Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
327. Unboxing


__ADS_3

Dia memalingkan wajahnya dari ku dengan senyuman tipis di bibirnya. Bisa ku lihat dari cahaya yang ada wajahnya itu bersemu dengan merah, seakan dia malu saat aku mengatakan hal seperti itu.


Aku semakin mendekat ke arahnya, ingin sekali meraup bibir manis yang beberapa hari ini sering menjadi canduku, bibir yang tidak bisa aku abaikan saat hendak pergi maupun pulang bekerja dan sebelum tertidur lelap, yang menjadikan diri ini bagai singa yang lapar semenjak kami menikah.


Tiba-tiba saja aku teringat dengan seseorang sehingga berhenti mendekatinya, lantas dengan segera menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri serta ke persekitaran, membuat Dewi menatapku dengan bingung.


"Kamu kenapa?" tanya Dewi padaku.


"Vita. Vita kemana?" tanyaku. Aku menatap Dewi.


Wajah itu kemudian berubah masam. Sadar dengan raut wajahnya yang sudah berbeda aku menjadi merasa bersalah, tapi bingung juga, ingat jika tadi saat di telepon dia bilang Vita sedang tidur.


“Ada di rumah ibu, tadi ibu nyusulin ke sini dan nyuruh aku layani kamu dengan baik. Ini mau jadi malam pertamaan atau mau nyusulin Vita?” tanya Dewi, terdengar nada suaranya yang sedikit kesal.


Aku tersenyum senang, aman jika begitu kan? Tidak ada gangguan sama sekali.


“Mau jadi dong. Mau unboxing aja,” ucapku dengan penuh semangat. Ah, ibu memang the best!


Aku kembali melanjutkan misiku, mulai mendekat dan mulai memadupadankan bibir ini dengan dia. Sudah tidak ragu lagi dia membuka mulutnya, beberapa hari ini aku sudah menjadi guru yang baik buat dia sehingga dia bisa melakukannya dengan lihai seperti itu, tidak lagi sesak napas saat aku menguasai mulutnya, tidak lagi tersedak saat saliva kami saling bertukar, tidak lagi protes saat aku mem*gut bibirnya dengan tarikan yang keras.


Satu tanganku bermain di area dadanya, hal yang sedari kemarin tidak dia izinkan karena keadaan yang tidak memungkinkan, takut aku khilaf. Akan tetapi, kali ini dia tidak menolaknya sama sekali.


Hanya bermain di luar pakaiannya yang tipis dan aku rasakan jika tubuhnya bergetar, tapi masih dalam keadaan pasrah. Sesekali dia mengeratkan genggaman tangannya pada kemejaku yang terbuka semua kancingnya. Aku perkirakan dia kali ini sedang ketakutan.

__ADS_1


Perlahan saja, aku tidak berani memainkan tanganku dengan kasar di sana, hanya mengusapnya dan mer3masnya perlahan, memutari ujung yang mencuat tanpa penghalang lagi di dalam sana. Sesekali menjepit suatu bulatan itu dengan lembut. Tubuhnya menegang, suara nakal dari mulutnya terdengar tertahan hingga hanya terdengar desisan di sela ciuman kami.


Kami tidak menghentikan permainan kami, semakin lama semakin dalam bibir ini saling bersentuhan, semakin kuat saling berebut oksigen dan saliva.


Ku rasakan jika tangannya menarik tanganku, masuk ke dalam pakaiannya yang tipis sehingga kulit telapak tanganku bersentuhan dengan kulit perutnya yang sangat halus.


Dewi menarik dirinya sehingga tautan bibir kami terlepas.


“Lakukan tugas kamu sebagai suami. Aku siap malam ini,” ucapnya dengan lirih sambil berusaha membuka lingerie yang menempel di tubuhnya.


Aku menahan tangan itu, membuat dia menatapku dengan bingung.


“Biar aku saja yang lakukan,” ucapku. Dewi melepaskan ujung lingerie yang dia pakai dan pasrah dengan keadaan. Aku membuka kemeja yang ku pakai, melemparkannya ke lantai. Rasanya sedikit tidak nyaman juga dengan diri ini yang telah seharian berkeringat.


“Gak apa-apa, rasanya aku sudah terlanjur … Jangan buat aku malas dan menunda memberikannya, Mas,” ucapnya dengan nada yang sedikit marah.


Aku tidak lagi berbicara, tidak ingin membuat momen ini semakin kacau dan akhirnya dia marah, ingat apa yang dikatakan oleh ayah mertua jika Dewi sudah marah sulit untuk membujuknya kembali.


Ku lanjutkan kembali apa yang tadi tertunda, dengan perlahan menarik tali yang ada di bahunya ke bawah, meloloskan kedua tangannya dari sana sehingga membuat dua bulatan kenyal besar terlihat dengan jelas. Tidak aku sangka jika ini sempurna, sangat menggiurkan sebab memang belum terjamah oleh orang lain. Besar, padat, masih terjaga keasliannya.


Benda itu tidak sabar aku mainkan dengan tanganku, tak cukup di dalam genggaman tangan. Tidak aku sangka jika ukurannya sebesar ini, karena dia selalu memakai pakaian longgar dan membuatnya tersembunyi dari pandanganku.


“Ah.” Satu 3rangan halus terdengar dari mulutnya saat aku masih bermain di sana. Bibir tidak berhenti mencetak warna-warna indah yang hanya aku satu-satunya orang yang bisa mencetaknya di kulit mulus istriku.

__ADS_1


“Hilman,” desisnya sambil memegangi lenganku dengan erat, suaranya nyaring dan mendayu-dayu.


“Ah, sudah. Sudah,” ucapnya dengan setengah terengah. Aku mengangkat kepala. Ku lihat dia yang menatapku dengan sendu. Sorot matanya menandakan jika dia sudah mencapai sesuatu yang tidak bisa aku kira … Ah, tidak usah dijelaskan kalian sudah mengerti sepertinya.


“Kenapa?” tanyaku. Dewi mendorong tubuhku dan lagi-lagi memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Kamu sudah tidak mau?” tanyaku sedikit kecewa pada diriku sendiri, harus nya tadi aku jangan bermain-main, tancap gas saja!


Dia menggelengkan kepalanya. “A-aku ….”


Tidak ada kata lagi, tapi dia hanya tersenyum malu.


“Rasanya ada yang gak nyaman, basah,” ucapnya dengan malu.


Aku tertawa geli mendengar dia berkata dengan jujur seperti itu, tandanya jika aku berhasil telah membuatnya keenakan sepertinya.


“Berarti sudah boleh, kan?” tanyaku sekali lagi. Dia menganggukkan kepalanya.


Aku kembali melakukan apa yang harus aku lakukan, perlahan membuka pakaian dia dan juga celanaku sehingga kami berdua seperti bayi yang baru saja terlahir ke dunia.


Dengan sangat sadar aku menatap indahnya tubuh yang tidak terbalut apa-apa di hadapanku ini. Saliva yang ada di tenggorokan sulit sekali aku telan. Meski samar yang aku lihat telentang di hadapanku ini sangat membuat bersemangat sekali.


Dadanya yang besar aku sentuh, tapi dia tepiskan dengan kasar.

__ADS_1


“Jangan main-main lagi, Hilman!” ucapnya dengan kesal.


__ADS_2