
Arga berbaring di samping Gara. Dia membaringkan dirinya dengan sangat nyaman di sana, sambil memeluk Gara dari belakang dan menepuk paha anak itu dengan lembut.
"Ayo, Ma. Lanjutkan ceritanya biar Gara cepat tidur," ucap Arga dengan pelan padaku.
"Ceritanya juga belum selesai, Papa. Masa aku tidur," ucap anak itu dengan nada protes.
"Iya, pokoknya Mama cepat selesaikan ceritanya, Papa juga mau dengerin," ucap Arga lagi.
Aku membaca kelanjutan cerita yang belum selesai. Keduanya mendengarkan dengan baik. Akan tetapi, tangan Arga yang menjadi alas kepala Gara tidak berhenti memainkan ujung jilbabku, sehingga aku merasa tidak nyaman dengan kelakuannya.
Arga menganggukkan kepalanya sambil membuka mulutnya, berbicara tanpa suara. Aku paham gerakan mulutnya yang sangat jelas sekali. Aku tidak menggubris ajakannya itu, tetap terus membacakan cerita sampai selesai dan akhirnya anak itu tidur.
"Sudah selesai, yuk tidur." Ajak ku pada Gara, selimut tebal aku naikkan hingga ke dadanya. Dia memeluk leherku dengan erat, begitu juga dengan Arga yang semakin mendekatkan diri sehingga Gara terjepit di tengah, mereka saling berebut memeluk leherku.
"Ih, Papa. Awas sempit!" ucap Gara sambil menggerakkan tubuhnya supaya Arga menjauh.
"Apa sih? Mau tidur ya tidur saja. Papa kan juga mau tidur peluk Mama," ucap Arga kepada putranya.
"Ih nggak bisa! Mama cuma boleh aku yang peluk!" seru anak itu setengah berteriak.
"Hei, mama istri papa, ya?"
"Mama Gara!" seru Gara dengan kesal. dia mencoba menendang lembut kaki Arga di belakangnya.
__ADS_1
Melihat pertengkaran ayah dan anak membuat aku kesal juga, pasalnya membuat kerudung ini menjadi tertarik oleh mereka.
"Hei,, kalian ini hentikan!" seruku kepada keduanya. seketika kedua orang itu berhenti bertengkar dan menatapku.
"Kalau kalian tidak berhenti bertengkar Mama akan pergi saja. biar gerak tidur sama papa, Mama akan tidur sendiri di kamar tamu!" ucapku dengan mengancam. anak dan ayah itu menjadi diam dan patuh, tidak lagi berebut.
"Tidur!" ucapku dengan nada dingin kepada keduanya. Mereka diam dan kemudian menutup kedua matanya bersamaan denganpesarga yang memeluk gara dari belakang.
Aku masih kesal dengan tingkah mereka. hampir seperti itu setiap malam. Aku jadi bahan rebutan dua ayah dan anak ini.
"Gara berdoa dulu sebelum tidur," ucapku kepada anak itu. Dia membuka matanya lalu menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Dia mulai membaca doa sebelum tidur.
"Bismillahirohmanirohim. Bismi .... Papa juga doa dong!" seru Gara kepada ayahnya. Arga membuka mata dan mengikuti tingkah putra kesayangannya ini. Bersikap berdoa.
Dengan sangat lancar Gara membacakan doa tersebut. Setelah membaca doa keduanya kembali menutup mata. Tidak sampai lima5
"Ayo kita kembali ke kamar biar aku jadi pahlawan!" bisik laki-laki itu sambil tersenyum.
Sudah aku duga jika akan seperti ini akhirnya. Ya mau apa lagi, suamiku ini sering sekali meminta jatah.
"Nggak boleh sering-sering, dokter juga kan bilang kita harus bagaimana," ucapku kepadanya. Laki-laki itu memanyunkan bibirnya, sepertinya dia kecewa. Dia mengusap area bawahnya yang kini sudah berada dalam tegangan yang tinggi.
"Aduh kasihan sekali kamu nak, harus puasa Malam ini," ucapnya pada anaconda miliknya.
__ADS_1
Aku bangkit dari kasur menarik selimut Gara semakin ke atas, lalu pergi dari kamar itu.
"Eh mama tunggu! Kenapa tinggalin papa?" suara derap langkahnya terdengar cepat sampai dia menyusulku.
"Nggak ditunggu juga sekarang jalan bareng," ucapku sambil meliriknya.
"Hehe, ya lagian kan ingin berdua saja gitu. Yuk ke kamar," ucapnya sambil menggandeng tanganku ke lantai bawah.
Kami sudah berbaring di atas tempat tidur, saling berhadapan dengan tangan dia yang berada di pinggangku sedangkan tanganku sedang bermain-main di dadanya. Menyenangkan sekali jika mengelus dan mengetuk dadanya dengan ujung jari telunjuk, menggambar abstrak di sana.
"Kalau nggak mau ngasih jangan pancing aku lah," ucapnya dengan nada terdengar sedikit kesal. Aku tertawa kecil.
"Aku juga mau sih. Nggak papa kali ya minggu ini nambah sekali lagi?" tanyaku dengan jahil.
Dia juga tertawa kecil. "Aku akan pelan-pelan," bisiknya di telinga.
Aku bergerak berputar memunggunginya.
"Loh kok?"
"Memangnya kenapa? Sesekali variasi baru lah," ucapku kepadanya.
Dia tertawa kecil. "Dasar kamu sudah mulai nakal ya."
__ADS_1
Aku juga sama tertawa, perlahan menempatkan tangannya di pinggangku dan membiarkan dia untuk mengekspos semua hak miliknya.
Setelah melakukan beberapa pemanasan kecil akhirnya sampailah kami pada waktu yang sangat berkualitas. Olahraga malam ketiga di minggu ini.