Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
78. Dokter Yang Gigih


__ADS_3

"Izinkan saya untuk bisa dekat dengan Mbak Ayu."


"Maaf kalau saya telah lancang, tapi jujur saya tidak bisa melupakan Mbak Ayu sedari dulu. Bahkan saya telah lancang memimpikan Mbak Ayu yang masih bahagia bersama dengan suami. Saya minta maaf, Mbak Ayu. Saya sangat minta maaf sekali karena sudah lancang seperti itu," ucapnya dengan nada yang bergetar. Dia tidak berani menatapku, hanya menunduk dan duduk dengan gelisah.


Aku mengalihkan tatapanku darinya. Kini lebih memilih untuk menatap lantai yang ada di bawah kakiku. Sepertinya tatapan mataku semakin tajam hingga terfokus pada sekumpulan semut yang ada di sana.


Hening membelenggu di antara kami. Suara roda kembali terdengar di luaran sana bersama dengan suara derap langkah kaki yang terdengar semakin menjauh.


Semakin kuat apa yang Ibu katakan waktu itu, jika Dokter Wira ternyata suka denganku. Dan sekarang ini adalah nyata yang aku dengar dari mulutnya secara gamblang.


Aku menghela napas dengan pelan. Membuang napas yang terasa sedikit tak enak di tenggorokan.


"Apa karena itu Doker membantu saya mencari pengacara?" tanyaku pada Dokter Wira. Pikiran buruk seketika menyapaku tentang kebaikan yang di berikan pria ini. Bukankah ada udang di balik batu?


"Iya. Kalau Mbak Ayu menganggap saya mengambil kesempatan ini untuk supaya bisa dekat dengan Mbak Ayu, mungkin itu memang benar. Perhatian dan juga bantuan yang saya berikan itu memang bisa dikatakan semata-mata karena saya ingin lebih dekat dengan Mbak Ayu tanpa ada yang mengganggu. Tapi di balik itu saya juga tidak mau melihat Mbak Ayu terus-terusan bersedih dengan keadaan. Mbak Ayu berhak bahagia. Meski ... misalkan tidak dengan saya sekalipun,"' ucapnya dengan nada yang lirih di akhir kalimat.


Aku terdiam mendengar ucapannya. Dia baik karena ada maunya. Sedikit kecewa, tapi ya mau bagaimana lagi? Memang perasaan tidak bisa dipaksakan.


"Dokter tau kan kalau saya belum resmi bercerai?"

__ADS_1


"Iya, saya tau. Dan saya minta maaf untuk itu. Saya hanya ingin Mbak Ayu mempertimbangkan apa yang tadi saya sampaikan."


Lagi, aku menghela napas dengan berat. Masih saja membuat sedikit sesak di dalam dada.


"Dokter, saya ... minta maaf terhadap Doker. Bukan saya tidak menghargai dengan bantuan yang Dokter berikan kepada saya, tapi saya rasa untuk saat ini tidak pantas untuk Dokter bicarakan itu. Status saya masih seorang istri."


"Berarti kalau Mbak Ayu sudah resmi pisah dengan suami, apakah Mbak Ayu akan menimbang-nimbang permintaan saya tadi?" tanya Dokter Wira, terdengar penuh harap.


"Saya tidak tau, tapi mohon untuk Dokter tidak berharap lebih dengan saya, karena rasanya saya lelah dengan sebuah hubungan. Saya ingin sendiri dulu," ucapku pada Dokter Wira. Terdengar helaan napas dari dokter itu yang terdengar berat.


"Maaf, Dokter. Saya mohon maaf sekali kepada Dokter. Saya ... emm ...." Aku terdiam merasa tidak enak hati kepada dokter ini apalagi tatapna matanya yang menatapku dengan penuh harap, tapi untuk menjalin sebuah hubungan kembali bagiku rasanya sulit setelah dikhianati oleh seorang Hilman Prayoga.


"Saya hanya berharap setelah pembicaraan kita ini Mbak Ayu tidak menjaga jarak dengan saya. Izinkan saya untuk menunggu kesiapan hati Mbak Ayu untuk bisa menerima kehadiran orang asing di dalam kehidupan Mbak dan juga Ibu Diah." Dokter Wira menatap ke arahku tanpa malu lagi, tepat menusuk di kedalaman mata ini, membuat aku menjadi salah tingkah.


***


Ibu telah sadar tersadar dari bius pasca operasinya saat pagi menjelang, setelah dokter menyatakan keadaan Ibu sudah membaik, Ibu dibawa ke ruang rawat inap.


Pembicaraanku dengan Dokter Wira semalam terhenti saat Yu Tarni terbangun dan terbengong melihat Dokter Wira yang berada di dekat kami. Kami memutuskan untuk menghentikan pembicaraan ini. Beruntung sekali Yu Tarni terbangun dan aku bisa keluar dari rasa ketidaknyamananku di dalam suasana itu.

__ADS_1


"Ibu sudah enakan?" tanyaku pelan pada Ibu, selang oksigen kini membantu pernapasan Ibu yang masih lemah. Selang infus juga terpasang di tangannya yang lain.


Ibu hanya tersenyum dan mengedipkan matanya sebagai jawaban. Yu Tarni masih ada di sini. Aku menyuruhnya pulang saja, tapi Yu Tarni menolak karena khawatir dengan kondisi Ibu. Yu Tarni bilang nanti saja siang atau sore setelah yakin Ibu baik-baik saja dia akan pulang ke rumah.


Aku senang Ibu sudah sadar dan bisa merespon apa yang aku tanyakan, meski hanya menjawab dengan senyum dan kedipan mata. Rambut Ibu di bagian tempat operasi dicukur beberapa centi dan kini terdapat perban disana.


Jujur aku sedih, tapi juga senang karena Ibu tidak akan merasakan sakit di kepalanya lagi.


Sore menjelang, Ibu kini sudah terlelap kembali akibat obat yang dokter berikan.


Yu tarni juga pamit pulang karena harus mengurusi anak dan suaminya di rumah, tak lupa aku mengucapkan banyak terima kasih pada Yu Tarni atas segla bantuan dan juga kepeduliannya pada kami.


"Mbak Ayu sudah makan?" Suara Dokter Wira terdengar setelah pintu ruangan ini tertutup.


Aku yang sedang memainkan hp kini menoleh ke arahnya. Dokter Wira mendekat dan memberikan bungkusan plastik hitam yang ada di tangannya.


"Buat, Mbak Ayu. Saya khawatir kalau Mbak Ayu sakit karena tidak makan," ucapnya dengan malu.


"Terima kasih. Tapi Dokter jangan merepotkan diri dengan membawa makanan ini untuk saya," ucapku tak enak hati.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Saya tidak keberatan. Lebih baik Mbak Ayu makan dulu setelah itu istirahat. Biar Ibu Diah akan saya pantau sementara Mbak Ayu makan dan mandi," ucapnya. Dia pergi ke arah tempat tidur Ibu untuk memeriksa tekanan darah Ibu.


__ADS_2