Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
302. Ibu Lelah


__ADS_3

"Ma, bangun." Suara Arga terdengar, juga bahuku diguncangkan olehnya dengan pelan. Aku baru sadar jika ternyata telah tertidur tadi. Ku tolehkan kepala ternyata mobil sedang berhenti. Ibu terlihat berada di luar di depan sebuah gerobak kecil dengan menggendong Azka.


"Mau martabak nggak? Ini," ucapnya sambil memberikan bungkusan kresek kecil kepadaku.


"Eh, ada ya?" tanya ku sambil tersenyum senang. Aku menerima bungkusan plastik tersebut dan benar saja saat melihat di dalamnya ada martabak yang aku inginkan, hanya saja ukurannya sangat kecil. baru sadar jika kami sekarang ini berada di sebuah tempat. Aku melihat tempat itu dan membaca plang yang ada di depannya, sebuah madrasah tempat mengaji, pantas saja martabak ini memiliki ukuran yang kecil.


"Ada barusan lihat jadi berhenti dulu. ayo dimakan mumpung masih panas. Ibu dan yang lain juga beli jajanan di luar. Kamu mau makanan yang lain juga nggak?" tanya Arga lagi. Aku melihat keluar mobil, beberapa penjual dengan roda kecil berada di sana, ada juga yang memakai motor. Pandanganku tertuju pada sebuah gerobak dengan tulisan es goyang, beberapa anak sedang mengelilingi penjual tersebut. Terlihat laki-laki setengah tua sedang mengangkat rodanya dan menggoyang-goyangkannya naik turun.


"Mau itu boleh nggak?" tunjukku pada gerobak tersebut. Aku ingat dulu saat waktu kecil sering jajan es tersebut.


Arga mengikuti arah pandangku. "Boleh tapi jangan banyak-banyak ya. Aku nggak tahu itu bersih apa nggak," ucapnya. Aku mengangguk sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepadanya.


Arga keluar dari dalam mobil menuju ke penjual es goyang tersebut, tidak tahu nama aslinya apa, tapi ditulis es goyang karena memang cara pembuatannya memasukkan bahan ke dalam cetakan dan kemudian digoyang-goyangkan sehingga menjadi beku, biasanya dicelupkan ke dalam susu coklat cair yang kemudian juga akan ikut membeku setelah itu.


Aku memakan martabak yang masih panas, rasanya sungguh enak di mulut meski memang sangat terasa sekali perbedaan antara martabak yang besar yang biasa kami beli dengan makanan yang ini. Akan tetapi, rasanya cukup terpuaskan karena inilah yang aku mau.


Dua buah martabak sudah ku makan, masih menunggu Arga yang kini mengantri bersama dengan beberapa anak sekolah di sana. Rasanya lucu juga, tapi aku juga merasa kasihan kepada dia selalu saja di repotkan dengan keinginanku yang terkadang tidak masuk akal.


Perut yang sudah mulai buncit aku elus perlahan, sebuah gerakan halus terasa di sana. "Dek, jangan minta-minta yang aneh. Kasihan papa," ucapku seakan si janin yang ada di dalam perutku itu akan mengerti. Seringkali aku mengajaknya berbicara berharap jika keadaan kami akan membaik dan tidak membuat orang lain repot mengurus, tapi apalah daya jika hal itu memang masih belum bisa terjadi.


Pintu mobil terbuka terlihat ibu masuk ke dalam bersama dengan Azka, Ibu menikmati rujak buah yang ada di tangannya. "Mau nggak?" tanya ibu menawarkan padaku.


Aku tidak suka rasa yang asam, tapi melihat ibu memakan rujak itu dengan lahap membuatku tergiur juga. Satu potong buah mangga muda kini ada di dalam mulutku. Rasanya lumayan asam dan pedas, tidak buruk juga ternyata. Azka mengulurkan tangannya hendak meraih bungkusan plastik rujak yang ada di tangan ibu. Akan tetapi, tangan yang mungil itu tidak bisa meraihnya karena Ibu menjauhkan makanan tersebut dari Azka.

__ADS_1


Tak lama Arga kembali ke mobil dan memberikan es itu kepadaku. Dengan senang hati aku menerima apa yang dia berikan dan menikmatinya.


"Ibu mau juga?" tanya Arga pada ibu.


"Gak mau ah, gigi Ibu ngilu kalau makan es. Kamu belikan Gara juga, jangan cuma mamanya aja yang dibeliin," ucap ibu pada Arga.


"Iya, Bu. Ini sudah beli buat Gara kok."


Ibu memang seperti itu, meski Gara bukan cucu kandungnya tapi perasaan sayangnya sama Gara tidak bisa diragukan lagi. Aku kerap kali dimarahi ibu jika ajaran yang aku berikan pada Gara salah menurutnya.


"Saya kasih ini buat Gara dulu, Ibu kalau masih ada yang mau dibeli, beli aja buat dibekal nanti," ucapnya lalu pergi ke luar dan menuju ke arah belakang.


Setelah semua selesai dengan makanan yang dibeli, kami melanjutkan perjalanan kembali. Rasanya sudah nyaman, perut juga sudah terisi, aku tidak mual lagi karena sedang mengemil telur gulung yang tadi Arga belikan. Jajanan anak kecil, tapi nyatanya aku suka. Beruntung sekali kami menemukan madrasah tersebut.


"Kamu ini, Yu. Kalau nyusuin itu yang bener, tuh lihat Azka udah lepas malah kelihatan kemana-mana," ucap ibu sambil menutupi dadaku yang terbuka dengan kerudung.


Aku tersenyum malu. "Ngantuk, Bu. Gak kuat," ucapku.


"Iya, tapi untung aja ini di mobil sendiri, coba kalau di tempat umum, malu kalau sampai kamu seperti ini," peringat ibu.


"Ya kalau di tempat umum gak akan lah, Bu. Masa iya Ayu mau kayak gini." Baju aku kancingkan dengan sebelah tangan.


"Sini, biar ibu yang pangku Azka, Ibu pindah ke depan biar kamu bisa berbaring lagi sama papanya anak-anak," ucap ibu.

__ADS_1


"Gak usah, lah, Bu. Begini aja. Lagian Ibu malah kurang tidur, dari tadi jagain Azka, kurang istirahat," ucapku tak enak hati.


"Gak apa-apa, Ibu gak masalah kok.


Aku tetap memangku Azka, tidak memberikannya pada ibu dan menyuruhnya untuk beristirahat sebentar.


"Sudah, Azka sama aku saja. Sini. Biar kalian istirahat," ucap Arga tiba-tiba dari kursi depan.


"Sudah gak perlu, nanti Azka bangun."


"Gak akan, dia tidur aja lelap gitu. Biar kalian bisa istirahat sebentar sebelum aku gantian nanti mengemudi," ucap Arga. Aku setuju jika begini. Lebih baik juga, aku sudah tidak tahan dengan kantukku padahal tadi sudah tidur sebentar.


Akhirnya Azka aku berikan pada Arga dengan sangat hati-hati, sehingga tidak membuatnya bangun.


"Ibu juga gak bisa tidur kok, Ga," tandas ibu.


"Gak apa-apa, Bu. Dari tadi jagain Azka pasti juga ibu dan Ayu capek. Biar nanti kalau Azka bangun baru saya bangunkan ibu atau Ayu," ujar Arga.


Aku menyandarkan diri, memundurkan sandaran kursi sehingga kini terasa nyaman. Ibu pun sama, kini menyandarkan dirinya dengan nyaman sehingga tak sampai sepuluh menit terdengar hembusan napas ibu yang halus.


"Yang gak mau tidur, tapi baru bentar udah pules," celetukku sambil tersenyum geli menatap ibu.


"Hus! Gak sopan! Ibu capek juga, lah. Sudah daripada kamu bicara gitu mendingan kamu juga tidur!" titahnya padaku.

__ADS_1


__ADS_2