sekali hingga aku bisa merasakan napasnya yang hangat menerpa hidungku dan juga melihat kilatan marah pada matanya karena aku mengatakan hal itu.
Air mataku kini mengalir saat dia mengatakan hal itu. Ucapannya terdahulu memang ternyata bohong belaka. Harusnya dulu aku tidak perah mempercayai mulut lelaki ini. Harusnya aku tidak mempercayai ucapannya itu!
"Iya, dia memang juga istri kamu, Mas. Tapi tidak bisakah kalau kamu adil terhadap kami? Dari perlakuan, dari resiko, dari waktu, kamu lebih banyak habis kan untuk dia. Kamu gak tahu apa yang aku rasakan selama ini?" tanyaku dengan menatap tajam ke arahnya. Kubiarkan air mata ini mengalir hingga terjatuh. Biarkan saja dia meihat diriku yag rapuh setelah elihat kepura-puraanku yang entah dia tahu atau tidak.
"Harusnya kamu juga lebih perhatian dengan aku, selaku orang yang harus bertahan dengan kesakitan saat suaminya menikah lagi dengan tanpa izin aku, Mas! Aku yang harusnya kamu hibur. Aku yang harusnya kamu regkuh supaya aku bisa menerima hubungan kalian berdua!" teriakku lagi. Entah apakah ada orang yang bisa mendengar kami atau tidak di luaran sana, aku tidak peduli!
__ADS_1
"Aku sudah mencobanya, Yu. Apa kamu gak tau kalau aku juga sedang berusaha untuk berlaku adil?" tanya Mas Hilman.
"Adil yang bagaimana? Kamu semenjak dari awal tidak pernah berlaku adil padaku. Kamu condong sama dia, apalagi sekarang dia sedang hamil anak kamu. Apa kamu akan terus saja meminta aku mengalah dengan semua? Mejadikan aku ini sebagai babunya? Apa yang kamu pikirkan saat aku selalu melakukan apa yang kalian minta? Apa kamu gak pernah sedikit saja mengerti perasaan aku saat melakukan hal itu? Aku terpaksa, Mas! Aku terpaksa karena kamu yang minta!"
"Kamu gak pernah mengerti kan perasaan aku seperti apa? Aku juga butuh perhatian kamu, Mas!" jeritku dengan keras.
Sesak di dada semakin terasa hingga rasanya ingin meledak karena rasa panas dan juga emosi yang meluap di dalam diri.
"Apa kamu gak pernah mengerti perasaan aku? Kamu selalu saja meminta aku yang mengerti dengan dia, dengan apa yang dia mau, tapi kamu sendiri tidak peduli dengan perasan aku, Mas!" jeritku lagi.
"Aku sakit, Mas!" ucapku seraya memukul dada ini yang semakin sesak. Berharap dengan apa yang aku lakukan ini semua rasa yang sangat tidak enak itu akan keluar dan pergi menghilang.
"Bahkan saat aku sedang sedih dengan keadaan Ibu ... kamu ... kamu gak ada untuk temani aku ...." lirihku dengan sambil terisak.
"Aku kehilangan kamu, Mas. Kamu ada, tapi aku tidak merasakan kamu ada untuk aku. Cuma dia yang kamu perhatikan, cuma dia yang kamu lihat. Apa karena aku tidak bisa memberi kamu anak?" Kuusap air mata yang masih mengalir dengan punggung tangan.
Mas Hilman kini menundukkan kepalanya. Bahunya merosot ke bawah.
"Maaf. Aku minta maaf, Ayu. Aku akan berusaha untuk berubah. Beri aku kesempatan untuk bisa adil sama kamu dan Hana," ucapnya dengan pelan. Dia mulai melangkahkan kakinya satu langkah hingga mendekat ke arahku. Dengan segera aku undur dua langkah membuat dia kini berhenti melajukan kakinya.
__ADS_1
"Tidak perlu, Mas. Kamu lebih baik perhaikan Hana dan juga anakmu saja. Aku sudah gak tahan lagi. Aku mau menyerah saja!"