Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
214. Shopping Day!


__ADS_3

"Astaghfirullahaladzim, kamu pikir bibir aku ini permen yupi? Kamu mau permen itu biar aku belikan daripada kamu gigit-gigit bibirku segala!" ucap laki-laki ini kepadaku.


"Aku nggak mau permen, tapi lihat bibir kamu kok bikin gemes gitu," ucapku dengan tersenyum meringis.


Arga menggelengkan kepalanya, kini menjauh dariku dengan wajah yang terlihat ketakutan.


"Eh kamu mau ke mana?" tanyaku saat melihat dia beranjak dari atas tempat tidur.


"Cari permen buat kamu!"


"Tapi aku nggak suka permen!"


"Nggak apa-apa, ya kali aja kalau kamu pengen gigit-gigit, ya gigit aja itu permen!" ucap Arga lagi kini terdengar kesal, dia kemudian pergi dari kamar ini.


Aku terdiam dengan rasa bersalah, memang salahku kenapa juga malah menggigitnya seperti itu. Bukankah kalau aku menciumnya malah akan terjadi hal yang menyenangkan?


"Kenapa aku malah menggigitnya, ya?" Gumamku pada diri sendiri. Semoga saja setelah ini dia tidak benar-benar marah padaku. Bisa gawat kalau dia marah. Aku nanti malam akan tidur dengan siapa? Dia pasti tidak ingin memeluk lagi.


Aku jadi galau memikirkan hal itu. Sekarang tidur tanpa pelukannya terasa sangat hampa.


Gegas aku keluar dari dalam kamar dan mengejar suamiku.


"Arga tunggu!" Aku berteriak menyusul langkah kakinya yang sudah hampir sampai di pintu. Dia berhenti dan mengerutkan keningnya saat melihat aku keluar dari dalam kamar.


"Aku ikut!" ucapku dengan menahan satu tangannya dan menggoyang-goyangkannya seperti saat Gara memohon kepada ayahnya.


"Ikut ke mana?" Dia bertanya kepadaku satu tangannya dia masukkan ke dalam saku celana.


"Ke minimarket. Mau jajan!" ucapku dengan nada yang manja. Arga sampai mengerutkan keningnya lagi. Dia juga menempelkan punggung tangannya pada keningku.


"Apa kamu sedang demam?" tanya dia kepadaku.


"Enggak kok!" ucapku kesal sambil menepis tangannya dari kening.


"Aku nggak demam cuma pengen ikut kamu aja." Aku tersenyum kepadanya dan menggandeng dia keluar dari rumah sebelum dia mengizinkanku untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


"Sebentar lah aku ambil mobil dulu." Kami berjalan ke arah mobil yang ada di garasi. Dengan kecepatan yang pelan Arga membawa mobilnya keluar dari halaman rumah untuk menuju ke minimarket terdekat.


Ternyata Arga tidak membawaku ke minimarket, tapi ke supermarket. Sepertinya pakaianku hari ini tidaklah cocok dengan tema kali ini. Aku memakai pakaian santai biasa.


"Tahu kalau pergi ke supermarket aku pasti akan ganti baju," ucapku dengan kesal menatapnya.


Dia melirikku dan tersenyum dengan sangat lebar.


"Lho memangnya siapa yang mau ke minimarket? Aku kan tadi nggak bilang mau ke mana," ucapnya sambil tersenyum.


"Ayo kita turun."


"Tapi aku malu lihat bajuku seperti ini," ucapkan dengan memperlihatkan pakaian yang aku kenakan kepada Arga. Arga menghembuskan nafasnya, dia terdiam sebentar.


"Sekalian cari baju deh, ayo!" Ajak laki-laki itu kepadaku.


Aku tersenyum dan turun dari mobil. Bergandengan masuk ke dalam mall tersebut dengan kami yang hanya berdua menjadikan kami seperti sedang melakukan ngedate.


Arga memperbolehkanku memilih apa saja yang aku mau, tapi jujur saja aku masih bingung untuk menggunakan uang milik Arga, masih merasa ragu untuk memakainya, sehingga terkadang aku hanya memilihnya tanpa membelinya.


Aku menunduk dan menganggukkan kepalaku.


"Terus kenapa nggak dibeli?" Dia bertanya lagi dengan bingung.


"Harganya mahal banget," ucapku kemudian menarik Arga keluar dari area tersebut. Arga terkekeh pelan. Dia menarikku kembali masuk ke dalam toko pakaian tersebut. Tepat ke depan pakaian yang tadi aku sentuh.


"Kamu suka ini, kan?" Dia menunjuk pada pakaian yang terdapat pada sebuah manekin. Pakaian syar'i tersebut terlihat sangat indah sekali, tapi sayang harganya membuat kantong menipis dengan pesat.


"Tapi itu mahal nggak jadi deh," ucapku lalu menarik tangan Arga untuk keluar dari tokoh tersebut.


"Mbak!" Panggil Arga kepada salah satu pelayan toko yang ada di sana.


Gadis muda itu mendekat ke arah kami dan bertanya, "Ada yang bisa kami bantu?" Dia bertanya dengan ramah sambil tersenyum.


"Tolong bungkuskan satu pakaian ini," ucap Arga lalu menyodorkan satu buah kartu yang ada di dalam dompetnya.

__ADS_1


"Arga tidak usah, itu mahal sekali." Aku mencoba membatalkan transaksi tersebut. Bayangkan saja satu lembar baju seperti itu harganya bisa mencapai lebih dari dua juta. Bukankah itu namanya berlebihan?


"Mahal bagaimana? Ingat suami kamu ini siapa yu? Aku pemilik perusahaan, masa membelikan pakaian untuk istriku saja kamu masih pilih-pilih sama harga?" ucap Arga jangan sangat enteng nya. Pelayan tersebut masih terdiam di tempatnya merasa bingung dengan perdebatan kami.


"Iya aku tahu kamu siapa. Tapi dengan kamu membeli barang seperti itu rasanya sayang juga lah. Itu mahal, Ga." Aku tetap bersikukuh dengan pendirianku.


Arga tertawa kecil dan mengelus kepalaku dengan lembut.


"Denger, deh. Aku cari uang itu untuk keluargaku, untuk istri dan juga anakku. Mereka mau beli apa terserah, sedari dulu aku tidak pernah membatasi kamu ingin apa. Kita ada rezeki, kalau kamu ingin beli saja, Aku percaya jika aku membahagiakan istriku maka rezekiku akan berkali-kali lipat banyaknya," ucapnya sambil menatap kedua mataku.


Aku tersenyum malu tapi juga terharu karena ucapannya itu. Memang benar, ada ulama yang mengatakan jika seorang suami membahagiakan istri maka pintu rezekinya terbuka lebar.


"Jadi mau beli baju itu?" tanya Arga kepadaku. Aku mengangguk saja. Rasanya bersalah juga aku tidak pernah menuruti keinginannya selama ini. Dia selalu bertanya saat akhir bulan, kenapa aku selalu memakai uang yang ada di kartuku hanya sedikit. Padahal dia mengisi kartu tersebut dengan jumlah yang lumayan banyak.


Akhirnya kami membeli pakaian tersebut dan langsung aku pakai saat itu juga, karena sebelumnya aku sempat menjadi tontonan orang-orang karena yang aku pakai adalah pakaian santai di rumah. Akan tetapi, setelah aku mencobanya di ruang ganti, rasanya berlebihan juga jika aku memakainya di sini.


Aku keluar dari ruang ganti dengan memakai baju yang semula, mendekat pada Arga sehingga dia merasa bingung kenapa aku tidak memakai pakaian tersebut.


"Aku mau beli baju yang biasa saja deh," ucapku kepadanya.


"Kenapa?" Dia bertanya dengan nada yang bingung.


"Rasanya kalau dipakai di sini, ini terlalu berlebihan," ucapku merasa bersalah. Aku memberikan pakaian ini kepada Arga.


"Kamu kembalikan saja deh pakaian ini. Rasanya aku gak pantas pakainya," ucapku kepadanya. Aku seperti anak ABG labil yang tidak bisa konsisten dengan apa yang aku pikirkan tadi.


Arga tersenyum dan berdiri dari tempatnya duduk. "Tidak usah dikembalikan, sebentar lagi aku akan ada acara di kantor. Kamu bisa pakai itu untuk ke sana, nggak ada alasan lagi menyebut diri kamu nggak pantas pakai itu."


Aku tersenyum dan mengangguk setuju, jika untuk dipakai di acara formal tentu saja pakaian ini sangat bagus, tapi jika dipakai hanya untuk berjalan-jalan di mall ini rasanya berlebihan sekali.


Kami melanjutkan perjalanan kembali berkeliling ke tempat lain. Selain pakaian aku juga memberi barang-barang lain kebutuhan Gara. Lebih banyak tas dengan barang belanjaan untuk Gara dan Arga daripada untukku sendiri. Arga membawa empat tas karton sedangkan aku hanya membawa dua. Laki-laki itu tidak merasa keberatan membawakan barang belanjaanku, lagi pula itu juga tidak berat kok.


"Tadi bilangnya kamu mau jajan, kan?" tanya Arga kepadaku.


"Gak jadi deh. Ini aja jajannya udah banyak banget," ucapku sambil tersenyum malu kepada Arga.

__ADS_1


"Nggak masalah kok. Lagi pula kamu beli kenapa bukan buat kamu sendiri malah untuk kami." Aku hanya menggelengkan kepala untuk menjawabnya. Entahlah rasanya aku tidak tahu bagaimana, aku lebih senang membeli barang-barang untuk suami dan putraku daripada untukku sendiri.


__ADS_2