
Rangkaian acara dilakukan dengan khidmat dan berjalan dengan lancar. Lantunan doa yang aku dapatkan dari banyak orang yang ada di sini membuat aku terharu. Alhamdulillah, berkat bantuan dan niatan ibu, banyak yang mendoakan aku dan si jabang bayi sehat hingga pada saat lahir nanti.
Beberapa keluarga Arga juga turut hadir di dalam acara ini, terutama Bibi dan kerabat perempuan yang lain. Ku akui memang di dalam keluarga Arga tidak membedakan antara aku dan menantu keluarga yang lainnya.
Kami menginap di rumah malam ini, kasihan juga ibu yang sudah mengurus semua ini dan jika harus aku tinggal. Paling tidak, aku dan yang lain menginap di sini dan bisa melihat senyumannya. Ibu dan Gara seperti biasa tidur bersama, sedangkan aku dengan Arga tidur di kamarku yang dulu.
"Alhamdulillah , tadi rame ya," ujar Arga. Seperti biasa aku tidur di atas lengannya.
"Heem, Alhamdulillah banyak yang doakan. Semoga saja semua sehat sampai hari lahir dan sampai besar nanti."
"Ma," panggilnya.
"Hem?"
"Itu ... Papa boleh gak nengok si dedek?" tanyanya. Arga memang selalu menyebalkan, kenapa harus bertanya juga kalau dia mau? Kenapa tidak langsung saja praktek? Semenjak hamil, dia selalu minta izin kalau sedang ingin.
"Boleh," jawabku. "Mau gaya apa?" godaku padanya.
Arga tersenyum dan mulai menindihku, tapi masih berhati-hati takut menindih perut yang sudah mulai menyembul.
"Gaya apa aja yang kamu mau," bisiknya. Dia mendekat dan menciumku dengan penuh perasaan. Semua area wajah tidak luput dari jangkauan bibirnya. Lum*tan dan h*sapan kuat pada lidah dia lakukan, mengabsen semua yang ada di dalam mulutku satu persatu. Tangannya yang besar mulai membuka pakaianku dan menanggalkannya. Kami mulai melakukan pemanasan. Saling raba, mencari kesenangan, saling memanaskan udara yang dingin satu sama lain.
__ADS_1
...***...
Menjelang sore kami pulang ke rumah. Arga yang menyetir, karena kemarin setelah acara pak sopir kembali ke rumah dengan Mbak Sus dan Mbak Sari.
"Kita mau mampir apa langsung pulang?" tanya Arga pada kami.
"Abang, mau kemana dulu?" tanyaku pada Gara. Aku sih lebih ingin pulang sebenarnya, tapi siapa tahu jika Gara ingin mampir terlebih dahulu.
"Ke mall, Pa. Mainan ya?" pintanya.
"Gimana, Ma? Boleh?" tanya Arga padaku.
"Asyik!" seru Gara dari belakang.
Arga melajukan kendaraannya ke mall terdekat hingga tak berapa lama kami telah sampai di sana.
Mobil telah di parkir di basement, dengan menggunakan lift kami naik ke lantai paling atas di mana tempat permainan berada. Ku biarkan Gara dan ayahnya bermain dengan puas, sedangkan aku memilih untuk duduk di bangku panjang sambil memperhatikan mereka yang berlarian ke sana dan kemari.
"Mama gak mau ikut main?" tanya Gara setengah berteriak di antara bisingnya lagu dari mesin permainan.
"Enggak!" balasku berteriak padanya. Hampir satu jam kami di sana dan Gara sempat tidak mau pulang saat Arga mengajaknya.
__ADS_1
"Abang, ini sudah hampir magrib loh. Mama juga pengen istirahat, Sayang. Pulang, yuk. Besok Abang juga sekolah, belum belajar, kan?" ucapku pada Gara. Dengan mengerucutkan bibirnya dia menghentikan permainan dan berjalan perlahan ke arahku.
"Yaah, Ma. Baru juga sebentar," ucapnya.
"Sebentar, lihat jam berapa ini? Sudah satu jam loh, hampir magrib. Nanti lagi. Kalau Abang libur sekolah," peringatku.
"Iya, deh." Gara berjalan mendahului kami keluar dari area permainan ini.
"Dia nurut banget sama kamu, tapi sama aku enggak," ujar Arga dengan nada lesu. Aku hanya tertawa kecil melihat raut wajahnya yang seperti itu.
"Anak itu jangan di kerasin, juga jangan di manjain, tapi orang tua harus tegas. Yuk, ah."
Kami pergi dengan menuruni eskalator kini. Gara sambil ingin melihat-lihat katanya.
"Aku ambil mobil dulu, kalian tunggu di sini, ya." Arga pergi meninggalkan kami di depan mall.
Sekilas dari tempatku berdiri, aku melihat sosok yang tak asing bagiku dengan seragam orange yang dia pakai. Peluit ada di mulutnya, sesekali dia bunyikan seraya menggerakkan tangannya dan mengarahkan motor yang keluar dari deretan yang ada di sana. Motor pergi setelah memberikan upah atas jasanya. Meski langit hampir gelap, tapi aku jelas melihat dan tahu siapa dia. Lebih kurus dari terakhir aku lihat. Rambut yang biasa pendek kini sedikit panjang, juga kumis yang biasanya terawat, kini tumbuh lebat di sana.
Tanpa sengaja, tatapan kami berpapasan, jelas aku melihat dia terdiam menatapku dari tempatnya. Beberapa detik, sampai akhirnya tubuh laki-laki itu terhalang oleh mobil yang aku kenal.
Arga keluar dari dalam mobil dan membukakan pintunya untukku. "Maaf lama menunggu," ucapnya sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumnya. Masuk ke dalam mobil dan memasang seat belt seraya kembali melirik laki-laki yang ada di sana. Sudah tidak ada lagi. Sosok itu kini menghilang.
__ADS_1