Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
179. Penjelasan Arga


__ADS_3

Ayu.


Kesal rasanya. Siapa yang gak akan marah mendengar jawaban seperti tadi? 'Lain kali', dan lagi apa itu tadi? Gak bisa gitu menolak wanita lain untuk cipika-cipiki? Aku ada di sana, loh!


Tega sekali Arga tidak menolak saat wanita lain sangat dekat dengan dia. Aku ada di sana, jelas melihat dengan mata kepalaku sendiri.


"Mbak Ayu, mau dibantu buka pakaian atau nanti nunggu suami?" Mbak Yeni berkata membuat aku sedikit terkejut, saking kesal memikirkan apa yang terjadi tadi, malah jadinya sibuk sendiri dengan pikiranku. Ku lihat Mbak Yeni menutup mulutnya sambil tertawa, asistennya juga mesam-mesem gak jelas. Sepertinya aku tahu maksud wanita cantik ini!


"Eh, bantu saya saja lah. Tolong ya, Mbak. Gerah, nih. Ribet juga!" pintaku.


Mbak Yeni menghentikan tawanya. "Kirain mau dibukain sama suami tercinta. Kan biar bisa langsung ... Hihi," goda Mbak Yeni, lalu berputar ke belakangku dengan sambil tertawa. Aku malu jika sudah digoda seperti ini.


"Apa sih!" racauku malu.


Satu persatu apa yang ada di kepalaku dengan perlahan dia lepas dengan hati-hati, di mana saat melepas hijab dan juga dalaman kerudung dengan alat sedikit cekung melindungi kepalaku yang terdapat perban.


"Masih sakit kepalanya?" tanya Mbak Yeni.


"Sakit karena sedikit pusing aja, bukan sakit lukanya," jawabku jujur. Sedari siang memakai pakaian pengantin dan berganti dua kali, membuat aku harus menahan diri dengan beberapa belitan kerudung di kepala. Untung saja ada beberapa kipas di depan kami yang membantu menyejukkan diri ini.


"Saya carikan obat?"


"Gak usah, Mbak. terima kasih, nanti juga kalau sudah istirahat gak akan sakit lagi," ucapku. Mbak Yeni kembali membantu membuka gaun yang aku kenakan kini. Tangannya dengan lincah membuka kancing di belakang. Kancing berbentuk jamur kecil-kecil itu sangat banyak hingga sampai ke pinggang. Dengan gerakan cepat Mbak Yeni berhasil membuka tapi rasanya belum sampai ke pinggang.


Pintu terbuka, dari cermin aku melihat Arga masuk ke dalam ruangan. Mbak Yeni dan asistennya terlihat sedikit tidak nyaman Arga semakin mendekat. memperlambat gerak tangannya di punggungku.


"Mbak Yeni, biar saya saja yang bantu Ayu buat ganti baju," ucap Arga pada keduanya.


"Iya," jawab Mbak Yeni dan asistennya bersamaan. Aku terkesiap ketika melihat kedua orang itu menurut saja dan pergi dari ruangan ini dengan senyum penuh maksud.

__ADS_1


Duh, kenapa mereka pergi?


Arga duduk di belakang, perlahan membantu membuka kancing yang masih tersisa. Aku terkesiap dengan sentuhan di tangannya, membuat gelenyar aneh yang hampir tidak bisa aku tahan.


"Kamu masih marah, ya?" tanya Arga. Aku diam.


"Maafkan aku, Yu. Aku juga tidak tahu kalau Letta akan mencium pipiku. Dia tiba-tiba saja melakukan itu. Aku tidak sempat menghindar," ucap Arga dengan nada suara yang sangat pelan.


Aku beringsut menjauh dari dia. Kancing gaun tersebut sudah terlepas semua, tinggal aku turunkan gaun tersebut dengan usahaku sendiri, tidak akan sulit.


"Ucapan kamu itu, loh, Ga. Apa kamu gak berpikir kalau ucapan bisa saja menjadi doa?" tanyaku menatap ke arahnya. Ku biarkan gaun ini masih di tubuhku.


"Kamu sadar gak sih di dalam sana bagaimana hati ini setelah dengar kamu bilang gitu?" tanyaku sambil menepuk dada, rasa kesal kembali menelusup di dalam relung hati. Dari artian apa yang Arga katakan tadi 'lain kali', berarti bukankah dia sedang memberikan kesempatan untuk orang lain masuk ke dalam kehidupan dia selain aku? Apakah akan ada kemungkinan aku di duakan kembali?


Arga menundukkan kepalanya, terlihat raut wajah bersalah. "Aku tau, tapi bukan itu maksudku. Aku mau jelaskan kenapa aku bicara seperti itu sama Letta, Yu." Arga menepuk tempat kosong di depannya, meminta aku untuk duduk kembali, tapi aku tidak mau. Rasanya tidak suka dengan sikap dia tadi yang tidak bisa tegas terhadap wanita lain.


"Jelaskan. Aku mau dengar," ucapku.


"Teman curhat?" tanyaku.


Arga mengangkat kepalanya, menggerakkan kedua tangannya dengan cepat. "Bukan!" elaknya.


"Aku juga gak ngerti kenapa dia bicara seperti itu sama aku, jelas aku tidak pernah curhat dengan dia. Sumpah!" serunya, seraya mengangkat dua jari berbentuk V.


"Aku mohon kamu percaya sama aku, Yu," ucap Arga lagi.


Wajahnya terlihat memelas, meminta permohonan dariku. Aku masih diam, tidak ingin menatapnya lagi sehingga memutuskan untuk memalingkan wajah ke arah lain.


"Yu."

__ADS_1


Biar saja dia, abaikan, biar dia merasa bersalah!


"Yu, aku minta maaf sekali. Biar aku kasih tau kamu sesuatu, kenapa aku jawab seperti itu pada Letta. Dia wanita yang keras kepala, gigih. Sejak lama dia suka sama aku dan selalu mencari cara untuk dekat dengan aku, aku sudah tau sifatnya, Yu. Aku hanya takut dia malah berbuat onar tadi."


Aku masih mendengarkan. Jika pun hal itu adalah benar, tapi tidak dibenarkan juga ucapan Arga yang seperti itu.


"Lebih baik dia buat onar, dia yang akan malu sendiri," ucapku padanya.


"Bukan hanya itu, aku sedikit takut di kemudian hari dengan dia. takut kalau dia ganggu kamu," ucap Arga.


"Tidak apa-apa. Jika pun dia ganggu aku, tapi aku yang diganggu. Lebih baik seperti itu daripada lihat kamu dicium sama dia! Atau daripada dengar kamu bilang 'lain kali' sama dia! Bukankah kamu sedang buka peluang kalau kamu masih mau menerima dia!" seruku kesal. Tidak ingin marah, tapi apa yang terjadi membuat aku kesal dan ingin meledak.


"Bukan. Tidak ada maksud aku seperti itu sama kamu, Yu. Sumpah. Aku hanya mau lindungi kamu, tidak ingin membuat kamu susah di masa depan karena kemungkinan yang lain ...."


"Tapi bukan seperti itu caranya, Ga. Maksud kamu memang baik, tapi cara seperti itu tidak dibenarkan juga," ucapku ketus memotong ucapannya.


Jika dulu aku adalah istri yang penurut, untuk kali ini aku tidak mau lagi terlalu mengalah dengan keadaan yang salah, Meskipun benar apa yang Arga katakan, tapi jujur aku juga harus bisa menjaga hati ini untuk diriku sendiri.


"Maaf. Aku memang salah. Lain kali aku akan tegas, tidak akan seperti itu lagi kalau kamu gak suka," ucap Arga lagi.


"Siapa yang akan suka, Ga! Wanita mana yang akan suka suaminya mengatakan hal itu kepada wanita lain bahkan di depan istrinya sendiri?" Aku menggelengkan kepala. Arga menatapku dengan tidak percaya.


"Yu ...."


"Sudah lah, Ga. Aku capek," ucapku. Arga terlihat semakin merasa bersalah menatapku.


gaun yang ada di tubuh, ku coba untuk melepasnya. Sedikit sulit, sepertinya masih ada yang menyangkut di bagian punggung. Sulit untuk aku turunkan ke bawah.


"Aku bantu," ucapnya mendekat ke arahku, dia membantu melepaskan sisa kancing yang belum terlepas.

__ADS_1


"Kamu tidur di kasur, biar aku di sofa," ucapku, lalu pergi ke kamar mandi untuk melepas gaunku.


__ADS_2