Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
44. Video yang Tengah Viral


__ADS_3

Diana menyimpan kartu itu ke tanganku dengan paksa."Tapi kamu nanti gimana?" tanyaku kepadanya.


"Aku gampang. Masih ada kartu lain kalau buat makan dan kost sehari-hari," jawab Diana seraya mengeluarkan kartu lain dari dalam tas dan memperlihatkanya kepadaku. "Lagian kan, gajiku disana juga lumayan besar. Aku mau beli mobil sendiri taun depan!" serunya. Mobil yang dia pakai hari ini memanglah mobil dari perusahaan.


"Aamiin. Terima kasih ya, Di. Aku gak tau kalau gak ada kamu ...." Aku kembali terisak dengan apa yang sudah dilakukan oleh sahabatku ini.


"Nanti aku akan ganti kalau aku udah kerja, ya." Diana mengangguk seraya berkata menyuruhku untuk santai saja.


***


"Yu, kamu dari mana saja?" tanya Mas Hilman saat aku baru saja masuk ke dalam rumah. Aku segera menenteng barang bawaanku ke arah dapur tanpa menjawab pertanyaannya.


"Ayu!" Mas Hilman berkata dengan nada marah seraya menarik tanganku dengan cukup kasar.


"Kamu dari mana saja semalaman gak pulang? Aku sampai gak kerja karena khawatir sama kamu! Kamu dari mana? Sama siapa semalam?"


"Bukan urusan kamu! Lagipula kenapa juga kamu gak kerja? Kenapa juga harus bolos kerja karena aku? Bukannya aku ini istri yang gak baik buat kamu? Istri yang tidak bisa menjaga kelakuannya? Istri yang kurang hebat dalam urusan ranjang?!" jawabku dengan cuek lalu menghempaskan tangan dia dariku.


"Ayu, maafkan aku soal yang kemarin itu. Aku gak sengaja kasar sama kamu," ucapnya dengan nada bersalah.


Aku menoleh ke arahnya.


"Gak sengaja?" tanyaku dengan tidak percaya. "Gak sengaja kamu bilang, tapi ini terasa sangat nyata, Mas!" Aku menunjuk luka lebam yang dia buat kemarin di pipiku. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi ini, tapi aku segera menepisnya dengan kasar.


"Ayu!" panggilnya saat aku meninggalkan dia di ruang dapur. Aku masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu cukup keras lalu menguncinya. Terdengar ketukan di pintu itu beberapa kali dan juga panggilannya terhadapku, tapi aku tidak peduli.


Suara telepon terdengar cukup nyaring dari dalam tas, segera aku mengangkat panggilan itu. Ini dari paman di kampung. Semoga saja ada kabar baik yang dia sampaikan padaku.


Aku mengangkat panggilan itu dan benar saja Paman membicarakan soal penjualan lahan kebun itu. Ada seseorang yang membelinya dengan harga yang standar menurut Paman, tapi itu cukup lumayan karena lebih tinggi dari penawaran yang lainnya selama beberapa hari ini.


"Lalu bagaimana menurut Mamang?" tanyaku pada Paman. Mamang adalah panggilanku untuk paman dari adik Ayahku ini. Ayah dan Ibu adalah dua orang dengan suku yang berbeda.

__ADS_1


"Ya kalau menurut Mamang ... mungkin bisa saja kalau nanti ada yang menawarnya dengan harga yang lebih tinggi lagi, tapi mengingat kondisi Ibu kamu yang seperti itu, sebaiknya kamu gak menunda apa yang seharusnya, Yu. Kasihan Ibu kamu," ucap Mamang lagi.


"Ayu memang gak akan menahan tanah kebun itu lama-lama, Mang. Sedapatnya aja, yang penting cukup buat Ibu berobat, bisa bikin Ibu sembuh," ucapku padanya.


"Kalau begitu Mamang lepaskan saja? Mamang akan kasih kabar sama orangnya kalau begitu. Dia bilang kalau deal tanah itu akan dijual, lusa dia akan datang. Atau apa kamu sendiri yang mau melepas tanah itu?" tanya Mamang lagi.


"Enggak, Mang. Sama Mamang saja, lah. Toh sama saja. Ayu juga disini lagi cari kerjaan, Mang." tolakku. Aku atau perantara Mamang, tidak masalah bagiku.


"Maafkan kami ya, Yu. Kami gak bisa banyak membantu Ibu kamu dengan sakitnya ini," ucap Mamang dengan menghela napas yang cukup kasar. "Kami juga bukan orang berada," desahnya.


"Gak apa-apa, Mang. Ayu sudah dibantu juga Ayu seneng sekali. Terima kasih, dan maaf kalau tanah itu harus lepas ke tangan orang lain," ucapku kepada Mamang. Sedih memang, tapi mau bagaimana lagi. Ibu bercerita jika tanah kebun itu berada di antara tanah-tanah milik saudara almarhum Bapak. Nenek dan Kakek inginnya dulu jika keturunan-keturunan mereka membangun rumah disana dan hidup dalam lingkupan keluarga.


"Kami ngerti, kok. Gak usah merasa bersalah seperti itu. Gak ada satu orang pun yang ingin sakit," ucap Mamang membuat aku sedih dan juga terharu. Yang dikatakan Mamang benar sekali, siapa yang mau dalam keadaan sakit? Sakit fisik atau sakit batin? Tidak ada yang mau, termasuk aku!


Pembicaraan dengan Mamang selesai. Aku cukup senang dengan harga yang disebutkan tadi oleh Mamang, aku minta Mamang mengambil lima juta sedangkan sisanya ditransfer ke rekeningku, tapi Mamang menolak. Mamang bilang tidak ingin mengambil hakku sedikitpun.


Soal urusan surat-surat juga ada di rumah Kakek, Mamang yang akan membantu mengurusi semuanya. Memang, harga tanah itu tidak terlalu mahal, mengingat letaknya yang ada di desa cukup jauh dari jalan raya. Aku pun tidak tahu, hanya mendengar dari cerita Ibu dan juga Mamang di mana letak tanah kebun itu.


Semoga saja setelah ini ada jalan yang lain yang bisa aku raih untuk keluar dari rasa sesak ini.


*


"Halo, Di. Ada apa?" tanyaku kepada Diana.


"Yu, kamu lihat medsos coba!" seru Diana tanpa menjawab pertanyaanku.


"Heh? Ngapain?" tanyaku padanya dengan bingung.


"Udah lihat aja! Jangan banyak bicara!" ucapnya dengan berseru.


"Males, ah. Masih ngantuk," ucapku padanya lalu kemudian kembali menyamankan diriku, masih tetap dengan hp yang tertempel di pipi.

__ADS_1


"Ya ampun, Ayu. Ini penting! Cepat buka medsos!" teriaknya dengan berisik.


"Ada apa sih?" tanyaku masih bertahan dengan posisiku.


"Haih kamu ini ...." ucapnya dengan geram lalu mematikan teleponnya. Aku menyimpan hp itu ke samping kepalaku dan kembali memejamkan mata ini yang sebenarnya memang tidak ingin terbuka sedari tadi.


Tring ....


Suara notif terdengar, setelah itu terdengar kembali suara dering telepon.


"Ya ampun, si Diana ini ada apa sih?" Aku menggeram dengan kesal. Ingin kembali tidur, tapi orang ini pasti akan marah jika aku tidak mengangkat teleponnya.


"Ada apa lagi?" tanyaku padanya dengan nada malas.


"Lihat pesan yang aku kirim!" serunya lalu kembali mematikan telepon saat aku belum sempat bicara.


Meski malas, kali ini akau menuruti apa yang dia minta. Aku membuka pesan yang dia kirimkan kepadaku. Seketika aku melonjak kaget dengan apa yang aku lihat sekarang ini, terbangun seperti seorang pasien yang sadar setelah diberi kejut jantung oleh dokter. Pesan dari Diana yang berbentuk sebuah link browser telah ku klik baru saja.


Sebuah video sedang aku saksikan. Video yang memperlihatkan aku dan Mas Hilman, serta Hana yang sedang bertengkar di foodcourt kemarin sore.


Kulihat di bawah video itu, jempol dan juga komentar bertebaran dengan beragam isinya. Aku menutup mulut tak percaya membaca beberapa komentar yang ada disana. Video yang tesebar ini ternyata telah dibagikan sejak semalam.


"Ya ampun!" Aku berseru sambil menatapnya tidak percaya. Aku mencari sendiri video itu di laman lain. Ingin memastikan jika itu benar atau tidak.


Aku menunduk lesu melihat video itu beredar di media sosial. Medsos memang tempatnya untuk sesuatu yang viral seperti itu. Semakin viral maka akan semakin melejit dengan cepat.


"Ya ampun!" Aku menghela napas dengan berat. Menggigit bibirku dengan cukup keras.


Jika video ini tersebar, maka tentu bisa jadi semua yang aku sembunyikan selama ini bisa terbongkar. Tentang pernikahan Mas Hilman untuk yang kedua, tentang aku yang tidak mendapat keadilan. Bagaimana ini? Semua orang lambat laun pasti akan tahu semua ini. Keluargaku, Ibu.


*****

__ADS_1


Mampirin juga yuk kesini 🤗



__ADS_2