
Bukan tanpa sebab aku membeli motor, memang itu alasan sebenarnya, mengumpulkan uang untuk biaya masa depanku nanti. Aku ingin sesuatu yang ku beli bisa menghasilkan uang. Sebisanya jangan hanya membuat uang itu mengendap di bank.
Tergiur dengan cerita seorang bawahan ku yang menjadi salah satu driver ojek online, menarik penumpang setelah pulang bekerja kini dia sedang menabung untuk membangun rumah. Sepertinya lumayan juga jika aku bisa mengikuti jejak dia. Dia juga akan membantuku dan memberi tahu caranya untuk mendaftar pada perusahaan tersebut.
Ibu masih diam, menatapku dengan wajah yang sedikit kesal.
"Man, jangan sampai kamu tinggalin Ibu ya kalau kamu nikah sama yang lain," pinta ibu seakan tidak puas dengan jawabanku tadi.
Aku menatap ibu dengan kasihan, sedikit ingin tertawa sebenarnya melihat ibu yang kali ini tidak mendebatku lagi.
"Iya, ya tadi yang kata Hilman, Bu. Jangan sampai Ibu ikut campur dengan permasalahan Hilman dan istri nanti. Jangan sedikit-sedikit Ibu ngomong atau berkomentar, cukup diam dan berdoa saja biar anak Ibu bahagia nanti," ucapku meminta. Ibu terdiam lagi, seolah seperti sedang melamun.
"Apa kamu gak cukup hidup berdua saja dengan Ibu?" tanya ibu tiba-tiba. Aku menggelengkan kepala.
"Hilman ini laki-laki, Bu. Punya anak, punya Ibu juga. Suatu saat kalau Hilman sakit, Ibu sudah tua, anak masih kecil kan ada yang bantu urusin. Kita gak selamanya bisa hidup seperti ini terus, Hilman harus terus bekerja, Vita butuh kasih sayang seorang ibu, dan Ibu juga apa gak mau ada orang lain yang bisa perhatikan dengan kesehatan Ibu? Ibu gak mau ada yang nemenin di masa tua nanti? Hilman gak selalu bisa ada di rumah, Bu. Dan lagi, jujur saja Hilman juga punya hasrat, daripada menodai wanita yang bukan muhrim, mendingan cari pahala di jalan yang benar," ucapku memberi keterangan. Tidak perlu malu, karena memang pada kenyataanya begitu. Aku laki-laki yang memiliki hasrat, ingin juga dipuaskan, sempat tergoda dengan 'jajan' di luar, tapi aku sadar jika itu adalah dosa yang juga akan merugikanku. Rugi uang dan lagi, tidak menutup kemungkinan jika wanita-wanita penjaja tubuh itu dalam keadaan sehat. Jika tertular penyakit kel*min, bukankah seram juga?
"Mau pergi, gak? Jalan-jalan, yuk," ajakku. Ibu menoleh, tapi tidak memberikan jawaban apa pun, masih terdiam seperti memikirkan ucapanku yang tadi.
"Hayu, mau jalan-jalan gak? Mumpung masih siang ini. Hilman traktir. Kemarin katanya pengen pergi kan?" tanyaku pada ibu. Ingat waktu itu ibu meminta diajak pergi.
Ibu mengangguk dan pergi tanpa bicara lagi. Aku juga sama, membawa Vita untuk masuk ke dalam kamar dan menggantikan bajunya. Vita sudah beberapa bulan ini aku ajarkan untuk tidak menggunakan pampers, aku juga sudah mengajarinya untuk bicara atau memberikan isyarat jika ingin buang air.
Ibu baru keluar dari dalam kamarnya, aku sedikit tercengang saat melihat penampilan ibu yang 'W.O.W' seperti itu. Kerudung bunga warna warni, baju merah maroon setinggi lutut, dan celana legging ketat berwarna hitam, serta sandal hak tahu setinggi tiga senti. Tas warna cokelat yang aku belikan bulan lalu dia sandang pada bahunya.
"Woaaah, lihat Vit. Nenek mau kemana?" tanyaku menggoda ibu. Ibu berjalan mendekat seraya membenarkan kerudungnya.
"Ayo, katanya mau berangkat, kok kamu gak ganti baju?" tanya ibu. Baru aku sadari jika ada yang lain dengan wajahnya, sedikit perona pipi dan alis besar yang tebal, juga lipstik merah di bibirnya.
"Ibu dandan?" tanyaku menyelidik. Sudah sangat lama sekali tidak melihat ibu merias wajahnya seperti itu. Palingan dandan kalau ada acara hajatan saja.
"Dandan dikit, kenapa?" tanya ibu sinis.
__ADS_1
"Ya, gak apa-apa, sih. Tapi kayaknya terlalu merah deh itu pipinya, itu juga kerudung kenapa pakai yang warna warni sih? Rame banget!" ucapku dengan jujur. Ibu mendelik ke arahku dengan sebal.
"Ya gak apa-apa, rame. Biar kalau nyasar kamu bisa gampang nemu Ibu," ucapnya ketus. Entah apakah ibu bilang itu serius, atau ibu sedang melawak? Akan tetapi, jujur saja aku ingin tertawa melihatnya.
"Gak! Ganti, Hilman gak mau bawa Ibu kalau dandanan Ibu kayak gitu," ucapku sambil mendudukkan Vita di lantai, aku berdiri dan mendorong ibu kembali ke kamarnya.
"Eh, kenapa ini?" tanya ibu.
"Ganti kerudungnya dan hapus make up-nya. Geli Hilman lihat Ibu dandan kayak gitu, gak cantik sama sekali," ucapku dengan jujur.
"Terus gimana? Ibu gak bisa dandan yang lain. Make up Ibu juga udah pada habis," ucap ibu lagi.
"Mendingan Ibu gak usah pake make up daripada mirip ondel-ondel kayak gitu. Hapus aja, nanti Hilman bawa Ibu ke toko kosmetik beli, yang Ibu mau, biar di dandanin sekalian sama penjaga tokonya," ucapku pada Ibu.
Akhirnya ibu mengalah, masuk kembali ke dalam kamar dan mengganti kerudungnya dengan warna yang lain. Make up sudah dihapus dan hanya lipstik saja di wajah ibu serta alis tipis. Terlihat lebih baik daripada tadi seperti ondel-ondel yang dijemur di bawah sinar matahari.
"Nah, kalau yang ini udah bener. Cantik banget!" ucapku berseru sambil mengangkat dua jempol untuk ibu. "Ya kan, Vit. Nenek cantik ya sekarang?" tanyaku pada Vita. Anak itu tertawa dengan sedikit melompat sambil berpegangan pada tepian meja, membuatku khawatir jika dia terjatuh.
"Ya sudah. Ini jadi berangkat apa enggak, nih!" tanya ibu dengan kesal.
Aku memasang dudukan yang tadi ku beli sebelum sampai ke rumah, khusus untuk Vita di depan agar tidak perlu lagi memeganginya saat membawa anak itu di motor. Vita terlihat senang sekali saat dia duduk di depan sana. Kedua kakinya bergerak maju mundur sambil tertawa senang, tangannya yang kecil menepuk motor yang beda dari biasanya. Ibu masih di dalam, katanya memastikan kembali semua pintu sudah terkunci.
"Sudah semua, Bu?" tanyaku pada ibu saat melihatnya keluar dari dalam rumah.
"Sudah," jawab ibu dengan wajah yang datar. Padahal aku tahu dari sorot mata dan sudut bibirnya yang sedikit terangkat jika ibu tengah bersuka cita kini.
"Ayo kita berangkat!" ucapku dengan berseru dan menjalankan motor ini pergi dari rumah setelah ibu naik dengan nyaman di belakangku.
"Itu Vita aman pake kursi gituan?" tanya ibu dari belakangku saat kami sudah melaju di jalanan.
Aku tersenyum senang, sepertinya ibu sudah mulai perhatian dengan Vita. "Aman," jawabku.
__ADS_1
Kami melajukan di jalanan yang ramai di hari minggu.
Sebelum sampai di tempatĀ yang dituju aku membawa ibu seperti janjiku, membawanya ke toko kosmetik dan membebaskannya memilih make up yang ibu mau. Untuk hari ini biarkan ibu bersenang-senang dengan apa yang dia inginkan, katanya mau baju dan kerudung juga setelah ini. Oke, tak apa. Sesekali membuatnya bahagia.
Aku duduk di kursi bersama Vita menunggu ibu yang sedang memilih bedak dan alat make up lainnya. Ibu terlihat masih menunjuk-nunjuk apa yang dia inginkan, juga bertanya mana yang bagus untuk kulitnya yang berminyak.
"Sekalian saja, Mbak. Bisa minta tolong di dandani, biar sekalian belajar pake make up lebih baik lagi, gitu?" pintaku pada petugas di toko tersebut.
"Oh, boleh banget," ucap pegawai toko itu dengan senyuman ramah di bibirnya.
"Sudah semua itu, apa belum, Bu?" tanyaku pada ibu.
"Sebentar," jawabnya. "Mbak ini sudah, lengkap belum, ya?" tanya ibu pada wanita muda itu.
"Sudah cukup kalau cuma buat make up sederhana. Buat kondangan asal bisa pake nya dengan serasi juag bagus banget ini," ucap wanita itu lagi.
"Oh, kalau begitu sudah saja lah, tapi ini gak akan bikin kulit saya iritasi, kan ya?" tanyanya lagi.
"Gak akan, Bu. Ini produk yang bagus buat tipe kulit kayak Ibu," ucapnya lagi, lalu semua make up yang ibu beli barusan dihitung berapa harganya. Setelah itu, ibu diminta untuk duduk dan salah satu penjaga toko tersebut mulai merias wajah ibu.
Aku menunggu dengan sabar, sudah hampir satu jam sebenarnya kami di sini, dari mulai memilih dan sekarang ibu sedang dirias wajahnya.
Vita sudah mulai bosan sepertinya, karena dia tidak bisa diam sedari tadi, terpaksa aku memberikan hp kepada Vita dan segera ank itu nyalakan. Tanpa harus diajari lagi, dia sudah menonton video kartun yang dia suka.
"Sudah, Man. Gimana?" tanya ibu kini sudah ada di dekatku, aku terpana melihatnya. Sungguh sangat cantik sekali, wajahnya sama dengan foto saat aku kecil dulu.
"Cantik ibunya, Mas. Kayak usia tiga puluhan ya sekarang," ucap pegawai yang tadi merias wajah ibu.
"Ah, masa sih?" ujar ibu dengan malu.
Aku mengangguk senang, tidak bisa berbicara karena terlalu terpana. Apalagi ibu lebih banyak tersenyum hari ini.
__ADS_1
"Bu mau beli baju juga? Biar sekalian ganti bajunya, jangan yang itu," ucapku pada akhirnya. Ibu mengangguk setuju, dan kami lanjut pergi menuju toko baju khusu untuk wanita.
Ibu tersenyum senang dengan apa yang aku berikan hari ini, pakaian untuknya ibu membeli dua, juga untukku dan Vita.