Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
117. Dongeng Kelinci dan Kura-Kura


__ADS_3

Aku benar-benar terjebak, anak ini tidak juga mau tidur. Jika aku pulang, dia pasti akan menangis lagi. Duh, aku harus bagaimana ini? Besok aku juga harus pergi bekerja.


"Dak mau! Pokoknya Garrlla dak mau bobo!" rengek anak itu. Aku pasrah, beginilah rasanya jika punya anak kecil. Hangat dan juga manja. Apalagi Gara yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu dari semenjak dia lahir.


"Gara mau Tante cerita gak?" aku bertanya pada Gara. Kepalanya mengangguk dengan cepat. Bingung juga sebenarnya cerita apa yang akan aku ceritakan pada anak ini.


"Papa saja yang cerita, ya. Sepertinya Tante Ayu bingung," ucap Gara dengan tersenyum ke arahku. Dada ini terus saja berdebar melihat senyumnya yang sedekat itu.


"Dak mau! Kalau Papa yang cerrllita jadi gak benerrll. Masa Tante, Papa bilang kurrlla-kurrlla sama kelinci lomba larrllii, kelincinya kalah. Kan kelinci lompat sama kenceng larrllinya. Kok bisa kalah?" protes anak ini. Aku ingin tertawa sebenernya, tapi aku tahan karena tidak mau merusak apa yang ada di dalam pikiran anak ini.


"Oh, ya?" tanyaku. "Tante belum tau cerita kelinci sama kura-kura. Emang yang menang siapa?" tanyaku pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Harrllusnya kelinci, Tante! Papa sama buku cerrllita itu ngada-ngada. Ngaco! Coba Tante pikirrll, kurrlla-kurrlla kan jalannya lambat, kelinci kan lompat sama larrllinya kenceng. Gak mungkin dong, kelinci kalah?" tanya Gara dengan mata yang bulat menatapku.


"Gara memang di dalam cerita itu kelinci yang menang dan kura-kura kalah!" ucap Arga kesal, tidak mau kalah dengan sang putra.


"Ih, Papa. Coba deh, besok Papa beli kurrlla-kurrlla sama kelinci. Suruh merrlleka berrldua lomba larrlli, siapa yang akan menang!" ujar anak ini kepalanya sampai memutar untuk menatap dan juga melayangkan protes pada ayahnya.


"Iya, tapi kan memang di cerita ...."


"Iya, iya! Kamu menang Gara. Kelinci memang lebih cepat larinya!" ujar Arga dengan nada yang kesal.


"Nah, kan! Papa sih gimana? Lagian itu siapa juga yang bikin kelinci kalah lomba? Apa merrlleka bikin buku cerrllita itu gak dipikirrllin?" Ucapan anak itu membuat aku mengernyitkan keningku.

__ADS_1


Pintar sekali anak ini. Diusia lima tahun, dimana kebanyakan anak kecil yang lain masih percaya dengan buku dongeng dan buku cerita anak-anak, tapi Gara lebih memikirkan realita dan kenyataan.


"Iya, mungkin saja memang kelinci waktu itu sedang sakit kakinya, jadi dia berjalan dengan sangat pelan. Jadi, kura-kura deh yang menang lomba!" AKu berusaha untuk menyenangkan hati Gara. Anak itu terlihat memiringkan kepalanya, bola matanya menatap ke atas seakan sedang berpikir.


"Iya juga, ya. Bisa jadi!" ucap anak ini dengan nada seperti seorang dewasa. Sungguh aku ingin tertawa melihat wajahnya yang lucu seperti ini.


"Ya sudah, sekarang Gara bobo, ya. Kelinci sudah sembuh kakinya, besok bisa lari dengan cepat. Gara juga harus bobo, biar cepet sembuh, bisa lomba lari sama kelinci," ucapku membujuknya. Gara menganggukkan kepalanya, kembali mengeratkan pelukan di leherku. Aku menepuk pantat Gara dengan lembut.


"Gara sudah tidur?" tanya Arga dengan berbisik. Aku melihat Gara yang kini tengah menutup matanya, suara dengkuran halus dan teratur terdengar dari hidungnya yang lucu.


"Tidur sepertinya," jawabku.

__ADS_1


"Oh, kalau begitu aku keluar ya," ucap Arga lagi dengan berbisik. Dengan perlahan pria itu beringsut dan meninggalkan kami.


__ADS_2