
Ayu
Udara pagi ini sangat dingin sekali. Selimut tebal kembali aku tutupkan pada tubuh yang lelah dan tanpa pakaian. Rasanya aku sedikit malas untuk bangun. Selama tiga hari di sini aku hanya makan dan tidur. Gara, Sari yang mengurusnya. Azka ada ibu yang mengasuhnya. Aku hanya menyusui dan menidurkan saja saat malam.
Ah, senang sekali rasanya keluar dari kepenatanku selama ini.
Eh, aku bingung. Padahal sehari-hari juga aku selalu dibantu oleh Sari dan juga Mbak Sus di rumah. Tidak lelah. Hanya penat saja. Hehe.
Arga masuk ke dalam kamar, di tangannya membawa nampan berisikan satu gelas susu putih.
"Sudah bangun? Aku baru aja mau bangunkan kamu," ucapnya sambil tersenyum. Dia mendekat dan menyimpan nampan tersebut di atas nakas. Tak lupa dengan ciuman di kening dengan lembut sekali.
"Azka mana?" tanyaku seraya duduk bersandar pada kepala ranjang. Selimut aku pegang untuk menutupi dada yang banyak bercak merah karena ulahnya.
"Sama ibu, lagi berjemur di lapangan, katanya mau sambil nunggu tukang bubur lewat," ucapnya. "Nih, susu diminum dulu." Dia memberikan segelas susu hangat untukku, susu khusus untuk kehamilanku kali ini.
"Aku belum mandi."
"Memangnya kenapa?"
"Belum gosok gigi, gak enak lah mau minumnya juga," ucapku dengan malu. Sehabis subuh tadi kami sedikit bermain-main hingga lelah dan berkeringat. Tidak menyangka jika akan bangun di jam yang hampir menyentuh angka delapan.
"Ya. Mandi lah. Mau aku mandiin?" tanyanya dengan alisnya yang naik dan turun. Aku malu jika dia sudah bicara seperti itu. Akan tetapi, tanganku terulur untuk menyetujui ajakannya. Dasar aku!
"Dasar nakal!" ujarnya sambil tersenyum dan menyambut uluran tanganku. Jangan ditanya lagi bagaimana kami menuju ke arah kamar mandi, tentunya aku juga tidak perlu susah payah untuk berjalan kaki ke sana.
Susu sudah dingin saat aku dan Arga selesai dengan mandi kami. Kami. Ah, ya ampun. Aku malu, tapi tidak bisa menolak dengan kenikmatan dunia ini. Lelah sudah pasti, tapi tentunya lelah yang membuat hati bahagia.
"Aku susul ibu ke lapangan, deh. Kayaknya udah dari tadi gak denger suara Gara," ucapku pada Arga setelah selesai memakai pakaian.
"Susunya diminum dulu. Habiskan," ucapnya. Rambutnya yang basah dan sudah mulai panjang dia sisir ke belakang.
__ADS_1
"Iya. Kamu mau bubur juga? Atau kupat tahu?" tanyaku pada Arga.
"Apa aja lah, tapi pengen dibelikan gorengan juga ya, jangan lupa cabenya. Kalau ada cireng kasih bumbu kacang," pintanya. Semenjak awal datang dan ibu membawa cireng dengan bumbu kacang, Arga jadi ketagihan makan cireng.
"Oke." Susu yang Arga bawa tadi aku minum dengan cepat, satu gelas habis semua dalam satu tarikan napas. Setelah itu aku meninggalkan Arga yang tengah mengambil laptop dari tasnya.
Jalanan kampung cukup ramai, kebanyakan motor yang berlalu lalang di sini, sesekali penjual sayur keliling terlihat lewat dan berhenti di sebuah rumah.
"Ayu, beli sayur?" tanya seorang ibu yang kenal denganku, tapi aku tidak kenal dengan beliau, hanya tahu dia adalah tetangga kami. Dia memilih sayuran hijau yang ada di sana.
"Enggak, Bu. Mau nyusulin ibu di lapangan. Mari." Aku permisi pamit kepadanya sambil menundukkan kepala, dijawab juga dengan perlakuan yang sama.
Lapangan tidak terlalu jauh, ibu sudah terlihat di sana bersama dengan Azka dan juga Gara serta Sari, ada bibi juga dengan Widi sedang duduk di bangku yang disediakan oleh penjual bubur tersebut. Mereka terlihat mengobrol dengan seru sedangkan anak-anak sedang menikmati kerupuk di dalam mangkok.
"Bu," panggilku. Semua menoleh dan Azka tertawa serta melompat-lompat di pangkuan ibu, tangannya terulur padaku.
"Eh, mau sarapan bubur juga?" tanya ibu.
"Enggak ah, pengen kupat tahu aja." Aku pergi sebentar ke tempat penjual kupat tahu khas Tasikmalaya yang ada di samping Mang Bubur, begitulah di sini mereka memanggilnya. Penjual kupat tahu dipanggil Mang Kupat, penjual bubur dipanggil Mang Bubur. Lucu dan geli mendengarnya. Pasalnya, di daerah kami tidak disebut demikian, tetap dipanggil dengan nama si penjual.
"Ibu mau juga?" tanyaku pada ibu, juga tak lupa menawarkan kepada yang lainnya. Mereka menolak karena sudah sarapan tadi saat aku belum sampai ke sini. Jadilah aku hanya memesan untukku dan juga Arga.
Aku bergabung dengan ibu dan juga yang lainnya, duduk di bangku kayu yang kebetulan masih kosong, mendengar pembicaraan ibu dengan Bi Sari yang seru, sesekali Mbak Sari menimpali pembicaraan mereka. Pantas saja mereka betah di sini!
"Azka sudah makan, Yu. Habis banyak buburnya." Ibu melapor. Aku tenang jika Azka mau makan banyak. Aneh, jika denganku dia sangat susah sekali makan.
"Wah, hebat anak Mama. Makan banyak, ya?" Azka tertawa dan memukul pipiku pelan saat aku mengajaknya berbicara.
"Abang juga habis semangkok, Ma!" seru Gara tak mau kalah dari samping Mbak Sari.
"Iya, hebat semua anak Mama. Gitu, dong. Kalau makan jangan susah."
__ADS_1
Kami tidak lama di sana, selesai pesananku dibuatkan aku dan semua keluargaku kembali ke vila. Bibi pulang terlebih dahulu ke rumahnya untuk mengantarkan sarapan ke sawah, setelah itu akan menyusul ke villa untuk membuatkan nasi liwet dan akan kami makan siang nanti di sawah.
Arga masih berkutat dengan pekerjaannya saat aku kembali, meskipun kami sedang liburan, tapi dia masih harus memenuhi tanggung jawabnya di kantor.
Makanan aku sediakan untuknya di dapur dan mengajaknya untuk sarapan.
Arga terlalu serius dengan pekerjaannya sehingga dia sedikit terkejut saat aku mendekat.
"Ayo sarapan, serius benget sih sampai kaget gitu?" Aku tertawa kecil. Arga pun ikut tertawa dan mendekatkan diri, menarik tangan Azka untuk dia cium, pipinya yang gembil juga tidak luput dari sasarannya.
"Iya, nih. Lagi lihat laporan. Mana pesananku? Ada?" tanyanya.
"Ada. Di bawah. Yuk makan. Aku lapar banget," ucapku. Arga tertawa lagi.
"Haha, lapar lah. Mainnya emejing gitu mau gimana gak lapar?" tanyanya dengan nada yang jahil.
Bahunya yang keras aku pukul. "Dasar kamu, ya. Kamu yang terlalu. Kalau kamu kalem kan aku juga gak akan segitunya," ucapku tak mau terima dengan ucapannya barusan. Arga tertawa dengan keras.
Azka kini Arga ambil dan kami menuju ke arah dapur. Makanan yang tadi ku beli, kami nikmati dengan perlahan di dapur. Rasanya tentu beda dengan yang sering kami beli di kota asal kami. Rasanya khas dengan bumbu kacang, tapi entahlah, beda saja di lidah. Lebih enak yang ini.
"Siang nanti jadi makan di sawah?" tanya Arga. Aku mengangguk tanpa menjawab, mengunyah makanan yang ada di dalam mulut dengan seksama. Azka yang ada di pangkuan Arga menggapaikan tangannya, hendak meraih piring milik Arga. Segera dijauhkan piring tersebut karena takut Azka akan terkena sambal. Satu buah kerupuk Arga berikan pada putra kedua kami. Barulah Azka diam dan menikmati makanan tersebut.
"Oh, ya. Ada sawah yang mau dijual gak ya? Aku mau beli kalau ada," tanya Arga.
"Gak tau, kalau soal itu nanti tanya saja sama mamang," ucapku.
"Memangnya kenapa mau beli sawah? Siapa yang akan pegang?" tanyaku padanya.
"Kalau mamang mau, aku serahkan sama dia. Soal hasil terserah mau bagaimana. Aku mau beli aset yang bisa dijadikan tabungan di masa depan. Bukan cuma pabrik dan tabungan uang. Tapi, pengen beli banyak tanah kalau bisa buat masa depan anak-anak kita nanti," ucapnya menambahkan.
"Pabrik bisa aja bangkrut. Uang bisa aja hilang, tapi kalau tanah akan ada selama kita punya sertifikatnya," ucapnya lagi.
__ADS_1