
Segera aku membalas pesan tersebut dengan kalimat aku bersedia datang kembali besok pagi ke RC.
Satu pesan lagi aku buka dari Arga. Aku terdiam melihat apa yang dia tuliskan di sana. Gara sakit dan rewel ingin bertemu denganku.
Gara sakit apa? Duh, kenapa jadi khawatir!
Baru saja aku akan membalas pesan dari Arga, belum sempat menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk pada layar dengan nama Arga di sana.
"Halo, Ayu?" tanya sebuah suara di seberang sana.
"Iya, ini aku. Gara sakit apa?" tanyaku balik. Suara tangisan keras dan terdengar nada membujuk seorang perempuan dari sana. Aku khawatir, membayangkan Gara dengan suara tangis yang hebat seperti itu.
"Gara demam tinggi. Dia tidak mau makan dan juga makan obat. Aku khawatir, tidak ada yang bisa bujuk dia termasuk Nira dan Oma," ucapnya dengan nada yang panik.
"Apa kamu bisa bantu aku? Dia nangis terus dan meminta aku menjemput kamu," ujarnya lagi. Suara di belakang Arga semakin terdengar keras, tangis Gara seraya menyebutkan nama Tante Ayu. Jeritannya dan sedu sedan membuat hati ini rasanya sakit sekali.
Aku bingung, melihat ke arah jam yang hampir di angka lima.
"Dari kapan sakit?"
"Sebenarnya dari semalam dia sudah mulai demam, sudah dibawa ke dokter juga. Tapi hari ini tidak ada yang bisa bujuk dia untuk makan dan makan obat. Demamnya semakin tinggi. Aku bingung, Yu. Bisakah kamu datang sebentar ke sini dan bantu aku tenangkan Gara?" tanya Arga dengan nada meminta.
"Aku mau Tante Ayuuu, huu ... Tante!" teriakan Gara disertai tangis membuat aku menjadi khawatir.
"Aku ... baiklah, aku akan kesana sebentar untuk bujuk Gara."
"Terima kasih, Yu. Aku akan suruh sopir buat jemput kamu."
"Jangan!" seruku dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Arga, terdengar bingung di nada suaranya.
Aku berpikir dengan cepat, tidak mungkin jika aku bicara Ibu tidak akan suka aku pergi ke rumahnya.
"Em ... itu, akan lebih cepat kalau aku datang sendiri saja. Kirimkan saja alamat rumah kamu, aku datang pakai motor," ucapku.
"Oh, oke. Terima kasih, ya."
__ADS_1
"Iya. Sama-sama."
"Ayu!" Panggilnya saat aku siap mematikan telepon.
"Iya? Apa?"
"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut. Aku akan berusaha menenangkan Gara sementara kamu di jalan," ucapnya. Dada ini berdebar mendengar dia mengatakan hal itu.
"Iya, baiklah. Aku akan hati-hati," jawabku
Telepon segera aku matikan sepihak. Mendengar tangis Gara yang kencang seperti itu membuat aku khawatir sekali. Terbayang senyuman anak itu yang lebar kini menjadi isak tangis kesakitan.
Segera aku mengganti baju. Celana jeans, dipadukan dengan atasan panjang hingga sebatas lutut. Kerudung yang sewarna dengan pakaian berwarna soft pink sudah terpasang rapi.
Aku mengambil jaket dan sebagainya, hp dan dompet, aku masukkan ke dalam tas.
Hampir sampai di pintu, aku terdiam. Bingung. Apa yang akan aku katakan sama Ibu? Tidak mungkin juga kalau aku bilang akan pergi ke rumah Arga. Ibu pasti tidak akan mengizinkan, tapi kalau aku tidak datang ... kasihan sekali Gara. Ya ampun, anak itu sudah membuat aku seperti ini!
Aku menarik napas, menghembuskannya dengan perlahan. Rasanya dada ini berdebar, untuk ke sekian kalinya aku memutuskan untuk berbohong.
"Kemana, Yu?" tanya Ibu saat aku keluar dari kamar. Ibu masih ada di dapur, sedang menghangatkan sayur untuk makan malam nanti.
"Teman yang mana?" tanya Ibu lagi.
"Itu ... teman waktu kuliah. Anaknya sakit, masuk ke rumah sakit. Ayu mau nengokin ke sana. Boleh, kan?" Hebat sekali. Menjadi seorang penulis sepertinya telah mengasah bakatku juga untuk berdusta.
"Sakit apa?"
"Kena ... demam berdarah."
"Tapi ini kan sudah sore, Yu. Hampir maghrib. Bukannya jam besuk rumah sakit juga sudah tutup?" tanya Ibu.
Aku terdiam, tidak memikirkan hal itu sebelumnya.
"Oh, itu ... nanti, dia akan jemput Ayu di depan dan bilang kalau Ayu pihak keluarga. Soalnya disini gak ada keluarga lain, Bu. Kasihan, pasti lagi bingung di sana. Gak ada yang bantu."
Batinku tidak terima, tapi sudah terlanjur berbohong juga. Maaf Ibu. Maafkan aku.
__ADS_1
"Ayu berangkat dulu ya, Bu. Takut kemalaman. Gak apa-apa, kan kalau Ayu tinggal sebentar? Apa perlu Ayu panggil Yu Tarni buat temani Ibu?" tanyaku.
Ibu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, sebentar Yu. Ini bawa makanan ya. Siapa tahu teman kamu gak ada makanan di sana. Makanan di rumah sakit kan mahal."
"Gak usah, Bu. Nanti Ayu belikan saja di luar."
"Ah, ini saja. Nasi dan sayur juga banyak di sini. Masih hangat juga. Kalau kamu beli, bisa saja antri, kan ini hampir waktu makan malam. Kasihan kalau menunggu lama di rumah sakit."
Dengan cepat Ibu mengambil rantang susun, mengisinya dengan nasi yang lumayan banyak hingga nasi di dalam mejikom itu habis. Lauk telur balado juga Ibu masukkan ke dalam wadah yang lain dan Ibu tata di atas wadah nasi tadi. Sayur oseng daun singkong juga masuk ke dalam wadah yang berbeda.
"Ibu nanti makan apa kalau semua dimasukin?" tanyaku bingung. Sampai segitunya Ibu peduli dengan teman khayalanku.
"Ibu gampang, nanti masak nasi lagi, bikin telor dadar saja. Lagian kan ini sayur juga banyak. Kamu juga sekalian makan di sana, ya. Ini cukup buat tiga orang," ujar Ibu. Dengan tergesa, Ibu melangkah ke dekatku dan menyerahkan rantang makanan itu.
Aku terharu dengan perlakuannya. Andai Ibu tahu, yang akan aku datangi adalah Arga bagaimana?
"Ya, sudah. Sana berangkat. Nanti keburu malam," ujar Ibu lagi.
"Terima kasih, Bu."
"Sampaikan salam Ibu sama teman kamu, ya. Semoga anaknya cepat sembuuh." Doa Ibu.
"Iya, Bu. Nanti Ayu sampaikan sama teman," jawabku.
Aku segera pergi, tak lupa sebelumnya mencium tangan Ibu dan mengucap salam. Terdengar doa selamat terucap untukku.
Dengan segera aku melaju meninggalkan rumah. Duh, berdosa sekali aku berbohong pada Ibu untuk pria yang bukan siapa-siapa.
Tidak! Aku meniatkan hati ini membantu Gara. Tidak melihat ayahnya. Hanya anak itu saja! Ya, hanya anak itu saja.
Setelah keluar dari gang, aku melihat hpku. Ada pesan dari Arga, dia memberikan alamat. Dengan segera aku mengetik alamat tersebut di sebuah aplikasi penunjuk jalan. Pernah saat itu sekali ke rumah Arga bersama dengan Risma, tapi waktu itu malam dan aku tidak tahu jalan ke sana.
Bismillah.
Ucapku dalam hati. Doa dan memohon ampunan aku panjatkan pada Sang Khalik, mohon ampunkan atas dosaku karena membohongi Ibu.
__ADS_1
Maafin Ayu, Bu. Ayu minta maaf!