Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
188. Gara Menjadi Pemersatu Bangsa.


__ADS_3

Aku sangat senang sekali dengan penyambutan yang mereka berikan padaku, tidak menyangka sebelumnya jika mereka akan meluangkan waktu untuk bisa menyambut kepulangan kami berdua kembali dari hotel, di sela kegiatan mereka yang sangat sibuk sekali.


"Selamat datang di rumah ini, Yu." Bibi Arga, adik Papa mendekat seraya membawa satu kalung untaian bunga untukku, juga Papa yang mendekat pada Arga dan melakukan hal yang sama, mengalungkannya pada leher kami berdua. Rasanya sangat menyenangkan di saat semua orang yang ada di sini menerima kehadiranku. Tidak perlu sudah payah untuk berusaha agar di terima di keluarga ini.


"Terima kasih, Bibi. Kenapa repot sekali bikin acara seperti ini?" tanyaku, seperti berbasa basi.


"Ah, tidak repot juga. Kami melakukan ini karena kami yang ingin menyambut kamu yang hadir di antara kami," ucap Bibi dengan senyuman. Yang lain juga datang menyalamiku, ada beberapa orang yang baru aku lihat, entah siapa. Kami berbincang di kursi sofa yang ada di ruangan ini sebagai keluarga besar. Hangat sekali perlakuan mereka, sangat ramah.


Arga sedari tadi melirik ke arahku sambil tersenyum kecil, terlihat sedikit merah di wajahnya.


Sesekali kami menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh yang lain. Lebih banyak kepada membicarakan hal yang pribadi. Ya, biasalah, membuat aku dan Arga menjadi malu karena pembahasan mereka adalah pembahasan dewasa.


"Kalian sudah berapa banyak nih? Pasti sudah sangat banyak ya sampai Kakak Ipar kelihatan lelah," tanya seorang laki-laki muda yang duduk di atas karpet di lantai sambil tertawa keras. Di sofa di belakang mereka untuk orang yang sudah berumur, anak muda mengalah duduk lesehan di depan. Menatap kami seperti anak kecil sedang menunggu dongeng. Beberapa orang yang lain tertawa mendengar pemuda tersebut.


"Hei, jaga bicara kamu. Lihat ada anak kecil di sini!" peringat Arga pada adik sepupunya itu. Laki-laki itu menutup mulutnya dan melirik pada Gara yang ada di pangkuanku, sedang anteng memainkan ponsel milik Arga.


"Eh, maaf." Dia tertawa malu, karena tidak hanya mendapat kecaman dari Arga tapi juga mendapat tatapan tajam dari yang lainnya.


Kami berbincang yang lain, kebanyakan mereka yang seru dengan perbincangan mereka sehingga kami hanya menjawab pertanyaan sesekali saja.


Arga terlihat bosan pada wajahnya. Sesekali tangannya yang ada di belakang tubuhku mencubit pinggang sehingga aku menjadi tegang karena terkejut. Untung saja aku tidak sampai berteriak. Akan sangat malu jika tanpa sebab yang mereka ketahui aku berteriak seperti itu. Beruntung juga tidak ada yang memperhatikan karena mereka sedang sibuk oleh pembicaraan dengan anggota keluarga yang lainnya.


"Aku bosan," ucap Arga berbisik ke padaku.


"Sabar," bisikku tak kalah pelannya. Sepertinya tidak akan nyaman jika pamit di saat mereka sedang berbicara sangat ramai seperti ini.


Arga mencolek tangan Gara, membuat anak itu mengalihkan tatapannya dari ponsel yang dia pegang.


"Gara, mau tidur siang gak sama Mama?" tanya Arga tetap dengan berbisik pada putranya.


Gara mengangguk pelan. Dia turun dari pangkuanku dan menarik lenganku.


"Tidurrll sama Mama Ayu!" serunya membuat beberapa orang yang sedang berbicara menghentikan pembicaraan.


"Eh, Gara tidur sama Mbak aja ya," ucap Bibi.


"Gak mau! Mau sama Mama! Kan sekarrllang Garrlla dah punya mama, jadi Garrlla mau tidurrll siang sama Mama Ayu!" teriaknya dengan bersemangat.

__ADS_1


"Tapi nenek belum selesai bicara sama Mama baru Gara."


"Dak mau! Nenek bicarrlla sama yang lain saja!" ucap anak itu lagi. Entah apakah aku harus merasa lega atau bagaimana, tidak enak juga saat menatap Bibi.


"Ya sudah lah, San. Biarkan Gara menikmati waktunya dengan ibu barunya." Papa angkat bicara.


"Ya sudah deh, sana kalian tidur dulu. nanti sudah Gara tidur kamu balik ke sini lagi ya, Yu," ucap Bibi.


Aku mengangguk lalu berdiri dan berpamitan kepada senua orang yang ada di sana, berjalan mengikuti Gara. Sedikit melirik ke arah Arga, dia yang ingin menyingkir dari sini malah kembali di tarik saat akan bangkit. Alhasil, dia tidak berhasil keluar dari lingkaran keluarga besar itu.


"Mama, ayo tidur. Aku ngantuk!" ucap Gara dengan seruan. Dia menarikku dengan tenaganya yang besar.


"Iya, ayo." Aku dan Gara menaiki tangga. Sedikit bingung karena kamar anak ini tidak sama dengan kamar sebelumnya.


"Gara mau kemana?" tanyaku padanya.


"Kamar!"


"Kamar Gara di atas sekarang?" tanyaku bingung.


Gara tidak menjawab, sambil menarik terus tanganku dia menganggukkan kepalanya.


Aku berpikir sambil mengikuti langkah kaki Gara naik satu persatu tangga yang ada di sana. Sekali aku lihat Arga yang masih duduk di antara keluarganya. Dia terlihat masam sekali saat kami bertemu pandang, terlihat jika dia tidak terlalu suka di sana. Mungkin. Aku hanya menebak, dari nada bicaranya tadi dan juga tidak ada senyum yang ada di wajahnya.


"Gara, tidak mau tidur sama Papa juga?" tanyaku pada Gara, mencoba untuk memancing anak itu, siapa tahu saja dia memanggil Arga agar laki-laki itu keluar dari tempatnya.


Gara tidak menggubris, dia masih melanjutkan langkah kakinya sampai ke undakan tangga teratas.


Aku bingung juga, bagaimana membantu Arga, meski rasanya tidak baik karena mempunyai pemikiran yang seperti ini, tapi ... aku kepikiran juga dengan perasaan suamiku.


Ah, mungkin aku salah juga sih. Tidak mudah untuk mereka berkumpul di dalam satu tempat yang sama. Tidak seharusnya juga aku membujuk anak ini untuk memanggil ayahnya.


"Papa! Bacakan aku dongeng!" teriak Gara yang tiba-tiba berhenti tanpa aku sadari. Anak itu sudah berteriak dengan keras sehingga semua yang ada di bawah sana menoleh kepada kami. Aku terkejut karena itu, tidak menyangka jika Gara akan memanggil ayahnya. Mereka menatap kami dengan tatapan yang entahlah.


Salahku! Kenapa tadi aku bilang seperti itu pada Gara. harusnya aku tadi iarkan saja Arga untuk tetap berada di bawah. bukankah itu artinya aku sedang tidak sopan dengan menyuruh Gara memanggil ayahnya?


"Iya! Papa akan naik sebentar lagi. Pergi ke kamar terlebih dahulu!" teriak Arga dari bawah sana.

__ADS_1


"Ayo, Mama! Kita ke kamar. Aku sudah panggil Papa untuk naik. Sekarang Papa bisa istirahat dengan kita," ucap anak itu. Aku membeku mendengar ucapannya. Eh, apa dia mengerti dengan apa yang kami rasakan sekarang ini?


Aku dan Gara masuk ke dalam kamar, terlihat seketika suasana kamar seorang anak laki-laki di sini, dengan ranjang bergambarkan mobil balap dan juga beberapa mainan yang ada di sana.


Gara berlari dan melompat naik ke atas kasurnya. Dia segera menarik selimut yang ada di kakinya. Dia menatapku, menungguku duduk di sampingnya.


"Bacakan cerrllita." pintanya. Aku teringat buku bacaan anak-anak yang ada di tas.


"Eh, Gara. Mama sudah beli buku cerita sebenarnya, tapi buku itu ada di tas Papa," ucapku padanya. Dia refleks bangun dari berbaringnya dan menatapku dengan sorot mata yang berbinar. Senyum lebar terlihat di wajahnya.


"Beneran?" tanya Gara.


"Iya." Aku mengangguk.


"Asyiiikk!" teriak Gara, dia kembali bangkit dan melompat kembali di atas kasur dengan semangat dan juga bahagia.


"Gara! Jangan melompat di atas kasur, nanti kamu bisa jatuh." Suara berat terdengar memasuki ruangan ini. Arga baru saja masuk ke dalam kamar dengan membawa tas karton yang berasal dari toko buku tadi.


Bukannya berhenti, anak itu malah melompat turun dari kasur dan menuju ke arah Arga. Aku terkejut karena tingkah Gara yang bisa saja membahayakan dirinya. Bagaimana jika dia terjatuh?


"Gara!" Peringatku setengah berteriak.


"Hehe. Maaf." Gara tersenyum meringis kepadaku, lalu kembali menatap ayahnya.


"Apakah Papa bawakan hadiahnya?" tanya Gara lagi sambil menengadahkan telapak tangannya. Senyum menghias di wajah anak itu dengan lebar, dia menunggu hadiah itu berpindah tangan dari sang papa.


"Ucapkan terima kasih kepada Mama. Mama yang beli buku cerita ini," ucap Arga pada putranya.


Gara memeluk buku bacaan di depan dada dan membawanya ke dekat ku kembali.


"Terima kasih, Mama!" seru Gara sambil tersenyum senang.


"Papa yang akan bacakan, pilih satu!" pinta Arga, dia membuka sepatunya dan kaos kaki lalu naik ke sisi kasur yang lain.


Gara menyimpan semua buku barunya di atas kasur, sepertinya bingung memilih buku cerita yang ingin dia dengarkan.


"Ini!" Gara mengambil satu dan menyerahkannya pada Arga. Arga menepuk sisi kasur dan memanggil Gara untuk kembali merebahkan diri. Dengan patuh Gara naik kembali ke atas kasur dan tidur di samping Gara.

__ADS_1


"Mama, ayo kita menidurkan anak kita!" ucap Arga dengan suara beratnya seraya menarik turunkan alis beberapa kali.


__ADS_2