Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
55. Gunakan Kesempatan, Atau Aku Akan Kembali!


__ADS_3

Setelah pertemuan dengan Arga hari ini, aku segera memutuskan untuk pergi kembali ke rumah ... rumah kami, rumah aku dengan Mas Hilman. Aku memutuskan untuk meminta buku nikah itu kepadanya, pikirku agar segera cepat menguruskan persyaratan ceraiku dengan Mas Hilman. Jika dia tidak memberikan buku nikah itu, maka aku akan melakukan apa yang Arga katakan tadi untuk mengurusnya sendiri ke kantor kepolisian dan juga ke KUA.


Banyak hal yang aku pikirkan sekarang, mengenai langkah apa yang akan aku lakukan setelah ini. Aku harus mulai mencari kerja setelah menguruskan perceraian ku dengan Mas Hilman. Semoga saja nanti, setelah aku selesai mengurus perceraian dengannya, aku bisa mendapatkan pekerjaan.


Halaman rumah terlihat sangat sepi. Mobil Mas Hilman tidak ada di rumah itu, pertanda jika Mas Hilman tidak ada di dalam sana. Aku terdiam sejenak di depan pagar, lalu kuputuskan untuk masuk ke dalam sana.


Pintu rumah aku ketuk perlahan, tak ada yang menyahut. Lalu aku mencoba untuk membuka pintu, kebetulan sekali tidak dikunci. Aku masuk ke dalam sana dan langsung menuju kamarku.


"Mbak Ayu, ngapain Mbak disini?" tanya Hana yang terkejut saat baru saja keluar dari kamarnya, aku menatap malas pada Hana yang kini masih memakai baju tidurnya yang seksi, belahan dadanya yang penuh terlihat dengan jelas, memperlihatkan warna ruam merah disana. Dia tersenyum seraya menyibakkan rambutnya ke belakang, seakan ingin memperlihatkan beberapa tanda merah yang lain yang ada di lehernya.


Hah, apa maksud dia pamer seperti itu?


"Bukan apa-apa. Hanya mengambil barangku yang ketinggalan saja," ucapku lalu mulai masuk ke dalam kamar. Aku tidak berbohong ataupun beralasan, memang aku juga ingin sekalian mengambil beberapa baju yang belum sempat aku bawa pulang.

__ADS_1


Pintu dengan lebar dia buka, terlihat wanita itu kini bersandar di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Aku abaikan saja wanita hamil itu, seraya menggelengkan kepala melihat dia yang seperti itu. Dia, tengah hari seperti ini, masih memakai baju tidur seksi. Bagaimana jika ada seseorang atau ada tamu yang datang kesini dan dia masih memakai pakaian seperti itu? Bukankah akan sangat berbahaya? Apalagi jika tamu yang datang adalah laki-laki.


"Hah, aku kira Mbak datang ke sini untuk memohon sama Mas Hilman untuk kembali ke rumah ini," ujar Hana dari sana.


Aku tidak menggubris ucapannya sama sekali, hanya terus menggerakkan tanganku mengeluarkan satu persatu baju yang akan aku bawa. Sisa baju yang tidak aku bawa terserah mau di kemanakan.


"Heh, kamu masih bisa mendengar aku kan? Atau jangan-jangan telinga kamu sudah tidak berfungsi gara-gara terlalu banyak menangisi keadaan? Wanita mandul seperti kamu masih ingin bersama dengan Mas Hilman? Mimpi saja kamu!" ucap dia dengan kalimat yang jahat. Aku menghentikan laju tanganku dan menatapnya dengan tajam.


"Lanjutkan ucapan kamu, kalau mau aku menamparmu sekali lagi. Bahkan aku tidak akan segan untuk merobek mulut kamu, kalau kamu tidak bisa menjaga ucapan kamu, Hana!" seruku dengan marah. Selama dokter masih belum menyematkan kata mandul pada diriku, aku tidak akan menerima kata-kata itu dari mulut siapapun!


Aku memutar bola mata malas, tak ingin meladeni dia dengan ucapannya yang memang benar adanya.


"Terserah kamu. Aku datang kesini bukan untuk kembali pada Mas Hilman, tapi aku ingin membawa barang-barang milikku," ucapku seraya berdiri dan membuka laci dengan menggunakan kunci yang dulu sempat aku bawa dan aku simpan di dalam dompet. Dari dalam sana kuambil beberapa kertas yang ada di dalamnya. Aku tersenyum, karena ternyata dia tidak membongkar laci ini.

__ADS_1


"Aku kesini hanya untuk meminta pada Mas Hilman untuk kembalikan buku nikah milikku. Aku akan mundur dari hubungan ini. Aku akan biarkan kamu memiliki suamiku seorang diri. Tapi ... aku rasa Mas Hilman tidak akan memberikan buku nikah itu. Tahu kan bagimana dia mempertahankan aku?" tanyaku seraya melirik ke arahnya, seketika wajahnya berubah sebal.


Kumasukkan kertas-kertas itu ke dalam tas besarku yang lain bersama dengan baju-baju. Koper masih entah di mana. Aku tidak melihatnya ada di kamar ini.


"Kalau kamu ingin urusanku dengan Mas Hilman cepat selesai. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan," ucapku kepadanya seraya menaikkan resleting.


Hana hanya terdiam di tempatnya mendengarku bicara seperti itu. Aku harap dia tahu dan peka dengan apa yang aku bicarakan barusan.


Aku telah selesai dengan urusanku. Segera aku mengangkat tas itu dan berjalan mendekat ke arahnya.


"Aku gak akan pernah halangi hubungan kalian, karena seperti yang kamu bilang tadi. Aku sudah bukan prioritas dia lagi," ucapku kepadanya.


"Aku tau kamu gak sepolos dan sebodoh itu untuk tidak mengerti apa yag aku bicarakan tadi. So, gunakan kesempatan yang aku berikan untuk kamu, daripada posisi kamu terancam dan kamu akan kehilangan segalanya." Ancamku.

__ADS_1


Aku melanjutkan langkah kakiku melewatinya, tak peduli dengan tatapannya yang tajam ke arahku.


Dalam hati aku tersenyum senang. Mungkin memang lebih baik mendoktrin dia daripada aku harus memohon pada Mas Hilman untuk menyerahkan buku nikah itu, yang pada akhirnya kami akan lanjut dengan pertengkaran yang tidak berujung.


__ADS_2