
Arga kembali menggombal, membuat aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya malu dan ingin menutupi wajahku dengan sesuatu agar tidak terlihat wajahku yang terasa panas dan mungkin sudah memerah.
Dia hanya terkekeh melihat aku yang seperti itu.
"Kamu tuh ya ...."
"Hehe, kenapa? Aku beneran loh, Yu. Pengen banget ajak kamu ke KUA sekarang ini. Aku sudah lihat gaun pengantin dan juga kebaya, aku juga bayangkan kamu pakai baju itu di hari bahagia kita nanti. Ah, Yu. Rasanya aku nyesel sudah sebar undangan yang banyak di hari nanti," ucap Arga dengan helaan napas yang terdengar kasar.
"Rasanya aku tidak rela kecantikan kamu dilihat oleh banyak orang, Yu," ujarnya lagi.
Kali ini aku yang terkekeh mendengar dia berkata seperti itu. "Kamu yang bikin acara, kenapa kamu juga yang menyesal?" tanyaku, ingin tertawa sebenarnya, tapi aku tahan saja.
Arga mengerucutkan bibirnya, pandangannya kini terfokus pada jalanan yang semakin ramai di sore hari ini.
"Papa yang mau pesta besar, kalau aku sih pengennya kita di KUA saja sudah cukup, biar gak ada orang lain yang mengagumi kecantikan kamu," ucap Arga lagi. Terdengar nada suara kesal dan tidak terima.
"Ya sudah, kalau aku sih terserah kamu mau bagaimana. Kan kamu sendiri yang pengen urusin pesta. Aku sih pengennya yang sederhana saja," ungkapku. Terbayang bagaimana nanti di pesta, pesta yang dibuat oleh orang-orang kaya yang sering aku lihat di drama korea. Apakah akan sama seperti di film itu?
"Aku gak bisa lawan pengennya Papa kalau sudah begini. Papa sangat senang dengan hubungan kita, terutama karena Gara juga sudah cocok sama kamu. Tahu lah bagaimana seorang kakek manjakan cucunya. Makanya untuk menyambut kamu ke dalam keluarga kami, Papa ingin semua orang tahu dengan kamu. Tahu dengan siapa menantu dari keluarga Ramayudha. Istriku kelak." Arga menoleh padaku sambil tersenyum sangat manis sekali. Aku pun sama tersenyum juga, dalam hati ada rasa bahagia, tapi juga takut. Dengan begini aku tidak bisa berkehendak sesuka hatiku sendiri dan harus bisa menjaga nama baik Keluarga Ramayudha.
Kami tidak pergi ke mana-mana setelah itu, karena Arga ada urusan lain dan aku juga ada pekerjaan lain di rumah. Diam dan tidak ada kegiatan membuat aku kini fokus dengan tulisanku kembali.
"Yakin gak mau makan dulu?" tanya Arga sedikit menoleh padaku.
__ADS_1
"Gak usah lah, lain kali saja. Kamu ada pekerjaan, kan?"
Dia mengangguk. "Tapi aku bisa undurkan pekerjaanku nanti, kok."
"Jangan, pekerjaan tidak baik jika ditunda-tunda. Lebih baik kamu selesaikan pekerjaan kamu dulu."
"Ya sudah lah. Aku menurut saja dengan calon istriku ini."
Mobil sudah dekat dengan rumah, dia sengaja membawa mobil ini dengan kecepatan yang pelan sampai aku tidak sabar ingin menggantikan dia yang menyetir.
"Aku telepon nanti setelah pekerjaanku selesai, ya." Arga berucap sebelum aku turun dari mobil. Aku mengangguk dan berkata iya sebagai jawabannya.
Mobil Arga telah pergi, aku masuk ke dalam rumah dan melihat Ibu sedang menonton Tv.
"Sudah. Ayu ke kamar dulu ya, Bu." pamitku. Tanpa mendengar jawaban Ibu aku segera masuk ke dalam kamar.
Sempat tadi aku memfoto diriku sendiri di cermin dengan menggunakan dua pakaian yang tadi aku coba. Tersenyum puas dengan apa yang aku lihat di sana. Aku memang terlihat berbeda dengan pakaian itu, apakah karena pakaian itu mahal harganya? Aku sudah cek di laman IG milik Mbak Yeni, dan juga bertanya kepada Desi, harga satu pakaian dari sana memang tidak main-main. Menurut aku yang tidak beruang, harga gaun itu cukup mencengangkan.
Tring!
Suara notif terdengar membuat aku sedikit membulatkan mata saat membaca isi di dalam pesan tersebut. Ada satu chat dari seorang editor yang mengabarkan jika naskah yang aku kirimkan ke tempat sebelah berlogo 'F' lolos kurasi naskah. Tidak aku sangka karena menjadi pengangguran, aku berubah menjadi pengkhayal berat.
[Selamat sore, saya Lina βnama samaran ya π€β dari 'F'. Saya ingin mengabarkan bahwa naskah dengan judul: I Hate U, But I Love U telah lolos tinjauan editor dan akan kami segera kirimkan email untuk tandatangannya. Harap siapkan data diri yang valid.] Pesan di chat itu dengan emoticon hati dan berwarna merah.
__ADS_1
Dadaku berdebar dengan kencang, tidak menyangka jika cerita yang aku kirimkan ke sana akhirnya ada kabar juga setelah beberapa minggu yang lalu aku kirim lewat email. Tadinya aku hanya iseng mengirimkan naskahku ke sana. Mencoba tempat baru yang katanya sulit untuk banyak orang jamah. Alhamdulillah, rezeki untukku karena aku bisa mendapatkan kesempatan ini.
Aku sampai berjingkrak senang di dalam kamar karena mendapatkan kesempatan baik ini.
Gegas aku menyiapkan KTP ku setelah membalas chat dari editor tersebut. Tak lama email datang dengan bertuliskan nama perusahaan saat aku membukanya, berisi tentang perjanjian tanda tangan kontrak eksklusif yang aku terima.
Setelah mendapatkan email tersebut, cerita yang aku kirimkan pada editor aku salin ke web dengan alamat tempat baru tersebut.
Entah apa yang aku pikirkan waktu itu, membuat cerita seorang gadis yang menolong kakak dari sahabatnya ketika mabuk. Dia baru saja pulang dari tempat kerjanya di malam hari dan menemukan jika kakak dari sahabatnya tengah mabuk berat. Hingga menyebabkan niatan baik mengantar pria itu pulang malah berakhir dengan kejadian tidak terduga. Kehormatan yang terenggut membuat gadis itu benci akan sosok yang baru saja dia tolong. Gadis itu pergi dan membenci kakak dari sahabatnya dengan segenap jiwa. Akan tetapi, kakak dari sahabatnya itu tidak pernah tahu jika sosok wanita yang dia g*uli semalam adalah orang yang berbeda dengan orang yang dia temui di kamarnya saat pagi hari, sehingga menyebabkan pria tersebut bertanggung jawab kepada orang yang salah.
Mana dia sangka, jika setelah kejadian tersebut dia mengandung, hingga suatu saat gadis tersebut harus kembali ke kota asalnya untuk menemui laki-laki yang telah menodainya karena keadaan putranya yang sakit parah.
Ya ampun, membayangkan anak dengan sakit parah membuat aku sedikit sesak. Ini hanya sebuah cerita, aku hanya ingin membawakan cerita dengan tema yang lain, bukan hanya tema poligami yang aku buat selama ini.
Ku cari file dengan judul tersebut, dan segera menyalinnya. Menambah beberapa bab yang sudah terpikirkan sejak lama, sehingga terputus karena panggilan Ibu dari luar.
"Mandi, Yu. sudah mau Magrib!" panggil Ibu dari luar pintu kamarku. Aku yang sedang tanggung dengan pekerjaanku segera berhenti dan mengambil handuk untuk mandi.
***
Maaf, Othor ngacapruk, sedang berusaha keras ini βοΈππ.
Yuk, gass!!
__ADS_1
jangan lupa like dan komen di setiap bab ya π