
Telepon dimatikan sepihak, aku menjadi bingung dengan sikap Dewi, apakah dia marah karena aku tadi bicara seperti itu?
Pintu rumah terbuka. "Mas!" teriak Dewi yang mendekat padaku, dia keluar dari pagar dan tiba-tiba saja duduk di belakangku.
"Eh, kemana?" tanyaku bingung.
"Kan mau ke rumah kamu. Kamu bingung kan tadi mau pulang ke mana? Sekarang gak usah bingung, kamu ke rumah ibu juga tetep ketemu sama aku, kan?" ucapnya sambil terkekeh pelan. Aku tertawa geli. Bagaimana bisa istriku ini punya pemikiran seperti ini?
"Ayo maju. Kita ke rumah ibu mertua," ucapnya dengan menepuk pundak ku bak kang ojek. Aku melajukan kembali motorku ini ke rumah ibu.
Vita terlihat berjalan merambat pada kursi, dia berteriak dari tempatnya berdiri dan menggerakkan tangannya memanggilku.
"Pa!" serunya. Aku melambaikan tangan dan meraih tubuhnya saat sudah sampai di depan dia. Pipi yang tirus itu aku berikan kecupan dengan mesra.
"Assalamualaikum," aku membawa Dewi masuk ke dalam rumah. Terlihat ibu seperti biasa sedang menonton tv, hal yang tidak pernah terlewatkan saat aku pulang bekerja.
"Waalaikumsalam, sudah pulang," ucap Ibu.
"Sudah, baru aja pulang," jawabku sambil mencium punggung tangan wanita yang melahirkan ku.
"Ibu pulang jam berapa dari sana tadi? Hilman tadi kesiangan bangun dan gak lihat ibu di sana, jadi langsung kerja aja," ucapku padanya menerangkan.
"Oh, ya gak pa-pa, Ibu bangun tidur langsung pulang soalnya Vita BAB di celana," ucap ibu.
"Oh, pantas gak nemu Ibu di sana."
Aku berdiri dan pergi ke kamar, sedangkan Dewi bersama dengan Vita bermain di ruangan tamu.
Mandi sebentar, karena tadi pagi aku tidak mandi, dan di pabrik juga tidak sempat mandi. Rasanya segar sekali tubuh ini.
Kembali ke dalam rumah, aku tidka mendapati istri dan anakku di sana. hanya ibu yang masih menonton tv.
"Dewi kemana, Bu?" tanyaku pada ibu.
"Tadi di luar sih, gak tau kok gak masuk lagi," ucap ibu. Aku sedikit takut, soalnya tidak ada ucapan apapun dari Dewi.
"Ibu gk bilang yang kasar sama dia, kan?" tanyaku menyelidik pada ibu.
Ibu yang ditanya seperti itu menoleh padaku dengan tatapan yang tidak suka.
__ADS_1
"Apa maksud kamu? Kamu kira Ibu bicara apa?" tanya ibu dengan nada yang marah kini.
"Eh Hilman cuma nanya aja, siapa tahu Dewi pulang karena ibu biang apa gitu? yakin ibu gak bicara yang buat Dewi sakit hati?" tanyaku curiga, dilihat dari wajah ibu sedari kemarin sepertinya tidak suka dengan Dewi.
"Kamu ya, nuduh Ibu sembarangan, jangan kamu pikir karena kamu gak jadi dengan anak teman ibu jadi kamu nuduh gitu. Ibu emang belum rela kamu nikah, tapi bukan berarti kalau ibu gak suka sama Dewi!" cecar ibu dengan marah.
"Mas? Sudah selesai mandinya?" Suara itu terdengar dari luar, terlihat di tangan Vita dua bungkus jajanan berwarna warni, dia pegang dan mainkan hingga terdengar suara yang ada di dalamnya.
"Kamu dari mna, Wi?" tanyaku dengan cepat.
"Dari warung, ajak Vita jajan," ucapnya.
Aku jadi merasa bersalah karena tadi sudah menuduh ibu sembarangan.
"Tuh kan nggak ada apa-apa juga. kamu itu sembarangan nuduh sama ibu!" cerca ibu dengan marah.
"Ya maaf. Hilman kan nggak tahu. biasanya ibu kan begitu," ucapku lagi. Ibu kali ini mendelik menatapku dengan tajam.
"Jangan dibiasain. Keterlaluan kamu sudah sakiti hati ibu!" tunjuknya padaku lalu ibu gegas berdiri.
"Eh, Bu. Hilman minta maaf. Bukan maksud Hilman begitu." Aku mencoba meminta maaf kepada ibu, tapi Ibu kini berjalan menuju ke arah kamarnya. Terdengar suara pintu itu dikunci.
"Ibu marah aku sudah salah paham sama dia."
"Salah paham apa?"
"Aku kira Ibu sudah bilang yang nggak-nggak sama kamu. Kamu nggak ada di rumah, sih."
Dewi menatapku tajam dan dengan tidak suka. "Astagfirullahaladzim, kamu kok bisa mikir kayak gitu sih. Ibu dari tadi nggak ngapa-ngapain loh cuma nonton TV doang. Aku bawa Vita keluar buat jajan di warung depan. Kenapa kamu suudzon kayak gitu?" ucapnya dengan ada tidak suka.
Aku mengaku salah dan menundukkan kepalaku. "Ya aku nggak sengaja. Aku pikir kamu nggak ada itu karena Ibu bilang sesuatu terus kamu pulang."
"Ya ampun, Mas. Kasihan Ibu dituduh yang gak bener kayak gitu. Kamu harus minta maaf sama Ibu, Mas." Dewi menyuruhku. Aku mengganggukan kepala dan mendekat ke pintu kamar ibu. Mengetuknya dengan sedikit keras.
"Bu, buka pintunya. Hilman minta maaf nggak sengaja bilang kayak gitu sama ibu," ucapku dengan penuh penyesalan.
Tidak ada suara yang terdengar dari sana. Aku menatap Dewi dengan bingung. "Sepertinya Ibu marah."
"Ya marah lah dituduh kayak gitu. Siapa juga yang tidak suka dituduh kayak gitu, Mas. Meski Ibu jutek, tapi nggak pernah ngomong apa-apa yang nyakitin hati."
__ADS_1
Aku merasa semakin bersalah. Pikiranku terlalu jelek kepada ibu, dikarenakan masa lalu kami yang seperti itu.
Ibu tetap tidak mau membuka pintunya, aku yang bingung akhirnya meminta saran kepada Dewi. "Ibuku masih ada di rumah, Mas. Masa mau ditinggalin di sana."
Dewi juga terlihat bingung. Orang tuanya akan pulang dua hari lagi.
"Ya sudah kayaknya kita pulang ke rumah kamu dulu deh."
"Terus ibu gimana?"
Aku menggelengkan kepala merasa bingung harus bersikap bagaimana.
"Kita sekarang ke rumah kamu dulu deh, nanti malam aku pulang lagi ke sini buat minta maaf," ucapku kepada Dewi. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke rumah Dewi. Berpamitan kepada ibu dari balik pintu ini.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar, aku memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke rumah sana.
Motor aku tinggalkan di rumah ibu, pergi ke rumah Dewi dengan jalan kaki saja, sambil membawa Vita untuk jalan di luar.
"Sudah pulang, Man? Kok Ibu nggak dengar suara motor kamu?" tanya ibu mertuaku saat kami baru saja masuk ke dalam rumah.
"Motor di rumah ibu, tadi Hilman sekalian mandi dan ganti baju," jawabku atas pertanyaan ibu mertua.
"Oh iya, nggak pa-pa. Ibu kamu nggak ikut ke sini?" tanya ibu mertua lagi.
"Nggak, Bu. Lagi istirahat."
"Ooh, iya pasti capek ngurusin Vita. Tadi juga Ibu ke sana, makan siang sama besan," ucap ibu mertua lagi sambil tertawa kecil.
Mendengar ucapannya barusan aku jadi terdiam, melihat ibu mertua yang tersenyum bahagia sepertinya aku memang sudah salah paham kepada ibuku sendiri. Jika mungkin Ibu tidak menyukai Dewi, tapi tidak terdengar ibu mertua membicarakan itu. Aku benar-benar sudah salah paham kepada ibu.
"Kamu sudah makan? Tadi pagi nggak bekal sarapan kan. Sana makan dulu biar Vita ibu yang pegang. Sini Wi, kita sama ibu saja kamu urusin suami kamu." Ibu mengulurkan tangannya meminta Vita. Anak itu juga mau dipangku oleh nenek barunya.
Selesai makan malam Bapak memintaku untuk duduk bersama. Masih ada Mas Wahyu di sana.
"Begini, Man. Bapak sama Ibu punya rencana. Dewi kan nikah perawan, meskipun nikahnya sudah jauh terlambat tapi kami ingin memberikan perlakuan yang sama seperti yang lainnya. Bapak ingin mengadakan pesta. Bagaimana menurut kamu?" tanya Bapak. Aku sedikit tertegun mendengar permintaan bapak. Masalahnya untuk mengadakan pesta resepsi biayanya juga tidak sedikit.
"Gimana, Man. Kamu setuju nggak?" tanya bapak kepadaku.
Aku bingung jika ditanya seperti itu. Hanya ada uang tersisa tujuh juta di dalam ATM.
__ADS_1
"Begini Pak, saya jujur aja hanya punya uang kurang dari sepuluh juta, tapi kalau kurang ya terpaksa motor yang baru akan Hilman jual lagi."