
"Setuju apanya? Pak RT nanya kalau kamu sehat?" ucap Mamang yang duduk di sebelah Pak RT, tampak Mamang terlihat bingung menatap ku.
Eh?
Astaghfirullah ....
Aku semakin menundukkan kepala. Malu rasanya. Apa yang aku pikirkan tadi hingga aku mengatakan setuju? Aaaah, malu. Aku malu!
"Yang sudah lama sendiri, gak sabar buat bersama nih, yeeee." Sorak sorai suara laki-laki terdengar dari luar sana, tertawa terbahak. Aku semakin malu dan menyembunyikan wajah di belakang kepala Gara. Beruntung sekali tadi Gara duduk di pangkuanku hingga aku bisa menyembunyikan wajahku yang sepertinya sudah memerah, rasanya panas sekali.
"Haha, Neng Ayu mau segera kasih jawaban setuju aja nih, ini kan dari pihak Mas Arga juga belum meminta, loh!" ucap Pak RT. Kembali suara tawa terdengar dari yang lainnya.
Please, berikan aku sesuatu untuk menutupi wajahku! Atau, siapa pun, tolong hancurkan tembok di belakangku supaya aku bisa kabur dari sini!
"Ya, sudah. Jadi Mbak Ayu sudah gak sabar nih mau dihalalin Abang Arga?" tanya Pak RT, terdengar sedikit tawa menggoda dari mulutnya. Aku meremat jari tanganku di depan perut Gara, mencoba untuk menutupi rasa hatiku yang seperti ini. Duh, semoga mereka tidak melihat aku yang salah tingkah seperti ini.
"Kalau begitu, saya akan membuka kembali pertemuan ini. Pertama-tama saya mengucapkan, Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh."
"Waalaikum salam warahmatullahi wa barakatuh," jawab semua serempak.
"Alhamdulillah wa syukurilah, di malam yang berbahagia ini, atas izin dari Allah SWT, yang telah mengizinkan kita semua bertemu di satu kesempatan yang baik, mempertemukan dua keluarga dengan itikad yang baik pula. Saya, sebagai aparat desa yang telah dipercaya oleh keluarga Almarhum Bapak Darmawan, diminta hadir di sini semata-mata untuk menyertai acara di malam ini. Acara apa ini Mas Arga?" tanya Pak RT pada Arga. Ku lihat dari sudut mata Arga tersentak, tangannya kembali saling meremat jari yang lainnya.
"A-acara pe-pernikahan!" jawab Arga cepat. Aku menunduk semakin dalam, mendengar ucapan Arga barusan membuat rasa di dalam hati menjadi berbunga-bunga.
__ADS_1
"Lamaran, Mas Arga. Acara pernikahannya belum," tegur Pak RT. Gelak tawa keras terdengar dari luar sana. Aku menunduk, merasakan semakin panas di wajah ini sampai ke telinga.
"Eh, hehe." Arga tertawa kecil.
"Duda Karatan udah gak tahan, euy!" teriak suara dari luar, ditambah suara gelak tawa yang semakin keras pula.
"Kalau mau menikah mah, tunggu dulu atuh sebentar, minta jawaban dari Mbak Ayu dulu. Apa Mbak Ayu mau atau enggak sama Mas Arga?" Pak RT mulai jahil kembali.
Aku semakin mengeratkan pelukanku pada Gara, hingga anak itu sedikit bergerak dan menepuk tanganku. Sadar jika aku memeluknya erat karena gugup, aku melonggarkan pelukanku pada Gara. Sepertinya anak ini tidak nyaman dengan perlakuanku barusan.
"Silakan kepada pihak dari keluarga Bapak Yoga Ramayudha untuk meminta dengan tulus kepada keluarga Mbak Ayu, terutama kepada Ibunda dari Mbak Ayu dan juga Bapak Sudrajat selaku adik dari Almarhum Bapak Darmawan, meminta dengan baik untuk Mas Arga terhadap Adinda Ayu untuk tujuan mulia. Waktu dan tempat saya persilakan." Pak RT memberikan kesempatan untuk keluarga Arga berbicara.
Kalian tahu? Jantungku berdetak dengan sangat kencang sekali, sehingga rasanya hampir menembus dada dan ingin melompat keluar dari tubuh ini.
"Terima kasih kepada Pak RT dan juga anggota keluarga dari Nak Ayu yang sudah menyambut kedatangan kami dengan sangat baik. Alhamdulillah malam hari ini, kami keluarga besar dari Ramayudha bisa hadir di sini tentunya dengan niatan yang sangat baik. Untuk mengantarkan keponakan kami, putra kami, dan saudara kami yang bernama Eka Arga Ramayudha yang kita ketahui maksud dan tujuannya datang kemari, yaitu tidak lain tidak bukan untuk meminta dengan baik Ananda Ayu kepada Ibunda dan juga Bapak selaku keluarga Ayu, untuk menjadikan Ayu menjadi pendamping Arga dan juga menjadi Ibu untuk Gara di kemudian hari. Semoga Allah SWT memberikan restu dan memberikan segala hal yang baik untuk kita, aamiin."
"Aamiin," jawab yang lain serentak.
Aku pun ikut mengamini doa yang diberikan oleh pria itu dengan ucapan pelan. Mataku terasa panas, rasa haru yang tiba-tiba datang menyeruak, membuat air mata tidak bisa aku tahan lagi.
"Untuk hal ini, kami keluarga dari Almarhum Bapak Darmawan hanya bisa menyerahkan semua keputusan kembali kepada Ayu. Ayu yang sekiranya sudah mengetahui apa yang baik dan juga benar untuk kehidupannya ke depan nanti." Aku menahan napas mendengar ucapan Mamang. Gugup sekali.
"Ayu, bagaimana? Apakah kamu mau menerima Arga untuk jadi suami kamu?" tanya Mamang. Aku diam, masih tidak menyangka jika akan ada pertanyaan seperti ini dua kali di dalam hidupku. Jika dulu Bapak yang bertanya seperti itu, tapi kali ini Mamang yang bertanya.
__ADS_1
"Mamang mau tanya, jangan sampai kamu menjawab dan setuju karena paksaan, yang mana nantinya akan membuat kamu tidak bahagia."
Aku tersentak, dan menggelengkan kepalaku dengan cepat.
Paman melanjutkan ucapannya kembali meyakinkan kami, meminangku untuk Arga. Aku dan yang lain mendengarkan dengan khidmat. Gara yang biasanya sangat aktif kali ini diam dan menjadi anak yang sangat baik di pangkuanku.
"Bagaimana Nak Ayu? Apakah Nak Ayu bersedia untuk menerima lamaran kami untuk Arga?" tanya Paman selanjutnya.
Suasana hening terasa sekali di ruangan ini, tidak ada yang menyela atau berbicara seperti tadi. Rasanya tenggorokanku sesak, paru-paru kehilangan oksigennya. Saking bahagia, aku tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Nak Ayu?" tanya Paman sekali lagi. Aku mengangkat kepala, semua orang menatap padaku, menunggu jawaban yang akan aku keluarkan.
Aku mengalihkan tatapan pada Ibu, mata dan hidung Ibu sudah merah, suara isakan tertahan terdengar pelan. Ibu hanya tersenyum, menganggukkan kepala dengan pelan. Bibi dan Mamang juga tersenyum dari tempatnya.
Ku lirik Arga yang duduk tidak jauh dariku, pria itu menundukkan kepala, masih memainkan jari jemarinya di atas pangkuan. Satu bulir keringat besar aku lihat di samping wajah Arga, hampir menetes. Bibirnya dia lipat ke dalam, pertanda jika pria itu juga sama gugupnya denganku.
"Bismillahirrahmanirrahim." Aku menarik napas dengan panjang dan dalam, mencoba menetralkan perasaan yang kini sedang tidak karuan di dalam dada. Suaraku bergetar. Aku menutup mata, semoga saja jawaban yang aku berikan adalah tepat dan bisa membawaku ke dalam kehidupan penuh kebahagiaan dan Jannah-Nya.
"Dengan izin Allah SWT. Saya ... menerima lamaran Arga."
"Alhamdulillah." Serentak semua orang mengucap Hamdalah. Aku membuka mata sedikit, melihat beberapa orang sedang mengusap wajahnya dan beberapa di antaranya menyusut air mata. Pun dengan aku, tidak bisa lagi menahan diri ini untuk mengeluarkan tangis.
...***...
__ADS_1
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ¤§ðŸ¤§ðŸ¤§